Dalam Tripitaka Pali
Dalam ajaran Buddha, māna (kesombongan atau kecenderungan komparasi egoistik) merupakan konsep psikologis sentral yang pembahasannya tersebar luas di seluruh Suttapiṭaka, dan diklasifikasikan sebagai salah satu dari sepuluh belenggu (saṁyojana) sekaligus kecenderungan tersembunyi (anusaya) yang baru akan lenyap sepenuhnya pada tingkat kesucian Arahat.[a]
Alih-alih sekadar diartikan sebagai keangkuhan superioritas, Suttapiṭaka mendefinisikan māna sebagai segala bentuk pengukuran identitas diri dengan orang lain. Secara taksonomi, konsep ini dirincikan di dalam Saṅgīti Sutta (DN 33) menjadi tiga kategori: pemikiran "aku lebih baik" (seyyo'hamasmi), "aku setara" (sadiso'hamasmi), dan "aku lebih buruk" (hīno'hamasmi). Selain wujud kasarnya yang sering dikaitkan dengan keangkuhan pandangan filosofis seperti yang dikritik melalui Pasūra Sutta (Snp 4.8) dan Māgandiya Sutta (Snp 4.9) dalam kitab Suttanipāta,[b] berbagai sutta juga menyoroti mekanisme kognitif māna yang paling dalam, yakni asmi-māna (insting halus bahwa "aku ada"). Sebagaimana diuraikan secara komprehensif dalam Khemaka Sutta (SN 22.89), insting eksistensial ini adalah residu egoistik yang masih tersisa di bawah sadar seorang praktisi tingkat lanjut (anāgāmī), bahkan setelah mereka berhasil mematahkan pandangan salah tentang jati diri (sakkāya-diṭṭhi).[c]
Tradisi Abhidhamma
Nina van Gorkom menjelaskan:
- Ada kesombongan atau keangkuhan ketika kita menganggap diri kita penting. Oleh karena kesombongan, kita mungkin membandingkan diri kita dengan orang lain. Ada kesombongan ketika kita menganggap diri kita lebih baik, setara, atau lebih rendah dari orang lain. Kita mungkin percaya bahwa kesombongan hanya ada ketika kita menganggap diri kita lebih baik daripada orang lain, tetapi ini tidak benar. Ada semacam sikap menjunjung tinggi diri kita sendiri, membuat diri kita penting, sementara kita membandingkan diri kita dengan orang lain, tidak peduli dalam hal apa pun, dan itulah kesombongan.
Dengan demikian, ada tiga jenis kesombongan yang diidentifikasi, yakni kesombongan ketika kita menganggap diri kita lebih baik, setara, atau lebih rendah dari orang lain.
Kitab Aṭṭhasālinī (II, Bagian IX, Bab III, 256) memberikan definisi:
- ...Di sini, kesombongan adalah khayalan (anggapan, imajinasi yang sia-sia). Ia memiliki sifat sombong sebagai cirinya, memuji diri sendiri sebagai fungsinya, keinginan untuk mempromosikan diri sendiri bagaikan sebuah panji (bendera identitas) sebagai manifestasinya, keserakahan yang tidak terasosiasi dengan pandangan-salah sebagai sebab-langsungnya, dan harus dianggap sebagai (suatu bentuk) kegilaan.
Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa māna didefinisikan dalam empat batasan:
- Karakteristik: meninggikan atau menegakkan diri sendiri (unnati-lakkhaṇa).
- Fungsi: berusaha untuk memuji diri sendiri (sampaggaha-rasa).
- Manifestasi: menonjolkan diri (ketukamyatāpaccupaṭṭhāna).
- Sebab-terdekat: keserakahan yang tidak terkait dengan pandangan-salah (diṭṭhivippayuttalobhapadaṭṭhāna).
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa māna adalah faktor-mental yang membanggakan dirinya sendiri atau angkuh (maññatīti 'māno; Dhs-A 256), dan Buddhisme mengenal sembilan kesombongan, yaitu:
- Menganggap diri sendiri lebih baik dari orang lain (seyyohamasmi).
- Menganggap diri sendiri sama seperti orang lain (sadisohamasmi).
- Menganggap diri sendiri lebih rendah dari orang lain (hīnohamasmi).
Tiga bentuk kesombongan di atas bisa muncul berkaitan dengan keadaan di masa lalu, masa depan dan masa sekarang; dengan demikian, didapatkan sembilan variasi dari kesombongan.