Pertemuan sungai Cikeas dan sungai Cileungsi di hulu Kali Bekasi dalam peta tahun 1901
Di bagian tengah Kali Bekasi terdapat Bendung Bekasi yang bersilangan dengan Saluran Induk Tarum Barat atau dikenal sebagai Kali Malang yang berfungsi untuk menjaga elevasi muka air Kali Bekasi agar dapat mengalirkan air baku ke Jakarta dan irigasi di hilir bendung.[8] Sejalan dengan perkembangan pemukiman di wilayah Jabodetabek, terjadi perubahan penggunaan lahan pada DAS Bekasi yang semula dapat menyerap air hujan, berubah menjadi aliran permukaan. Kondisi ini diperberat dengan menurunnya kapasitas alir dan tampung Kali Bekasi sebagai akibat terjadinya sedimentasi akibat erosi pada DAS bagian hulu [9]
DAS Bekasi diapit oleh DAS Citarum disebelah timur dari hulu sampai ke zona hilirnya. Dibagian selatan berbatasan dengan hulu DAS Ciliwung hingga zona tengah DAS Bekasi disebelah barat. Dari tengah berbatasan dengan DAS Sunter, kemudian DAS Cakung hingga ke zona hilirnya.
Manajemen Sumber Daya Air (SDA)
Peta wilayah sungai (WS) Ciliwung-Cisadane dimana Kali Bekasi termasuk didalamnya bersama 14 DAS lainnya.[2]Foto kali Bekasi yang pernah dipublikasikan sebelum tahun 1880
Secara struktural pengendalian Bendung Prisdo berada dalam kewenangan BBWSCC. Pada saat limpasan di bendungan telah mencapai titik yang ditentukan maka petugas operator akan melakukan pengaturan laju aliran air dengan membuka/menutup pintu bendung. Pengaturan operasional buka tutup pintu ini memerlukan standar/petunjuk teknis tertentu sehingga saat buka/tutup pintu bendung akan memberikan dampak yang positif. Ketika pintu bendung dibuka tertalu dini, akan berdampak antara lain:[11]
Dapat terjadi abrasi di sepanjang daerah aliran sungai;
Banjir di wilayah hilir kabupaten Bekasi;
Terganggunya pasokan air baku PT. PAM Jaya dan PT. PDAM Jasa Tirta;
Kali Bekasi dalam sejarah banjir kuno Kerajaan Tarumanegara
Dalam manuskrip Prasasati Tatar Sunda Kuno dinyatakan bahwa Kali Candrabhagha merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanegara, kerajaan tertua di Nusantara kedua yang berkuasa pada abad 5 sampai abad 7 Masehi. Dalam manuskripprasasti tersebut. Kali Candrabhagha digali bertujuan untuk mengendalikan bencana banjir pada masa itu. Raja Purnawarman yang berkuasa tahun 317-356 tahun Saka (395-434 Masehi) itu memerintahkan untuk menggali kali tersebut.[12]
“Dulu Kali Candrabhagha di gali Purnawarman, Maharaja yang mulia yang mempunyai lengan kencang dan kuat. Setelah sampai ke istana, kali di alirkan ke laut. Istana Kerajaan Baginda Termashur. Kemudian baginda Parnuwarman menitahkan lagi menggali sebuah kali (sungai). Kali ini sangat indah dan jernih. Kali ini di sebut kali Gomati. Kali ini mengalir melalui kediaman nenekanda Raja Purnawarman. Kali Gomati 6.122 tumbak panjangnya, pekerjaan ini di mulai pada hari baik, tanggal 8 Paro Petang Bulan Phalguna. Kemudian disudahi pada hari tanggal ke 13 Paro Terang Bulan Caitra. Jadi hanya 21 hari saja untuk itu diadakan selamatan yang dilaksanakan para Brahmana. Untuk selamatan itu, Raja Purnawarman menghadiahkan 1.000 ekor sapi,”
Wilayah Sunda Kuno yang mencakup wilayah Banten, Jakarta, Bogor, Bekasi, Karawang dan Purbalingga di Jawa Tengah. Pusat ibu kota Kerajaan Tarumanegara berada di sebelah Utara Bekasi tepatnya berada di wilayah Babelan dan Tarumajaya, kabupaten Bekasi. Hal tersebut diperkuat oleh banyaknya artefak yang ditemukan pada beberapa situs disana.[12]
Kemudian kata Candrabhaga dibagi menjadi dua, yakni Candra yang berarti “bulan” dan Bhaga berarti “bahagia”. Kata Chandra dalam bahasa Sanskerta sama dengan kata Sasi dalam bahasa Jawa kuno, sehingga nama Candrabhaga identik dengan kata Sasibhaga, yang apabila diterjemahkan secara terbalik menjadi Bhagasasi. Atas dasar itulah, Poerbatjaraka menafsirkan Kali Candrabhaga identik dengan Kali Bekasi.[14][15]
Tragedi Kali Bekasi
Tragedi 19 Oktober 1945: Kali Bekasi menjadi lokasi pembantaian 90 tentara Jepang oleh rakyat Bekasi. Tentara Jepang tersebut tidak jadi dipulangkan ke Jepang karena kereta yang mereka tumpangi dihentikan di tepi kali dan mereka dibunuh, meskipun pihak Jepang ingin dipulangkan ke daerahnya melalui lapangan terbang Kalijati Subang. Sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan rakyat Bekasi, sebuah monumen didirikan di tepi Kali Bekasi untuk mengenang peristiwa tersebut.[16]