ENSIKLOPEDIA
Loka surga

| Bagian dari seri tentang | |||||||||
| Buddhisme | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
Dalam Buddhisme, loka (KBBI; diserap dari Sanskerta: लोक; Pali: loka), dunia, alam kehidupan, atau bumi (Pali, Sanskerta: bhūmi atau dhātu) adalah penggambaran alam semesta yang dihuni oleh berbagai jenis makhluk. Sang Buddha menjelaskan bahwa dunia ini sangat luas dengan sistem dunia yang jumlahnya sangat banyak. Bumi bukanlah satu-satunya sistem dunia yang dapat dihuni, dan manusia bukanlah satu-satunya makhluk.[1] Berbagai aliran Buddhis telah mengembangkan berbagai pengelompokkan alam-alam kehidupan yang berbeda-beda.
Secara keseluruhan, berdasarkan penafsiran terhadap Tripitaka Pali dan kitab-kitab komentar (aṭṭhakathā), aliran Theravāda mengidentifikasi tiga puluh satu jenis alam kehidupan atau loka yang diuraikan berdasarkan wujud, karakteristik, dijabarkan bahwa tiga puluh satu loka tidak hanya ada di sistem dunia ini, tetapi juga di antara jutaan sistem dunia atau semesta lainnya. Setiap satu sistem memiliki tiga puluh satu lokanya sendiri.[2] Loka tersebut dikelompokkan dalam tiga kategori utama, yaitu:[3][4][5]
- 4 loka lingkup-nonmateri (arūpavacara-)
- 4 loka brahma nonmateri (arūpabrahma-)
- 16 loka lingkup-materi-halus (rūpavacara-)
- 16 loka brahma-materi-halus (rūpabrahma-)
- 11 loka lingkup-indrawi (kāmavacara-)
- 7 loka lingkup-kebahagiaan-indrawi (kāmasugativacara-)
- 6 loka surga atau loka dewa (deva-) selain loka brahma
- 1 loka manusia (manussa-)
- 4 loka apaya (apāya-)
- 7 loka lingkup-kebahagiaan-indrawi (kāmasugativacara-)
Pengelompokkan alam-alam tersebut juga dapat dijabarkan dalam model klasifikasi lain yang terdiri atas loka surga, manusia, dan apaya:
- 26 loka surga (sagga- atau deva-)
- 20 loka brahma (brahma-)
- 4 loka brahma nonmateri (arūpabrahma-)
- 16 loka brahma-materi-halus (rūpabrahma-)
- 6 loka surga atau loka dewa (deva-) selain loka brahma
- 20 loka brahma (brahma-)
- 1 loka manusia (manussa-)
- 4 loka apaya (apāya-), terdiri dari loka neraka, binatang, hantu, dan asura
Dalam kitab Visuddhimagga, dijelaskan empat periode perubahan alam semesta, yaitu periode kehancuran (saṁvaṭṭa); periode diam atau stabil dalam keadaan hancur (saṁvaṭṭaṭṭhāyī); periode terbentang, mengembang, atau pembentukan kembali (vivaṭṭa); dan periode kestabilan setelah perkembangan (vivaṭṭaṭṭhāyī).
Klasifikasi tiga puluh satu alam keberadaan dalam kelompok alam surga, alam manusia, dan alam rendah (juga alam nonmateri, alam materi, dan alam kesenangan indrawi) adalah interpretasi umum aliran Theravāda, sedangkan aliran-aliran Buddhis awal juga mengenalkan kategorisasi enam alam: tiga alam baik (surgawi, setengah-dewa, manusia) dan tiga alam buruk (binatang, hantu, neraka). Kitab-kitab Buddhis yang lebih awal juga mengenalkan kategorisasi lima alam, bukan enam alam; ketika digambarkan sebagai lima alam, alam dewa dan alam setengah dewa dianggap sebagai satu jenis alam.[6] Kategorisasi enam alam umum diyakini oleh pengikut Buddhisme Tibet.
Theravāda
Tiga puluh satu loka

Dalam beberapa literatur Buddhis, tiga puluh satu alam kehidupan atau loka dikelompokkan dalam tiga kategori utama, yaitu:
Loka surga dan loka manusia
Loka surga (atau dewa) dan manusia terdiri atas loka brahma dan loka yang-penuh-kebahagiaan-indrawi.
