Cari artikel bahasaCari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Halaman bahasa acak
Sanskerta Hibrida Buddhis (bahasa Inggris: Buddhist Hybrid Sanskrit; disingkat BHS) adalah kategori linguistik modern yang diterapkan pada bahasa yang digunakan dalam kelas teks-teks buddhis India, seperti sutra-sutra Prajñāparamitā. BHS diklasifikasikan sebagai bahasa Indo-Arya Pertengahan. Bahasa ini kadang-kadang disebut "Sanskerta Buddhis" atau "Sanskerta Campuran".
Secara kebahasaan, BHS memiliki kedekatan yang jauh lebih erat—dan di banyak tempat identik—dengan bahasa Pali dibandingkan dengan bahasa Sanskerta standar. Alih-alih merupakan bahasa Sanskerta murni, BHS pada dasarnya berakar dari bahasa Prakerta awal yang belum sepenuhnya mengalami Sanskritisasi. Oleh karena bentuk fonetisnya diubah ke versi Sanskerta sementara tata bahasa Prakertanya tetap dipertahankan secara mekanis, bahasa ini sering kali terkesan seperti bahasa Sanskerta yang tidak gramatikal (tidak baku) karena melanggar aturan ketat tata bahasa Sanskerta klasik.
Asal-usul
Sebelum BHS muncul, ajaran Buddha tidak diketahui secara umum pernah dicatat dalam bahasa elit Hindu. Pada masa Buddha Gotama, pengajaran dalam bahasa tersebut sangat dibatasi hanya untuk studi Weda.[3] Walaupun Buddha Gotama kemungkinan besar akrab dengan apa yang sekarang disebut bahasa Sanskerta, ajaran-ajaran-Nya tampaknya pertama kali disebarluaskan dalam bahasa-bahasa lokal. Pada satu titik, Beliau melarang penerjemahan ajaran-Nya ke dalam bahasa Weda, dengan mengatakan bahwa melakukan hal itu adalah tindakan yang dungu—bahasa Weda pada masa itu sudah menjadi bahasa kuno dan usang.[4]
Setelah karya filolog Sanskerta kuno Pāṇini, bahasa Sanskerta menjadi bahasa utama untuk sastra dan filsafat di India. Para biksu mulai mengadaptasi bahasa yang mereka gunakan ke dalam bahasa Sanskerta sambil tetap berada di bawah pengaruh tradisi linguistik yang berasal dari bahasa Prakerta proto-kanonikal dari tradisi lisan awal.[5] Meskipun ada teori yang sangat berbeda mengenai hubungan bahasa ini dengan bahasa Pali, dapat dipastikan bahwa bahasa Pali jauh lebih dekat dengan bahasa ini dibandingkan dengan bahasa Sanskerta standar.[6][7][8]
Menurut K. R. Norman, bahasa Pali juga dapat dianggap sebagai bentuk dari BHS.[9] Namun, Franklin Edgerton menyatakan bahwa bahasa Pali pada dasarnya adalah bagian dari bahasa Prakerta.[5]
Hubungan dengan bahasa Sanskerta dan Pali
Di banyak tempat ketika BHS berbeda dari bahasa Sanskerta, bahasa ini lebih dekat, atau identik, dengan bahasa bahasa Pali. Sebagian besar karya BHS yang masih ada awalnya ditulis dalam BHS, bukan merupakan rombakan atau terjemahan dari karya-karya yang sudah ada dalam bahasa Pali atau bahasa lain.[10] Namun, karya-karya yang lebih awal, sebagian besar dari aliran Mahāsāṃghika, menggunakan bentuk "Sanskerta campuran", yang mana bahasa Prakerta aslinya belum sepenuhnya mengalami Sanskritisasi, dengan bentuk fonetisnya diubah ke versi Sanskerta, tetapi tata bahasa Prakerta tetap dipertahankan. Misalnya, kata Prakerta bhikkhussa, bentuk kepemilikan tunggal dari bhikkhu (biksu/biku, sekerabat dengan Sanskerta bhikṣu) tidak diubah menjadi bhikṣoḥ seperti dalam bahasa Sanskerta melainkan diubah secara mekanis menjadi bhikṣusya.[11]
Istilah BHS banyak digunakan dan didefinisikan berdasarkan kecendekiaanFranklin Edgerton. Sanskerta Hibrida Buddhis dipelajari di dunia modern terutama untuk mendalami ajaran buddhis yang dicatatnya, dan untuk mempelajari perkembangan bahasa-bahasa Indo-Arya. Dibandingkan dengan bahasa Pali dan Sanskerta Klasik, studi mengenai Sanskerta Hibrida Buddhis tergolong sedikit, sebagian karena lebih sedikitnya tulisan yang tersedia, dan sebagian lagi karena pandangan beberapa cendekiawan bahwa BHS tidak cukup berbeda dari bahasa Sanskerta untuk dikategorikan sebagai kategori linguistik yang terpisah. Edgerton menulis bahwa seorang pembaca teks Sanskerta Hibrida Buddhis "jarang akan menemukan bentuk atau ekspresi yang pasti tidak gramatikal, atau setidaknya lebih tidak gramatikal daripada, katakanlah, bahasa Sanskerta dalam epos-epos, yang juga melanggar aturan ketat Pāṇini. Namun, setiap paragraf akan berisi kata-kata dan ungkapan yang, meskipun secara formal tidak dapat ditolak... tidak akan pernah digunakan oleh penulis nonbuddhis mana pun."[12]
