Selepas dari wilayah Sumedang, aliran Ci Manuk bergabung dengan aliran Ci Lutung yang berasal dari kawasan lereng barat Taman Nasional Gunung Ciremai dan Talaga, Kabupaten Majalengka. Alirannya berlanjut menuju dataran rendah pesisir Indramayu melintasi Jatibarang dan Lohbener.[1]
Total panjang aliran Ci Manuk sekitar 180 kilometer,[butuh rujukan] hingga bermuara di perairan Laut Jawa di pesisir utara Indramayu.[1]
Ci Manuk pada bagian hilir cukup lebar sehingga dapat dilayari oleh kapal yang berukuran relatif besar. Pada abad ke-16, muara Ci Manuk adalah pelabuhan yang ramai dan menjadi salah satu pelabuhan milik Kerajaan Sunda, sebagaimana dilaporkan oleh Tome Pires sebagai "Chemano".[butuh rujukan]
Aliran Ci Manuk dimanfaatkan untuk pertanian dan perikanan, baik secara tradisional dengan cara memancing, atau menjala. Ci Manuk saat ini dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian di Kabupaten Majalengka, Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, yang merupakan salah satu daerah penghasil padi utama. Untuk mengendalikan derasnya aliran sungai ini, kini telah dibangun Waduk Jatigede di Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.
Bencana hidrologi
Pada tanggal 21 September 2016, terjadi banjir bandang akibat luapan Ci Manuk di Kabupaten Garut, sehingga menyebabkan banyak rumah rusak maupun korban jiwa di sedikitnya 7 kecamatan.[12]
Geografi
Sungai ini mengalir di wilayah barat pulau Jawa yang beriklim muson tropis (kode: Am menurut klasifikasi iklim Köppen-Geiger).[13] Suhu rata-rata setahun sekitar 25°C. Bulan terpanas adalah Oktober, dengan suhu rata-rata 28°C, and terdingin Februari, sekitar 21°C.[14] Curah hujan rata-rata tahunan adalah 2465mm. Bulan dengan curah hujan tertinggi adalah Januari, dengan rata-rata 461mm, dan yang terendah September, rata-rata 6mm.[15]