Loka brahma
Loka brahma (brahmaloka) terdiri atas loka brahma-materi-halus (rūpāvacarabhūmi), dan loka brahma-nonmateri (arūpavacarabhūmi). Loka ini merupakan surga tertinggi di sistem kosmologi Buddhis, berkedudukan di atas loka yang-penuh-kebahagiaan (kāmasugatibhūmi), dan berjumlah 20 loka:[3][4][5]
- 4 loka brahma-nonmateri (arūpavacarabhūmi):
- ākāsānañcāyatana
- viññāṇānañcāyatana
- ākiṁcanyāyatana
- nevasaññānāsaññāyatana
- 16 loka brahma-materi-halus (rūpāvacarabhūmi):
- 1 loka makhluk-tanpa-batin (asaññasattā)
- 1 loka buah-besar (vehapphalā)
- 5 loka kediaman-murni (suddhāvāsā)
- aviha
- atappa
- sudassa
- sudassī
- akaniṭṭha
- 9 loka brahma-biasa:
- brahmapārisajja
- brahmapurohita
- mahābrahmā
- parittābha
- appamāṇābha
- ābhassara
- parittasubha
- appamāṇasubha
- subhakiṇha
Loka materi-halus (rūpāvacarabhūmi) disebut demikian karena para brahma yang tinggal di loka-loka ini memiliki tubuh yang sangat halus dan bahkan beberapa jenis materi sudah tidak ada di tubuh mereka. Loka nonmateri (arūpavacarabhūmi) berlokasi di atas loka materi-halus (rūpāvacarabhūmi) dan terdiri dari 4 tingkatan. Loka nonmateri disebut demikian karena makhluk yang terlahir di loka ini tidak memiliki tubuh jasmani sama sekali. Eksistensi kehidupan mereka hanyalah berupa fenomena mental atau batin.[3][4][5]
Loka materi-halus adalah loka kelahiran untuk mereka yang di kehidupan terakhirnya menguasai salah satu dari jhāna materi-halus hingga di detik-detik menjelang kematiannya. Kelahiran di loka ini tidak akan bisa dicapai oleh mereka yang pada awalnya menguasai jhāna materi-halus dan di kemudian hari kehilangan jhāna-nya sebagai akibat kelalaian karena jarang berlatih atau karena terganggu oleh kilesa-kilesa yang kasar. Loka nonmateri merupakan loka untuk mereka yang di kehidupan sebelumnya menguasai jhāna nonmateri hingga di detik-detik menjelang kematiannya. Singkatnya, seseorang perlu melakukan satu dari 8 karma baik yang berat, yaitu pencapaian meditatif:[3][4][5]
- 4 jhāna materi-halus (rūpāvacarajhāna)
- 4 jhāna nonmateri (arūpajhāna)
Loka kebahagiaan indrawi
Enam loka pertama selain loka manusia (manussaloka) dalam kategorisasi loka kebahagiaan indrawi atau loka yang-penuh-kebahagiaan-indrawi (kāmasugatibhūmi) juga termasuk loka para dewa. Loka yang-penuh-kebahagiaan-indrawi (kāmasugatibhūmi) berjumlah 7 loka:[3][4][5]
- 6 loka surga atau loka dewa (devaloka) selain loka brahma:
- 1 loka empat-mahāraja (cātummahārājikā)
- 1 loka tiga-puluh-tiga-dewa (tāvatiṃsa)
- 1 loka [dewa] Yāmā (yāmā)
- 1 loka yang-sangat-menyenangkan (tusita)
- 1 loka yang-gemar-mencipta (nimmānaratī)
- 1 loka yang-mengendalikan-ciptaan-dewa-lain (paranimmitavasavatti)
- 1 loka manusia (manussaloka)
Loka-loka tersebut dinamakan “loka yang-penuh-kebahagiaan-indrawi” karena para makhluk yang terlahir di loka-loka tersebut merasakan kebahagiaan dengan bersandar pada pancaindra mereka. Dari tujuh loka tersebut, enam loka yang kedudukannya berada di atas loka manusia adalah alam surga yang posisinya lebih rendah dari alam surga para brahma yang dikenal oleh Buddhisme.[3][4][5]
Pada intinya, sebab-sebab kelahiran di alam surga diuraikan dari penjagaan terhadap moralitas (pañcasīla) Buddhis melalui Sepuluh Jalan Karma Baik (kusalakammapatha):[3][5]
