Masa jabatan
Ballén dilantik sebagai Presiden pada 10 Agustus 1992.[1] Pada usia 71, Ballén adalah presiden tertua yang menjabat.[9]
Selama menjadi presiden, ia aktif melakukan reformasi struktural untuk memodernisasi negara Ekuador dan mengurangi pengeluaran birokrasi yang boros.[15] Selama masa kepresidenannya, Ballén juga menurunkan inflasi Ekuador dari 67% menjadi 24%.[16] Hasilnya adalah penurunan yang signifikan dari defisit yang biasa dilakukan pemerintah dan sektor swasta yang terus berkembang.[16] Durán-Ballén juga membawa Ekuador menjadi anggota WTO, dengan negosiasi yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Patricio Izurieta Mora-Bowen.[9] Masuknya Ekuador ke WTO memiliki dampak yang signifikan terhadap lembaga-lembaga politik negara dan meningkatkan daya saing ekspor.[9]
Selama masa kepresidenannya, terdapat kritikan terhadap kebijakan ekonomi yang dilancarkan Ballén.[17] Banyak analis setuju bahwa semua tindakan ini dilakukan di bawah rencana ekonominya, yang berarti awal dari kebangkrutan hampir mutlak terjadi, hal tersebut diprediksi akan tiba masanya pada tahun 1998 karena utang luar negeri yang mencapai 16,4 miliar dolar.[16] Ia juga menghadapi kritik keras ketika ia menyingkirkan Komite Kredit Eksternal pada tahun 1995 dan dituduh menyalahgunakan serta tunduk kepada hutang publik.[18] Dalam menanggapi tuduhan korupsi terhadap dirinya, Ballén menyerukan referendum kedua untuk memungkinkan reformasi sesuai modernisasi negara, yang ternyata sebagian besar ditolak.[15]
Ballén menghadapi tantangan dari Bank Dunia, ketika mencoba untuk mengamankan modernisasi ekonomi Ekuador.[19] Bank Dunia bersikeras bahwa privatisasi pelayanan publik mengakibatkan pengurangan pekerjaan, penghapusan dugaan subsidi dan profitabilitas pengelolaan negara Ekuador.[19]
Pada tahun 1995, Ballén terbukti menjadi salah satu pemimpin Ekuador yang paling sukses pada masa perang, hal itu terjadi ketika kepemimpinannya bertekad untuk menyatukan negara yang terbagi di bawah tema Ni un paso atrás yang berarti "tidak satu langkah pun untuk mundur" selama terjadinya Perang Cenepa dengan Peru.[14] Tahun-tahun terakhirnya sebagai presiden, ia berfokus pada resolusi Perang Cenepa dengan Presiden Peru Alberto Fujimori.[20] Perang tersebut berakhir dengan kedua negara menarik pasukan pada tanggal 28 Desember 1995, beberapa bulan sebelum Ballén meninggalkan kantor.[21]
Pada 10 Agustus 1996, Ballén digantikan oleh Abdalá Bucaram. Setelah meninggalkan kantor, Ballén dipuji oleh opini publik, kebijakan ekonomi dan keterlibatannya dalam Perang Cenepa, menyebabkan masa kepresidenannya mendapat ulasan yang beragam dari para sarjana.[11]