Sammādiṭṭhi Sutta (MN9, "Pandangan Benar") adalah diskursus ke-9 dalam Majjhima Nikaya dari Kanon Pali. Teks ini berisi uraian mengenai konsep Buddhis tentang "pandangan benar" (sammādiṭṭhi) yang disampaikan oleh murid utama Buddha, Yang Mulia Sāriputta. Dalam Kanon Tionghoa terdapat dua terjemahan yang bersesuaian, yaitu Maha Kotthita Sutra (大拘絺羅經) and Kotthita Sutra (拘絺羅經).
Pandangan benar merupakan faktor pertama dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu jalan menuju berakhirnya penderitaan.[1] Pandangan benar dianggap sebagai "pendahulu" bagi semua faktor jalan lainnya.[2] Secara historis, khotbah ini digunakan sebagai teks pengantar bagi para bhikkhu di vihara Asia Selatan dan Asia Tenggara,[3] serta dibacakan setiap bulan di beberapa vihara tradisi Mahayana.
Isi
Dalam diskursus ini, Sariputta menyampaikan kepada para biku mengenai cara memperoleh pandangan benar (sammādiṭṭhi).
“
Dalam cara bagaimanakah seorang siswa mulia berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan tak-tergoyahkan dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati?
Atas desakan berulang dari para bhikkhu, Sāriputta kemudian menguraikan enam belas pokok ajaran (pariyāya)[4] yang dapat membawa seorang murid mulia pada pencapaian pandangan benar, yaitu:
Dua belas sebab (nidāna) dari Paticcasamuppāda (Kemunculan yang Saling Bergantungan), masing-masing dihitung sebagai dua belas pokok ajaran
Noda batin atau kekotoran (āsava)
Pandangan benar atas lima belas pokok ajaran terakhir dicapai melalui pemahaman (pajānāti) terhadap empat tahap dari setiap pokok ajaran:[5]
Unsur-unsur atau bagian dari pokok ajaran
Asal mula atau sebab kemunculannya
Berhentinya atau lenyapnya
Jalan yang mengarah pada lenyapnya
Catatan
↑Makanan atau nutrisi (āhāra) adalah:
1. Kabalīkārāhāra (makanan fisik) untuk tubuh jasmani, 2. Phassāhāra (kontak indra), untuk perasaan, 3. Manosañcetanāhāra (kehendak/niat) untuk kelangsungan eksistensi, 4. Viññāṇāhāra (kesadaran) untuk nāma-rūpa
↑Kata Pali pariyāya diucapkan oleh para bhikkhu ketika menanyai Yang Mulia. Sariputra tentang cara atau metode lain yang dengannya seseorang dapat berpandangan benar:
[Para Biksu:] Sambil berkata, "Bagus, sahabat," para bhikkhu merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Yang Mulia Sariputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut kepadanya: "Tetapi, sahabat, mungkinkah ada cara lain di mana seorang murid mulia memiliki pandangan yang benar... dan telah sampai pada Dhamma yang benar ini?" [Yang Mulia Sariputta:] "Mungkin ada, sahabat-sahabat." (Ñanamoli & Bodhi, 1991).
Secara substansi, topik-topik tersebut (seperti perbuatan tidak bermanfaat, nutrisi, dan lain-lain) merupakan landasan bagi pengembangan pandangan benar. Pali Text Society menyebutkan bahwa, menurut Buddhaghosa, istilah pariyāya dapat dipahami dalam tiga cara: (1) “giliran, jalur”; (2) “pengajaran, penyajian”; dan (3) “sebab, alasan, juga kasus, perkara.” (Rhys Davids & Stede, 1921-25, p. 433, entry for "Pariyāya," URL tertanam diakses 20 September 2007). Dalam artikel ini, berdasarkan definisi otoritatif tersebut, istilah pariyāya dipilih untuk diterjemahkan sebagai “kasus.” Sebagai alternatif tambahan, Ñanamoli & Bodhi (1991) menerjemahkan pariyāya secara sederhana sebagai “cara,” sementara Thanissaro (2005b) menerjemahkannya sebagai “garis penalaran.”
↑Frasa "empat fase" adalah terjemahan Bodhi (2005, hlm. 335, 448 n. 23) dari catuparivaṭṭaṃ (atau, menurut SLTP, catuparivattaṃ), yang secara harfiah berarti, "empat putaran." Dalam Kanon Pali, Sang Buddha secara eksplisit menggunakan empat fase ini untuk menggambarkan cara beliau mengetahui secara langsung (abbhaññāsiṃ) lima agregat kemelekatan (upādāna) di Upādāna Parivaṭṭa Sutta ("Phases of Clinging Discourse," SN 22.56) (Bodhi, 2005, pp. 335-37).