- Tiga perbuatan baik melalui tubuh (Pāli: kusala kāyakamma)
- Menahan diri dari pembunuhan (pāṇātipātā veramaṇī)
- Menahan diri dari pencurian (adinnādānā veramaṇī)
- Menahan diri dari perbuatan asusila (kāmesumicchācārā veramaṇī)
- Empat perbuatan baik melalui ucapan (kusala vacīkamma)
- Menahan diri dari perkataan tidak benar (musāvādā veramaṇī)
- Menahan diri dari ucapan fitnah (pisuṇāya vācāya veramaṇī)
- Menahan diri dari ucapan kasar (pharusāya vācāya veramaṇī)
- Menahan diri dari omong kosong (samphappalāpā veramaṇī)
- Tiga perbuatan baik melalui mental (kusala manokamma)
- Tiadanya dambaan (anabhijjhā)
- Tiadanya rasa benci (abyāpāda)
- Pandangan-benar (sammādiṭṭhi)
Selain sepuluh jalan karma baik di atas, juga dikenal sepuluh karma baik lagi, yakni sepuluh landasan perbuatan baik (dasa-puñña-kiriya-vatthu):[3][5]
- Bederma (dāna)
- Moralitas atau akhlak (sīla)
- Meditasi atau pengembangan batin (bhāvanā)
- Rasa hormat (apaciti)
- Pelayanan (veyyāvacca)
- Pelimpahan jasa (pattānuppadāna)
- Turut berbahagia atas kebajikan orang lain (abbhanumodanā)
- Mengajar Dhamma (desanā)
- Mendengarkan Dhamma (dhammasavana)
- Meluruskan pandangan (diṭṭhijukamma)
Loka apaya
Loka apaya, kemalangan, atau tanpa-kebahagiaan (apāya- atau kāmaduggati-), juga dikenal sebagai loka rendah, terdiri atas 4 jenis alam:[3][4][5]
- Loka neraka (niraya)
- Loka kerajaan-binatang (tiracchānayoni)
- Loka hantu-hantu kelaparan atau wilayah-peta (pettivisaya)
- Loka kumpulan-asura (asurakāya)
Dari empat loka apāya, ada tiga loka yang hidup bersama dengan manusia yaitu binatang, peta, dan kumpulan-asura. Mereka yang ada di neraka hidup dengan lokasi yang berbeda, yakni di inti bumi.[3][4][5]
Makhluk yang terlahir di empat loka ini akan menghabiskan sebagian besar hidupnya loka penderitaan. Walaupun kesadaran yang baik bisa muncul di loka-loka ini, tetapi, disebabkan oleh buah karma buruk yang masak silih berganti, mereka tetap saja kesulitan menjaga batinnya untuk tetap tenang dan damai. Kesulitan, kesakitan, penderitaan, dan kemalangan yang mereka alami di sepanjang kehidupannya jauh lebih banyak dibandingkan dengan kemudahan, keberuntungan, dan kebahagiaan.[3][5]
Seseorang masih mungkin terlahir kembali di empat loka rendah jika belum mencapai tingkat kesucian pertama, yakni sotāpanna. Ada berbagai sebab kelahiran di loka-loka yang menyedihkan. Pada intinya, sebab-sebab tersebut diuraikan dari pelanggaran terhadap moralitas (pañcasīla) Buddhis melalui Sepuluh Jalan Karma Tidak Baik (akusalakammapatha):[3][5]
- Pembunuhan makhluk hidup (pāṇātipāta)
- Pencurian (adinnādāna)
- Perbuatan asusila (kāmesumicchācāra)
- Perkataan tidak benar (musāvāda)
- Ucapan fitnah (pisuṇavācā)
- Ucapan kasar (pharusavācā)
- Omong kosong (samphappalāpa)
- Dambaan (abhijjhā)
- Rasa benci (vyāpāda)
- Pandangan salah (micchādiṭṭhi)
Sebab pasti terlahir di neraka adalah melakukan lima karma yang keji (ānantariyakamma), yakni:[3][5]
- Membunuh ibu kandung
- Membunuh ayah kandung
- Membunuh seorang arahat
- Dengan maksud jahat melukai tubuh Tathāgata
- Memecah belah Sangha
Selain itu, 3 kelompok pandangan-salah juga bisa menyebabkan kelahiran di neraka Avīci:[3][5]
- Pandangan tentang tiadanya dampak dari perbuatan (akiriya diṭṭhi) yang menolak adanya akibat dari karma baik dan karma tidak baik.
- Pandangan fatalis tentang tiadanya sebab (ahetuka diṭṭhi) yang menyangkal akar, sebab, dan kondisi. Pandangan ini menolak adanya sebab dari suatu kejadian: semua kejadian muncul karena kebetulan saja—tanpa sebab.
- Pandangan nihilis (natthika diṭṭhi) yang menolak baik sebab maupun akibat dari suatu perbuatan.
Periode alam semesta
Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Bab atau bagian ini akan dihapus bila tidak tersedia referensi ke sumber tepercaya dalam bentuk catatan kaki atau pranala luar. |
artikel ini kemungkinan memuat jumlah kutipan yang berlebihan. Pertimbangkan untuk menghapus sumber-sumber yang tidak perlu atau tidak memiliki reputasi, menggabungkan rujukan apabila dimungkinkan, atau, jika perlu, menandai konten tersebut untuk dihapus. (April 2026) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |

Empat periode perubahan alam semesta menurut kitab Visuddhimagga:
- Periode kehancuran (saṁvaṭṭa): dalam periode ini, alam semesta terus menerus mengalami penyusutan (parihāyamāna).
- Periode diam atau stabil dalam keadaan hancur (saṁvaṭṭaṭṭhāyī): termasuk ke dalam periode kehancuran—dalam periode ini, alam semesta berada dalam kehancuran dalam jangka waktu yang lama sekali.
- Periode terbentang, mengembang, atau pembentukan kembali (vivaṭṭa): alam semesta tumbuh berkembang (vaḍḍhamāna) dalam satu proses yang sangat lama.
- Periode kestabilan setelah perkembangan (vivaṭṭaṭṭhāyī): alam semesta berada dalam keadaan seperti ini untuk jangka waktu yang sangat lama.
Satu rentang waktu sejak periode pembentukan hingga kehancuran alam semesta disebut sebagai satu kalpa (Pāli: kappa).
Terbentuknya alam semesta
Menurut pandangan Buddhis, alam semesta ini sangat luas dengan banyak tata surya yang jumlahnya tidak dapat dihitung. Hal ini diterangkan oleh Sang Buddha sebagai jawaban atas pertanyaan Bhikkhu Ānanda dalam Cūḷanikā Sutta (Aṅguttara Nikāya 3.80):[7]
| ... “Pernahkah engkau mendengar, Ānanda, tentang seribu sistem dunia kecil?”
“Sekarang adalah waktunya, Sang Bhagavā. Sekarang adalah waktunya, Yang Sempurna. Sudilah Sang Bhagavā menjelaskan. Setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, para bhikkhu akan mengingatnya.” “Baiklah, Ānanda, dengarkan dan perhatikanlah. Aku akan berbicara.” “Baik, Bhante,” Yang Mulia Ānanda menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: (1) “Seribu kali dunia di mana matahari dan rembulan berputar ("berevolusi"; penerjemah Inggris menggunakan "revolve") dan menerangi segala penjuru dengan cahayanya disebut seribu sistem dunia kecil. Dalam seribu sistem dunia kecil tersebut terdapat seribu rembulan, seribu matahari, seribu raja pegunungan Sineru, seribu Jambudīpa, seribu Aparagoyāna, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavideha, dan seribu empat samudra raya; seribu empat raja dewa, seribu [surga] para deva yang dipimpin oleh empat raja dewa, seribu [surga] Tāvatiṁsa, seribu [surga] Yāma, seribu [surga] Tusita, seribu [surga] para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan, seribu [surga] para deva yang mengendalikan ciptaan para deva lain, seribu alam brahmā. (2) “Sebuah dunia yang terdiri dari seribu kali seribu sistem dunia kecil disebut sistem dunia menengah seribu-pangkat-dua. (3) “Sebuah dunia yang terdiri dari seribu kali sistem dunia menengah seribu-pangkat-dua disebut sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga. Ānanda, Sang Tathāgata dapat menyampaikan suaranya sejauh yang Beliau inginkan dalam sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga.” “Tetapi dengan cara bagaimanakah, Bhante, Sang Tathāgata dapat menyampaikan suaranya sejauh yang Beliau inginkan dalam sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga?” “Di sini, Ānanda, Sang Tathāgata dengan sinarnya meliputi satu sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga. Ketika makhluk-makhluk itu merasakan cahaya itu, kemudian Sang Tathāgata memproyeksikan suaranya dan membuat mereka mendengar suara itu. Dengan cara demikianlah, Ānanda, Sang Tathāgata menyampaikan suaranya sejauh yang Beliau inginkan dalam sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga.” ... |
... “Sutā te, ānanda, sahassī cūḷanikā lokadhātū”ti?
“Etassa, bhagavā, kālo; etassa, sugata, kālo, yaṁ bhagavā bhāseyya. Bhagavato sutvā bhikkhū dhāressantī”ti. “Tenahānanda, suṇāhi sādhukaṁ manasi karohi, bhāsissāmī”ti. “Evaṁ, bhante”ti kho āyasmā ānando bhagavato paccassosi. Bhagavā etadavoca: “Yāvatā, ānanda, candimasūriyā pariharanti, disā bhanti virocanā, tāva sahassadhā loko. Tasmiṁ sahassadhā loke sahassaṁ candānaṁ, sahassaṁ sūriyānaṁ, sahassaṁ sinerupabbatarājānaṁ, sahassaṁ jambudīpānaṁ, sahassaṁ aparagoyānānaṁ, sahassaṁ uttarakurūnaṁ, sahassaṁ pubbavidehānaṁ, cattāri mahāsamuddasahassāni, cattāri mahārājasahassāni, sahassaṁ cātumahārājikānaṁ, sahassaṁ tāvatiṁsānaṁ, sahassaṁ yāmānaṁ, sahassaṁ tusitānaṁ, sahassaṁ nimmānaratīnaṁ, sahassaṁ paranimmitavasavattīnaṁ, sahassaṁ brahmalokānaṁ— ayaṁ vuccatānanda, sahassī cūḷanikā lokadhātu. Yāvatānanda, sahassī cūḷanikā lokadhātu tāva sahassadhā loko. Ayaṁ vuccatānanda, dvisahassī majjhimikā lokadhātu. Yāvatānanda, dvisahassī majjhimikā lokadhātu tāva sahassadhā loko. Ayaṁ vuccatānanda, tisahassī mahāsahassī lokadhātu. Ākaṅkhamāno, ānanda, tathāgato tisahassimahāsahassilokadhātuṁ sarena viññāpeyya, yāvatā pana ākaṅkheyyā”ti. “Yathā kathaṁ pana, bhante, bhagavā tisahassimahāsahassilokadhātuṁ sarena viññāpeyya, yāvatā pana ākaṅkheyyā”ti? “Idhānanda, tathāgato tisahassimahāsahassilokadhātuṁ obhāsena phareyya. Yadā te sattā taṁ ālokaṁ sañjāneyyuṁ, atha tathāgato ghosaṁ kareyya saddamanussāveyya. Evaṁ kho, ānanda, tathāgato tisahassimahāsahassilokadhātuṁ sarena viññāpeyya, yāvatā pana ākaṅkheyyā”ti. ... | |
| — Cūḷanikā Sutta, AN 3.80 | ||
Dengan demikian, sebuah dvisahassi majjhimanika lokadhatu terdapat 1.000 x 1.000 = 1.000.000 tata surya dan sebuah tisahassi mahasahassi lokadhatu terdapat 1.000.000 x 1.000 = 1.000.000.000 tata surya.
Menurut agama Buddha, manusia pertama bukanlah seorang atau dua orang, tetapi banyak orang. Terjadinya Bumi dan manusia pertama yang tidak melibatkan suatu pencipta dunia diuraikan oleh Sang Buddha dalam Aggañña Sutta, Dīgha Nikāya 27[8] dan Brahmajāla Sutta (Dīgha Nikāya 1).[9] Berikut bagian awal Aggañña Sutta (Dīgha Nikāya 27):
| “ | ‘Akan tiba waktunya, Vāseṭṭha, cepat atau lambat setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini menyusut. Pada saat penyusutan, makhluk-makhluk sebagian besar terlahir di alam Brahmā Ābhassara. Dan di sana mereka berdiam, dengan ciptaan-pikiran, dengan kegembiraan sebagai makanan, bercahaya, melayang di angkasa, agung—dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama. Tetapi cepat atau lambat setelah rentang waktu yang panjang, dunia ini mulai mengembang lagi. Pada saat mengembang ini, makhluk-makhluk dari alam Brahmā Ābhassara, setelah meninggal dunia dari sana, sebagian besar terlahir kembali di alam ini. Di sini mereka berdiam, dengan ciptaan-pikiran, dengan kegembiraan sebagai makanan, bercahaya, melayang di angkasa, agung– dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.
