Konsep Zhonghua minzu awalnya ditolak di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tetapi bangkit kembali setelah kematianMao Zedong yang mengelompokkan Tionghoa Han beserta 55 suku bangsa lainnya sebagai sebuah keluarga Tionghoa yang besar.[1][4] Sejak akhir tahun 1980an, perubahan penting dalam kebijakan terkait kebangsaan dan minoritas di RRT adalah penggantian istilah dari "Rakyat Tiongkok" (中国人民code: zh is deprecated atau Zhōngguó rénmín) menjadi "Bangsa Tionghoa" (Zhōnghuá mínzú), mencirikan perubahan dari negara rakyat komunis multi-bangsa Tiongkok menjadi identitas nasional Tionghoa yang tunggal.[5]
Pengadopsian konsep Zhonghua minzu bisa menciptakan interpretasi ulang terhadap sejarah Tiongkok. Contohnya, dinasti Qing yang didirikan oleh Manchu awalnya dikarakteristikan sebagai "dinasti penaklukan" atau rezim "non-Han". Setelah pengadopsian ideologi Zhonghua minzu, yang memasukkan Manchu sebagai anggota Zhonghua minzu, dinasti-dinasti yang dibentuk oleh suku minoritas tidak lagi dipandang berbeda.
Konsep Zhonghua minzu juga memberikan penilaian yang berbeda terhadap peran banyak tokoh pahlawan tradisional. Pahlawan seperti Yue Fei dan Zheng Chenggong, yang awalnya sering dianggap bertarung untuk Tiongkok melawan serangan barbar, menjadi dikarakteristikan ulang oleh beberapa pihak sebagai minzu yingxiong (pahlawan etnis) yang bukan bertarung melawan barbar tetapi melawan anggota Zhonghua minzu lainnya (masing-masing melawan Jurchen dan Manchu).[8] Di kesempatan yang berbeda, Tiongkok mengubah pandangan terhadap Genghis Khan, sebagai "pahlawan nasional" karena telah menjadi anggota Zhonghua minzu.[9]
Penghormatan terhadap leluhur legendaris bangsa Tionghoa, Kaisar Kuning, semakin meningkat, dan di beberapa wilayah seperti Uyghur dan Tibet, terdapat individu yang merasa tidak senang karena disatukan di bawah konsep "Zhonghua minzu".[10]
Selain itu, perlawanan terhadap nasionalisme Tiongkok juga muncul dari para pendukung kemerdekaan Taiwan dan kalangan lokalis Hong Kong.[11] Sebagai tanggapan, muncul Nasionalisme Hong Kong, dan Nasionalisme Taiwan yang dipelopori oleh sejarawan Taiwan Su Beng juga mulai mendapatkan dukungan. Teori bahwa orang Hong Kong merupakan kelompok etnis yang berbeda, dikenal sebagai teori etnis Hong Kong, juga dipengaruhi oleh gagasan-gagasan ini.[12]
Konsep bangsa Tionghoa juga telah dibahas dalam kaitannya dengan sengketa wilayah, berdasarkan gagasan bahwa "wilayah yang dihuni oleh bangsa Tionghoa seharusnya diperintah oleh satu negara".[13] Gagasan-gagasan ini disebut sebagai nasionalisme Tiongkok Raya, dan di Hong Kong, para pendukung ideologi tersebut sering diejek dengan sebutan Zhōnghuá jiāo[zh].[14] Istilah "Tiongkok Raya" sendiri berasal dari gagasan tradisional bahwa Tiongkok secara historis merupakan suatu peradaban yang bersatu.
Chan Ho-tin menyatakan bahwa Beijing menegaskan bahwa Republik Rakyat Tiongkok adalah sebuah negara-bangsa dengan identitas nasional yang bersatu yang disebut “Zhonghua Minzu” atau “ras Tionghoa”.[15][16] Konsep ini, yang digunakan untuk melayani tujuan politik dan imperialistik, mencakup berbagai kelompok seperti orang Tibet, Mongolia, Shanghai, Taiwan, penduduk Hong Kong, serta diaspora Tionghoa di seluruh dunia. Menurut posisi resmi Beijing, semua kelompok ini adalah bagian dari “ras Zhonghua” dan karenanya harus setia kepada pemerintah pusat.[15][16] Meskipun hal ini dianggap tidak masuk akal oleh banyak akademisi, ini tetap menjadi garis resmi partai. Andy Chan mengkritik nasionalisme ini sebagai topeng untuk imperialisme. Dia menyoroti pelanggaran Beijing terhadap Perjanjian Tujuh Belas Poin dengan Tibet, janji-janji yang tidak ditepati saat bergabung dengan WTO, serta pelanggaran terhadap Deklarasi Bersama Sino-Britania yang telah mengurangi kebebasan di Hong Kong.[15][16]
↑Zhou Wenjiu; Zhang Jingpeng (2007). "关于"中华民族是一个"学术论辩的考察"[On the academic argument that "the Chinese nation is one"]. Minzu Yanjiu. 3: 20–29. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 October 2019. Diakses tanggal 29 October 2019– via d.old.wanfangdata.com.cn/Periodical/mzyj200703003.
↑Bendera ini sekarang dipandang sebagai "bendera panglima perang", terkadang dengan konotasi negatif, dan tidak lagi dianggap sebagai simbol Zhonghua minzu.