Sejarah
Pasar Wonokromo pada tahun 1920 merupakan pasar Krempyeng, yang bercirikan komoditas jual beli yang cepat habis seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan jajanan.[1] Pada tahun 1955, Pasar Wonokromo berdiri dengan total luas 9000m2, dan dirancang oleh pegawai Pemerintah Kotamadya Surabaya bernama Subiono dengan gaya arsitektur Indis.[1] Pasar ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1955.[2]
Tahun 2002, pasar ini terbakar, menyebabkan pedagang direlokasi di lahan kosong milik PT Pakuwon Jati di Jalan Ahmad Yani. Semenjak insiden tersebut, pasar ini mulai dipugar dan direnovasi dengan ide konsep pasar tradisional berpadu dengan trade center. Tahun 2005, Gedung DTC Wonokromo dengan total 3.899 stand ini diresmikan dan mulai beroperasi normal. Pedagang pasar tradisional ditempatkan di lantai dasar bawah (LDB), sedangkan lantai dasar atas (LDA) dikhususkan untuk trade center.[3][4][5][6]
Fasilitas
Barang, makanan ataupun jasa yang dijual di Gedung DTC Wonokromo dikelompokkan berdasarkan tingkat dan tempatnya. Lantai dasar bawah (LDB) Lantai dasar dikhususkan untuk pasar tradisional (tempat relokasi pedagang pasar), dimana di lantai ini terdapat stand sayuran, buah-buahan dan kebutuhan perabot rumah tangga. lantai dasar atas (LDA) digunakan untuk trade center dengan tampilan dan fasilitas lebih modern. Mall DTC menyediakan berbagai stand untuk berbagai jenis kebutuhan seperti fashion, elektronik, kebutuhan rumah tangga, kebutuhan perabot rumah hingga area bermain anak. Selain itu terdapat beragam jenis food court yang menjajakan beragam jenis masakan dan minuman ringan rasa-cita nusantara maupun mancanegara.[7]