Stasiun ini merupakan stasiun terminus bagi perjalanan Commuter Line Bandung Raya dan juga salah satu stasiun pemberhentian bagi perjalanan Commuter Line Garut. Selain itu, stasiun ini kini menjadi stasiun paling ujung timur jalur ganda di kawasan Bandung Raya.
Sejarah
Potret bersama orang Eropa dan pribumi di Stasiun Cicalengka, sekitar tahun 1923
Stasiun Cicalengka dibuka bersamaan dengan selesainya tahap 5 pembangunan jalur kereta api Priangan di tanggal 10 September 1884, dengan pesta peresmian dan pengoperasian kereta luar biasa yang mengangkut Residen Priangan beserta jajarannya.[3] Setelah mencapai Cicalengka, perusahaan kereta api milik pemerintah, Staatsspoorwegen (SS), meneruskan pekerjaan ke arah timur menuju Garut. Awalnya merupakan halte (stasiun menengah atau kecil), hingga pada tanggal 1 Maret 1903, ditingkatkan kelasnya menjadi 3e klasse station (stasiun besar kelas 3).[4]
Pada rentang tahun 1930-an, pemerintah kolonial Hindia Belanda berencana membangun jalur percabangan menuju Stasiun Majalaya untuk menjadi jalur kereta api lingkar Priangan. Pembangunan tersebut sempat terlaksana, tetapi krisis moneter ditambah pendudukan Jepang di Indonesia membuat pembangunannya tertunda dan mangkrak. Saat ini sisa bekas jalur percabangan tersebut hanya menyisakan railbed saja di beberapa titik.
Bangunan dan tata letak
Bangunan, jalur, dan peron Stasiun Cicalengka dilihat dari perlintasan sebidang di sisi timur
Pada awalnya, stasiun ini memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus.[5] Terkait proyek jalur ganda lintas Bandung Raya, stasiun ini beserta diagram tata letak jalurnya dirombak besar-besaran sehingga jumlah jalur di stasiun ini bertambah menjadi lima dengan jalur 3 dan 4 merupakan sepur lurus. Sistem persinyalan di stasiun ini sudah diubah dari mekanik menjadi elektrik sejak Agustus 2024.[6] Pengaktifan jalur ganda pada petak jalan Cicalengka–Haurpugur kemudian menyusul pada 31 Desember 2024. Petak jalan ini merupakan petak jalan terakhir di lintas Padalarang–Cicalengka yang ditingkatkan menjadi jalur ganda.[7]
Bangunan lama stasiun ini sudah dibongkar karena terdampak penataan ulang tata letak jalur dan peron sehingga digantikan dengan bangunan baru bertingkat dua. Bangunan baru tersebut dilengkapi dengan skybridge seperti bangunan stasiun-stasiun di lintas Gedebage–Haurpugur. Operasional stasiun ini sudah dipindah ke bangunan baru pada 31 Mei 2024, meskipun bangunan baru masih belum sepenuhnya selesai dibangun.[8] Pada akhir Agustus 2024 bangunan lama stasiun dibongkar untuk perluasan peron. Perombakan tersebut rampung sepenuhnya pada April 2025.
Memiliki jalur akses di ujung timur menuju sepur badug dan meja putar
Stasiun ini mempunyai turntable dan corong air yang sudah tidak berfungsi lagi. Pada tahun 2018, turntable stasiun dipugar dan dicat sehingga dapat digunakan kembali, tetapi pada praktiknya, turntable ini masih sangat jarang digunakan.
Layanan kereta api
Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025 per 1 Februari 2025.[9]
Perjalanan menuju Padalarang hanya pada pagi hari, sedangkan sebaliknya pada malam hari.
Insiden
Pada 19 Agustus 2013, kaca jendela ruang tunggu, ruang PPKA, dan kaca jendela ruang kepala stasiun pecah berantakan karena diamuk massa yang tidak mendapatkan tiket KA Lokal Bandung Raya mengingat jumlah tiketnya dibatasi. Akibatnya, KA tersebut terlambat sekitar 30 menit dari jadwalnya, 05.15. Polisi memeriksa lima orang saksi yang terkait dalam perusakan tersebut.[10]
Meski setahun sebelumnya diprotes oleh komunitas taman bacaan masyarakat Lingkar Literasi Cicalengka, bangunan lama stasiun ini tetap dibongkar pada akhir Agustus 2024. Bangunan lama tersebut memiliki nilai historis karena pernah dijejaki Presiden pertama RI Soekarno saat ditangkap dan ditahan di Penjara Banceuy tahun 1929;[12]Ernest Douwes Dekker (Setiabudi) pada tahun 1918; serta Wolff Schoemaker saat akan mengadakan ceramah di Pondok Pesantren Fathul Khoer. Selain itu, sejarawan Bandung Atep Kurnia mengatakan bahwa Djuanda Kartawidjaja rutin menggunakan kereta api dari stasiun ini untuk bersekolah di HBS Bandung.[13] Bahkan, komunitas Lingkar Literasi Cicalengka pun menyelenggarakan petisi besar-besaran untuk menolak pembongkaran tersebut dengan mencatatkan 2.000 lebih tanda tangan di Change.org, kepada BTP Bandung, KAI Daop II, dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung, untuk menjadikan bangunan lama stasiun tersebut sebagai objek diduga cagar budaya (ODCB).[14][15] Bongkaran bangunan lama stasiun ini pada akhirnya direlokasi dan dibangun ulang 200 m di sebelah timur bangunan baru stasiun, di atas sebuah lahan kosong yang terletak di dekat tikungan arah Nagreg.[16]