Konferensi Yalta (bahasa Rusia:Ялтинская конференцияcode: ru is deprecated , translit.Yaltinskaya konferentsiya), yang diselenggarakan pada 4–11 Februari 1945, adalah pertemuan para kepala pemerintahan Amerika Serikat, Britania Raya, dan Uni Soviet pada masa Perang Dunia II untuk membahas reorganisasi Jerman dan Eropa pascaperang. Ketiga negara diwakili oleh Presiden Franklin D. Roosevelt, Perdana Menteri Winston Churchill, dan Sekretaris Jenderal Josef Stalin. Konferensi ini diadakan di dekat Yalta, Krimea, Uni Soviet, di dalam Istana Livadia, Yusupov, dan Vorontsov.[1]
Tujuan dari konferensi ini adalah untuk membentuk perdamaian pascaperang yang tidak hanya mewakili tatanan keamanan kolektif, tetapi juga rencana untuk memberikan hak menentukan nasib sendiri kepada bangsa-bangsa Eropa yang telah merdeka. Konferensi yang terutama ditujukan untuk membahas pemulihan negara-negara di Eropa yang dilanda perang dalam beberapa tahun, dengan pecahnya Perang Dingin di benua tersebut, menjadi subjek kontroversi yang sengit.
Yalta adalah konferensi kedua dari tiga konferensi besar pada masa perang di antara Tiga Besar. Konferensi ini didahului oleh Konferensi Teheran pada November 1943 dan diikuti oleh Konferensi Potsdam pada Juli 1945. Konferensi ini juga didahului oleh sebuah konferensi di Moskow pada Oktober 1944, yang tidak dihadiri oleh Roosevelt, di mana Churchill dan Stalin mencapai kesepakatan informal mengenai lingkup pengaruh Barat dan Soviet di Eropa.[2]
Latar Belakang
Pada awal 1945, Sekutu telah mendekati kemenangan dalam Perang Dunia II. Tentara Uni Soviet telah mendesak pasukan Jerman mundur ke Eropa Timur, sementara pasukan Amerika dan Inggris telah berhasil mendarat di Prancis dan mendesak Jerman dari barat. Ketiga pemimpin Sekutu sepakat untuk bertemu guna merencanakan strategi terakhir melawan Jerman serta membahas masa depan Eropa setelah perang.
Lokasi konferensi dipilih di Yalta, wilayah yang berada di bawah kendali Uni Soviet, karena kondisi kesehatan Roosevelt dan kebutuhan Stalin untuk tetap dekat dengan Moskow.
Stalin mengusulkan agar Jerman membayar reparasi besar untuk membangun kembali negara-negara yang hancur. Kesepakatan awal menyebutkan bahwa reparasi akan dibayar sebagian dalam bentuk barang dan tenaga kerja.
Para pemimpin setuju bahwa negara-negara Eropa yang dibebaskan dari pendudukan Jerman akan diizinkan untuk menentukan masa depan politik mereka melalui pemilihan umum yang bebas dan adil.
Perang Melawan Jepang
Stalin sepakat untuk bergabung dalam perang melawan Jepang tiga bulan setelah kekalahan Jerman, dengan imbalan wilayah-wilayah tertentu di Asia, termasuk Sakhalin selatan dan Kepulauan Kuril.
Hasil dan Dampak
Hasil dari Konferensi Yalta memengaruhi peta politik dunia pasca-Perang Dunia II. Namun, beberapa keputusan yang diambil menimbulkan kontroversi dan ketegangan antara Sekutu Barat dan Uni Soviet, yang menjadi awal dari Perang Dingin.
Pembagian Jerman dan Eropa Timur: Pembagian wilayah Jerman dan Eropa Timur menempatkan sebagian besar Eropa Timur di bawah kendali Soviet, menciptakan blok komunis.
Polandia: Konflik tentang pemerintahan Polandia memunculkan kekecewaan di kalangan Sekutu Barat, karena Uni Soviet tidak memenuhi janji tentang pemilu bebas.
Pembentukan PBB: Keberhasilan pembentukan PBB menjadi salah satu pencapaian terbesar Konferensi Yalta dan berfungsi sebagai forum perdamaian internasional hingga saat ini.
Kontroversi
Banyak kritikus berpendapat bahwa Roosevelt dan Churchill terlalu banyak mengalah kepada Stalin, yang memungkinkan Uni Soviet memperluas pengaruhnya di Eropa Timur. Namun, pembela Roosevelt dan Churchill menyatakan bahwa kompromi tersebut diperlukan untuk memastikan kerja sama Stalin dalam perang melawan Jepang dan pembentukan PBB.
Referensi
↑"Yalta Conference". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal November 7, 2022.
↑Melvyn Leffler, Cambridge History of the Cold War, Volume 1 (Cambridge University Press, 2012), p. 175
Daftar pustaka
Gilbert, M. The Second World War: A Complete History.
Roberts, G. Stalin's Wars: From World War to Cold War, 1939-1953.