Chiangisme berlawanan dengan feodalisme, komunisme, dan imperialisme sesambil mempromosikan gagasan identitas nasional Tiongkok terpadu. Pemikiran tersebut awalnya nampak sosialis tetapi menjadi makin bersekutu dengan kapitalisme otoritarian setelah 1955. Keberadaan pengaruh fasis pada Chiang diperdebatkan di kalangan cendekiawan. Chiangisme banyak ditinggalkan di Tiongkok Daratan oleh Kampanye Penekanan Kontrarevolusioner komunis dan dimulainya permulaan demokratisasi di Taiwan.[4]
Catatan
↑Pada 1920an dan awal 1930an, Chiang dan para pendukungnya dipandang sebagai 'sayap tengah'[1][2] di antara pendukung Hu Hanmin 'sayap kanan' dan pendukung Wang Jingwei 'sayap kiri', tetapi Partai Komunis Tiongkok (atau Maoisme) kemudian timbul sebagai pesaing utama KMT, membuat Chiangisme menjadi ideologi 'sayap kanan'.
Referensi
↑Donald A. Jordan (March 31, 2019). The Northern Expedition: China's National Revolution of 1926–1928. Humanities Open Books program, a joint initiative of the National Endowment for the Humanities and the Andrew W. Mellon Foundation. hlm.50.