Edgerton berpendapat bahwa hampir semua karya buddhis yang dilestarikan dalam bahasa Sanskerta, setidaknya hingga periode akhir, termasuk dalam tradisi linguistik yang berkesinambungan dan secara umum menyatu. Bahasa dari karya-karya ini terpisah dari tradisi Sanskerta Brahmanis, dan pada akhirnya berakar pada bentuk semi-Sanskerta dari bahasa Prakerta proto-kanonikal. Kosakata buddhis yang khas dari BHS adalah bukti bahwa BHS merupakan tradisi linguistik terpisah yang cukup berbeda dari bahasa Sanskerta standar.[13] Penulis Brahmanis Buddhis yang menggunakan bahasa Sanskerta Brahmanis standar jumlahnya sangat kecil. Kelompok ini tampaknya terdiri dari orang-orang yang berpindah keyakinan (konversi) yang menerima pendidikan Brahmanis di masa muda mereka sebelum memeluk agama Buddha, seperti Aśvaghoṣa.[5]
Banyak kata Sanskerta, atau penggunaan kata Sanskerta tertentu, hanya dicatat dari karya-karya buddhis. Bahasa Pali berbagi sebagian besar dari kata-kata ini; dalam pandangan Edgerton, ini tampaknya membuktikan bahwa sebagian besar dari kata-kata tersebut termasuk dalam kosakata khusus dari bahasa Prakerta Buddhis proto-kanonikal.[14]
Penggunaan Sanskerta Klasik oleh buddhis
Tidak semua penggunaan bahasa Sanskerta oleh buddhis berada dalam bentuk hibrida. Beberapa karya terjemahan, seperti dari aliran Sarvāstivāda, diselesaikan dalam bahasa Sanskerta klasik. Terdapat juga karya-karya belakangan yang dikomposisikan secara langsung dalam bahasa Sanskerta dan ditulis dalam gaya yang lebih sederhana daripada sastra klasik, serta karya-karya kavya dalam gaya ornamen klasik seperti Buddhacarita.[11]
Paralel
Istilah "Tionghoa Hibrida Buddhis"[15] dan "Inggris Hibrida Buddhis"[16] telah digunakan untuk mendeskripsikan gaya bahasa unik yang digunakan dalam terjemahan teks-teks Buddhis.
Referensi
↑Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
123Edgerton, Franklin. The Prakrit Underlying Buddhistic Hybrid Sanskrit. Bulletin of the School of Oriental Studies, University of London, Vol. 8, No. 2/3, halaman 503.
↑Edgerton, Franklin. The Prakrit Underlying Buddhistic Hybrid Sanskrit. Bulletin of the School of Oriental Studies, University of London, Vol. 8, No. 2/3, halaman 502. "Pāli is itself a middle-Indic dialect, and so resembles the protocanonical Prakrit in phonology and morphology much more closely than Sanskrit."
↑Jagajjyoti, Buddha Jayanti Annual, 1984, halaman 4, dicetak ulang dalam K. R. Norman, Collected Papers, volume III, 1992, Pāli Text Society, halaman 37
↑Edgerton, Franklin. The Prakrit Underlying Buddhistic Hybrid Sanskrit. Bulletin of the School of Oriental Studies, University of London, Vol. 8, No. 2/3, halaman 502.
↑Edgerton, Franklin. The Prakrit Underlying Buddhistic Hybrid Sanskrit. Bulletin of the School of Oriental Studies, University of London, Vol. 8, No. 2/3, halaman 503. Tersedia di JSTOR di sini.
↑Edgerton, Franklin. The Prakrit Underlying Buddhistic Hybrid Sanskrit. Bulletin of the School of Oriental Studies, University of London, Vol. 8, No. 2/3, halaman 503-505.
↑Edgerton, Franklin. The Prakrit Underlying Buddhistic Hybrid Sanskrit. Bulletin of the School of Oriental Studies, University of London, Vol. 8, No. 2/3, halaman 504.
↑Macmillan Encyclopedia of Buddhism (Volume Satu), halaman 154
↑Paul J. Griffiths, Journal of the Pāli Text Society, Volume XXIX, halaman 102
Bacaan lanjutan
Edgerton, Franklin, Buddhist Hybrid Sanskrit Grammar and Dictionary. ISBN81-215-1110-0.