Sesar Citarik atau Patahan Citarik (bahasa Inggris:Citarik Faultcode: en is deprecated ) adalah sesar aktif mendatar yang melintasi provinsi Jawa Barat, melewati Palabuhanratu, Kabupaten Bogor, dan Kota Bekasi. Sesar ini adalah retakan panjang di kerak bumi tempat dua lempeng tektonik bergerak melewati satu sama lain. Sesar tersebut telah aktif sejak masa Miosen Tengah, sekitar 15 juta tahun yang lalu.[1]
Sesar sepanjang 250 kilometer ini melewati dan berada dekat kawasan padat penduduk seperti wilayah metropolitan Jabodetabek yang berpenduduk lebih dari 30 juta jiwa.[2] Gempa bumi terkuat yang mungkin terjadi di sepanjang Sesar Citarik adalah gempa bumi Jawa tahun 1834, yang terjadi pada tanggal 11 Oktober 1834. Gempa ini memiliki magnitudo momen 7,0 dan mencapai intensitas maksimum IX ("sangat merusak") menurut skala EMS. Gempa ini menyebabkan kerusakan yang luas. Meskipun beberapa sumber meyakini gempa bumi tersebut disebabkan oleh patahan lain di dekatnya, yaitu Sesar Baribis.[3]
Karakteristik
Sesar ini merupakan sesar bertipe Left-Lateral Strike-Slip dan mempunyai panjang sekitar 250 km, namun sesar ini tersegmentasi dan terbagi menjadi tiga segmen yaitu segmen selatan, tengah, dan utara yang masing-masing mempunyai karakteristik dan potensi seismik yang berbeda.[4][5]Gunung Salak yang masih aktif terletak di segmen tengah sesar ini, di mana aktivitas sesar ini diduga mempengaruhi pembentukan gunung ini.[6]
Sejarah gempa bumi
Sesar ini tidak terlalu aktif secara seismik, namun sesar ini telah menyebabkan beberapa kali terjadinya gempa bumi merusak, seperti pada bulan Maret 2020 dan Desember 2023, dengan kekuatan sedang. Sesar ini juga kemungkinan menyebabkan gempa besar berkekuatan Mw 7,0 pada tahun 1833 di Kabupaten Sukabumi.[7]
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa Sesar Citarik telah memicu gempa signifikan di daerah Sukabumi dan Bogor. Beberapa kejadian gempa di dua wilayah itu mencapai kekuatan magnitudo 5, diantaranya pada 14 Juni 1900 (magnitudo >5.5), 9 Februari 1975 (magnitudo 5.6),[8] 12 Juli 2000 (magnitudo 5.4),[9] dan 10 Maret 2020 (magnitudo 5.0).[10] Sebelumnya, pada 11 Oktober 1834, Gempa bumi besar melanda Kota Bogor dengan skala intensitas VII MMI (rusak berat) hingga IX MMI (rusak sangat berat), sehingga memicu banyak rumah dan bangunan tembok di Batavia dan Istana Bogor rusak. Gempa ini diduga dipicu oleh aktivitas Sesar Citarik. Sementara itu, Gempa bumi Bogor dengan magnitudo 4,1 pada 10 April 2025 pukul 22:16 WIB, merupakan jenis gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) dengan episenter terletak di Kota Bogor pada koordinat 6.62 LS dan 106.8 BT dengan kedalaman hiposenter 5 kilometer yang dipicu aktivitas sesar aktif dengan mekanisme sumber sesar geser (strike-slip), episentrum gempa tersebut terletak pada jalur Sesar Citarik.[11]