DAS Grindulu didominasi penguasaan lahan tegalan oleh penduduk setempat telah berdampak pada perkembangan kondisi tanah permukaan lahan DAS Grindulu yaitu 61,29% merupakan tanah dengan solum sangat tipis dan dijumpai singkapan batuan induk litosol. Kondisi demikian mengakibatkan mudah terkikisnya lapisan top soil yang berdampak pada tingginya tingkat sedimentasi yang terjadi di DAS Grindulu. Hasil perhitungan erosi secara kasar dengan memperhatikan karakteristik tanah, pola penggunaan lahan dan pengelolaan lahan serta kondisi topografi menunjukkan bahwa tingkat erosi di DAS Gridulu sangat tinggi setiap tahun paling tidak akan terangkut tanah kurang lebih 60 ton ha/tahun (maks yang dapat ditolerir 12,5 ton/ha/th). Di samping aliran permukaan, di Kecamatan Pringkuku dan Donorojo terdapat aliran bawah permukaan (sungai bawah tanah) yang mengalir melalui sistem loronng gua atau saluran bawah tanah yang rumit, dan berkembang pada batu gamping fasies terumbu, berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan debit dari sumber sungai bawah tanah ini mencapai 176,70 l/d.[4]
Geografi
Sungai Grindulu mengalir di wilayah tengah selatan pulau Jawa yang beriklim muson tropis. Suhu rata-rata setahun sekitar 23°C. Bulan terpanas adalah Oktober, dengan suhu rata-rata 26°C, and terdingin April, sekitar 20°C.[5] Curah hujan rata-rata tahunan adalah 2703mm. Bulan dengan curah hujan tertinggi adalah Januari, dengan rata-rata 477mm, dan yang terendah Agustus, rata-rata 29mm.[6]
Area DAS Sungai Grindulu banyak menyimpan kekayaan alam seperti batu kali, pasir dan bermacam-macam jenis ikan. Penduduk di sepanjang sungai memanfaatkan untuk sumberdaya pertanian dan perikanan secara tradisional dengan cara memancing atau menjala. Besarnya debit air Sungai Grindulu juga dimanfaatkan untuk pengairan tradisional. Untuk memaksimalkan manfaat air di DAS Grindulu, sedang dibangun Bendungan Waduk Tukul di Sungai Asemgondok, Desa Karanggede, Kecamatan Arjosari. Bendungan direncanakan akan memiliki kapasitas sebesar 8.68 m³ dan diharapkan dapat mengairi lahan seluas 600 ha, menyediakan pasokan air baku sebesar 0,35 m³/, dan menghasilkan listrik sebesar 0,64 MW.[4]