‘Pada masa itu, Vāseṭṭha, hanya ada air, dan diselimuti kegelapan, kegelapan yang membutakan, tidak ada bulan dan tidak ada matahari yang muncul, tidak ada bintang, siang dan malam tidak dapat dibedakan, tidak juga bulan dan dwi-mingguan, tidak juga tahun atau musim, dan tidak ada laki-laki dan perempuan, makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk. Dan cepat atau lambat, setelah waktu yang sangat lama, tanah yang lezat muncul dengan sendirinya di atas permukaan air di mana makhluk-makhluk itu berada. Terlihat seperti lapisan yang terbentuk sendiri di atas susu panas ketika mendingin. Tanah ini memiliki warna, bau dan rasa. Seperti warna ghee atau mentega kualitas terbaik, dan sangat manis bagaikan madu murni. ... |
” |
| — Aggañña Sutta, DN 27 | ||
Kiamat
Kiamat atau hancur leburnya Bumi dijelaskan dalam Sattasūriya Sutta (Aṅguttara Nikāya 7.66).[10] Menurut Buddhisme, kiamat disebabkan oleh terjadinya musim kemarau yang lama sekali. Selanjutnya, dengan berlangsungnya musim kemarau yang panjang ini, muncullah matahari yang kedua. Lalu, dengan berselangnya suatu masa yang lama, matahari ketiga muncul. Kemudian, matahari keempat hingga ketujuh muncul secara bertahap. Pada waktu matahari ketujuh muncul, bumi terbakar hingga menjadi debu dan lenyap bertebaran di alam semesta.
| “ | “Para bhikkhu, fenomena-fenomena terkondisi adalah tidak kekal; fenomena-fenomena terkondisi adalah tidak stabil; fenomena-fenomena terkondisi adalah tidak dapat diandalkan. Cukuplah itu untuk menjadi kecewa pada segala fenomena terkondisi, cukuplah itu untuk menjadi bosan pada segala fenomena terkondisi, cukuplah itu untuk terbebaskan dari segala fenomena terkondisi.
“Para bhikkhu, Sineru, raja pegunungan, adalah 84.000 yojana panjangnya dan 84.000 yojana lebarnya; terbenam 84.000 yojana di dalam samudra raya dan menjulang 84.000 yojana di atas samudra raya. (1) “Akan tiba waktunya, para bhikkhu, ketika hujan tidak turun selama bertahun-tahun, selama ratusan tahun, selama ribuan tahun, selama ratusan ribu tahun. Ketika hujan tidak turun, maka benih-benih kehidupan dan tumbuh-tumbuhan, tanaman obat-obatan, rerumputan, dan pepohonan besar di dalam hutan menjadi layu dan mengering dan menjadi tidak ada lagi. Begitu tidak kekalnya fenomena-fenomena terkondisi, begitu tidak stabilnya, begitu tidak dapat diandalkannya. Cukuplah itu untuk menjadi kecewa pada segala fenomena terkondisi, cukuplah itu untuk menjadi bosan pada segala fenomena terkondisi, cukuplah itu untuk terbebaskan dari segala fenomena terkondisi. (2) “Akan tiba waktunya, setelah waktu yang lama, matahari ke dua muncul. Dengan munculnya matahari ke dua, maka sungai-sungai kecil dan danau-danau mengering dan menguap dan menjadi tidak ada lagi. Begitu tidak kekalnya fenomena-fenomena terkondisi … Cukuplah itu untuk terbebaskan dari segala fenomena terkondisi. ... (7) “Akan tiba waktunya, setelah waktu yang lama, matahari ke tujuh muncul. Dengan munculnya matahari ke tujuh, bumi ini dan Sineru, raja pegunungan, meledak terbakar, menyala dengan terang, dan menjadi sebuah kumpulan api yang besar. Ketika bumi ini dan Sineru menyala dan terbakar, apinya tertiup angin, menjulang hingga ke alam brahmā. Ketika kehancuran sedang berlangsung dan dikuasai oleh kumpulan besar panas, maka gunung yang puncaknya setinggi seratus yojanamenjadi hancur; gunung yang puncaknya dua ratus yojana… tiga ratus yojana … empat ratus yojana … lima ratus yojana menjadi hancur. “Ketika bumi ini dan Sineru terbakar dan