Stasiun Cimekar (CMK)[b] adalah stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Cimincrang, Gedebage, Kota Bandung. Stasiun yang terletak pada ketinggian +668 m (sebelumnya +670 m) ini termasuk dalam Daerah Operasi II Bandung. Meskipun dinamai "Cimekar," stasiun ini tidak terletak di Desa Cimekar, tetapi terletak di sebelah barat Desa Cimekar itu sendiri. Stasiun Cimekar ini merupakan stasiun kereta api yang letaknya paling timur di Kota Bandung.
Bangunan lama Stasiun Cimekar yang digunakan sejak 2000 hingga 2023
Dalam catatan yang terdapat di Buku Jarak versi 2004, stasiun ini dahulu merupakan pengembangan dari sebuah perhentian yang diberi nama Ciendog (CED).[1] Keberadaan Stopplaats Ciendog telah diketahui sejak masa kolonial Belanda. Dalam surat kabar De Preanger-Bode edisi 28 April 1899, terdapat pemberitahuan bahwa beberapa perjalanan kereta api akan berhenti di Ciendog pada 1 Mei 1899. Saat itu, Ciendog berada di kilometer 169+075, sejauh 1,2 kilometer dari bangunan stasiun saat ini dan 945 meter dari bangunan lama Stasiun Cimekar.[3]
Stasiun Cimekar sendiri diresmikan pada 21 Maret 2000 oleh Direktur Utama PT Kereta Api (Persero) pada saat itu, Edie Haryoto. Lokasi lama Stasiun Cimekar berada pada kilometer 168+130, dan secara administratif terletak di Desa Cibiru Hilir, Cileunyi, Kabupaten Bandung.[7]
Sehubungan dengan rencana pengembangan Stasiun Cimekar, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Gubernur Ridwan Kamil sempat mengusulkan agar lokasi Stasiun Cimekar digeser ke arah Masjid al-Jabbar serta diintegrasikan dengan jalur kereta kecepatan tinggi Jakarta–Bandung. Rencana ini dilakukan untuk menyongsong pembangunan yang berorientasi transit (transit-oriented development/TOD) di Bandung Raya.[8][9] Juga untuk mendukung TOD tersebut, sebagai bagian dari proyek jalur ganda segmen Gedebage—Haurpugur, jalur yang melintasi stasiun ini ditingkatkan menjadi jalur ganda.[10]
Semenjak bangunan stasiun ini dipindahkan ke sebelah barat yang lokasi geografisnya berada di Kota Bandung, setelah pengoperasian jalur ganda Gedebage—Haurpugur, Stasiun Cimekar yang baru tidak memiliki kendali wesel atau persinyalan. Pemberangkatan kereta api di stasiun ini hanya dilakukan oleh kondektur setelah sinyal keluar dinyatakan aman.[11]
Bangunan dan tata letak
Peron Stasiun Cimekar
Pada awalnya, Stasiun Cimekar memiliki dua jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus. Pada saat pembangunan jalur ganda, dibangun satu jalur baru di selatan jalur yang lama. Jalur baru tersebut dijadikan jalur 2 yang baru sebagai sepur lurus arah Cicalengka, sedangkan jalur 2 yang lama diubah menjadi jalur 1 yang baru sebagai sepur lurus arah Bandung. Jalur 1 lama dinonaktifkan dan persinyalan stasiun lama digantikan dengan persinyalan blok intermediet. Sebagai akibatnya, sudah tidak ada lagi persilangan maupun penyusulan antarkereta api di Stasiun Cimekar.
Setelah jalur ganda segmen Gedebage–Haurpugur resmi dioperasikan pada pertengahan Desember 2022,[butuh rujukan] awalnya penumpang tetap dilayani di bangunan lama. Namun mulai tanggal 21 Maret 2023, pelayanan penumpang dipindahkan ke bangunan baru stasiun.
Perjalanan menuju Padalarang hanya pada pagi hari, sedangkan sebaliknya pada malam hari.
Insiden
Dilansir dari Pikiran Rakyat, surat kabar De Indische mengabarkan anjlokan kereta api Soerabaja-expres di Cimekar, saat itu masih bernama Ciendog, pada 29 Maret 1924.[13] Lokomotif beserta rangkaian yang saat itu melaju dengan kecepatan hampir 75km/jam terguling ke sawah. Kepolisian dan Staatsspoorwegen meyakini anjlokan disebabkan oleh sabotase pihak yang tidak bertanggung jawab dengan melepas mur dan baut di rel. Pihak berwenang juga mengungkapkan bahwa tidak ada korban luka maupun tewas dalam kecelakaan ini.[14]
↑Kendati blok huruf nama di atas halte bertuliskan Stasiun Cimekar, Cimekar belum memenuhi kriteria Stasiun Operasi yang tercantum dalam Peraturan Dinas 18 PT KAI.
Referensi
12Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero).