Dalam Buddhisme, kemanunggalan (Pali: ekaggatā; Sanskrit: ekāgratā, एकाग्रता) juga dikenal sebagai keterpusatan pikiran, pemusatan pikiran,[1][2]penyatuan batin, dan ketenangan batin, adalah suatu faktor mental yang juga merupakan suatu faktor jhāna.
Dalam tradisi Theravāda, yang menafsirkan kembali jhāna sebagai konsentrasi terpusat, faktor mental ini dipandang sebagai komponen utama dalam semua tingkatan jhāna serta inti dari konsentrasi (samādhi). Pemusatan pikiran berfungsi menekan sementara nafsu indria, suatu syarat penting bagi pencapaian meditatif. Ekaggatā menjalankan peran untuk mengarahkan perhatian secara mendalam pada objek meditasi—ciri khas dari jhāna—namun tidak dapat bekerja sendiri. Ia memerlukan keterlibatan bersama empat faktor jhāna lainnya yang masing-masing memiliki fungsi khusus: vitakka, vicāra, pīti, and sukha.
Dalam ajaran Buddhis, ekaggatā diidentifikasi sebagai:
↑Henepola Gunaratana, The Path of Serenity and Insight: An Explanation of the Buddhist Jhānas, p.87
↑Roderick S. Bucknell (1993), Reinterpreting the Jhanas. p.375
Sumber
Bhikkhu Bodhi (2012), A Comprehensive Manual of Abhidhamma: The Abhidhammattha Sangaha (Vipassana Meditation and the Buddha's Teachings), Independent Publishers Group Kindle Edition
Nina van Gorkom (2010), Cetasikas, Zolag //links broken
Shankman, Richard (2008), The Experience of Samadhi, Shambhala Publications