menyala, tidak ada abu atau jelaga yang terlihat. Seperti halnya, ketika ghee atau minyak terbakar dan menyala, tidak ada abu atau jelaga yang terlihat. Demikian pula ketika bumi ini dan Sineru terbakar dan menyala, tidak ada abu atau jelaga yang terlihat. Begitu tidak kekalnya fenomena-fenomena terkondisi, begitu tidak stabilnya, begitu tidak dapat diandalkannya. Cukuplah itu untuk menjadi kecewa pada segala fenomena terkondisi, cukuplah itu untuk menjadi bosan pada segala fenomena terkondisi, cukuplah itu untuk terbebaskan dari segala fenomena terkondisi. ... |
” |
| — Sattasūriya Sutta, AN 7.66 | ||
Mahāyāna
Aliran-aliran Buddhisme Tibet umumnya meyakini sistem kategorisasi enam alam yang terdiri atas tiga alam baik (surgawi, setengah-dewa, manusia) dan tiga alam buruk (binatang, hantu, neraka). Kategorisasi ini juga sudah ada sejak masa aliran-aliran Buddhis awal. Selain itu, kitab-kitab Buddhis yang lebih awal juga mengenalkan kategorisasi lima alam, bukan enam alam; ketika digambarkan sebagai lima alam, alam dewa dan alam setengah dewa dianggap sebagai satu jenis alam.[6] Pengelompokkan ini masih digunakan oleh beberapa aliran Mahāyāna dan Vajrayāna.
Referensi
- ↑ Mahāthera, Nārada (1995). Sang Buddha dan ajaran-ajaranNya. Yayasan Dhammadipa Arama.
- ↑ Jinavamsa (2001). The Thirty-one Planes of Existence: (as Transcribed from Bhante Suvanno's Cassette Recording) (dalam bahasa Inggris). Inward Path. ISBN 978-983-9439-57-1.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kheminda, Ashin (2020-02-01). KAMMA: Pusaran Kelahiran & Kematian Tanpa Awal. Yayasan Dhammavihari. ISBN 978-623-94011-0-8.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Na-Rangsi, Sunthorn (2006). The Four Planes of Existence in Theravada Buddhism (dalam bahasa Inggris). Buddhist Publication Society. ISBN 978-955-24-0287-6.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jinavamsa (2001). The Thirty-one Planes of Existence: (as Transcribed from Bhante Suvanno's Cassette Recording) (dalam bahasa Inggris). Inward Path. ISBN 978-983-9439-57-1.
- 1 2 Buswell, Robert E. (2004). Encyclopedia of Buddhism. New York: Macmillan Reference USA, Thomson Gale. hlm. 711–712. ISBN 978-0-02-865718-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Anggara, Indra. "AN 3.80: Cūḷanikāsutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2022-09-18.
- ↑ Anggara, Indra. "DN 27: Aggaññasutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2022-09-18.
- ↑ Anggara, Indra. "DN 1: Brahmajālasutta—Indra Anggara". SuttaCentral. Diakses tanggal 2022-09-18.
- ↑ Anggara, Indra. "AN 7.66: Sattasūriyasutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2022-09-18.
Bacaan lanjutan
- Robert E. Buswell Jr.; Donald S. Lopez Jr. (2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton, New Jersey: Princeton University Press. ISBN 978-1400848058. Diakses tanggal 22 June 2015.
- Buswell, Robert E., ed. (2004). Encyclopedia of Buddhism (Cosmology). Macmillan Reference US. hlm. 183–187. ISBN 0-02-865718-7. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- Trainor, Kevin (2004). Buddhism: The Illustrated Guide. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0195173987. Diakses tanggal 22 June 2015.
- Buddhist Cosmology (PDF). Dhammakaya Open University. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2020-01-18. Diakses tanggal 2020-02-24.
Artikel bertopik Buddhisme ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |
| Basis data pengawasan otoritas: Nasional |
|---|