Faisol Riza (lahir 1 Januari 1973) adalah seorang politikus dan aktivis. Ia sempat menjadi korban penculikan aktivis pada masa Orde Baru. Sejak 21 Oktober 2024, ia menjabat sebagai Wakil Menteri Perindustrian pada Kabinet Merah Putih.
Selama kuliah pada tingkat sarjana, Riza menjabat sebagai Ketua Solidaritas Mahasiswa Untuk Demokrasi (SMID) yang merupakan salah satu organisasi Partai Rakyat Demokratik (PRD).[5] Pada masa penculikan aktivis 1997–1998, Riza menjadi salah satu korban penculikan selepas menghadiri Konferensi Pers Komite Nasional Perjuangan Demokrasi di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia pada tanggal 12 Maret 1998 bersama dengan Herman Hendrawan dan Raharja Waluya Jati.[6] Selepas menghadiri acara, ia dan Jati melarikan diri ke Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo karena dikejar oleh penculi, tetapi pelarian ini gagal sehingga mereka terpojok di lantai dua rumah sakit. Mereka dipukul dan ditendang sehingga badannya penuh lebam dan kacamatanya pecah.[7] Selain itu, ia juga mengalami penyiksaan di atas balok es dan disiksa dengan sundutan rokok. Pada akhirnya, ia dibebaskan karena latar belakangnya yang pernah menjalankan pendidikan di Nadhlatul Ulama.[8] Penyekapan berlangsung selama 2-3 hari sebelum akhirnya ia dipulangkan ke Probolinggo dan Jati dipulangkan ke Semarang, meskipun Hendrawan dinyatakan hilang. Pertanyaan interogasi yang diajukan berkisar aktivitas mereka di SMID dan PRD serta hubungan mereka dengan Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, dan Sofyan Wanandi. Selain mereka bertiga, mereka juga disekap bersamaan dengan Pius Lustrilanang, Desmond J Mahesa, Haryanto Taslam, Yani Afri, dan Sonny.[9]
Pada awalnya, ia menjabat sebagai ketua PRD sebelum bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa.[12] Ia bergabung dengan PKB pada tahun 2008 sebagai Wakil Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB pada tahun 2008-2009. Selanjutnya, ia menjadi wakil sekretaris jendral DPW PKB DKI Jakarta sejak tahun 2009. Pada tahun 2009, ia menjabat sebagai staf ahli Kementrian Tenaga Kerja Dan Transmigrasi hingga tahun 2014. Lalu, ia menjabat sebagai Staf khusus Kementrian Pemuda dan Olah Raga dari tahun 2014 hingga 2017.[3]