Vegetasi
Vegetasi di Gunung Butak berbeda pada ketinggian tertentu. Spesies tanaman hasil inventarisasi menggunakan teori Franz Wilhelm Junghuhn via jalur Sirah-Kencong terbagi menjadi tiga kelompok ketinggian, yaitu ketinggian 1400–1500 mdpl, 1500–2500 mdpl dan 2500–2868 mdpl. Pada ketinggian 1400–1500 mdpl ditemukan spesies kecubung gunung (Brugmansia Suaveolens), paku (Diplazium esculentum), pisang batu (Musa acuminate), dan mlandingan gunung (Paraserianthes lophantha). Kemudian pada ketinggian 1500–2500 mdpl ditemukan spesies alang-alang (Imperata cylindrical), cantigi (Vaccinium Faringiaefolium), congkok (Curculigo sp), timun hutan (Trichosanthes cucumeroides maxim), bandotan (Ageratum conyzoides L.), walisongo (Schefflera sp.),dan kirinyuh (Eupatorium inulifolium Kunth). Sedangkan pada ketinggian 2500–2868 mdpl ditemukan spesies cemara (Casuarina junghuniana), edelweiss (Anaphalis Javanica), semanggi gunung (Marsilea crenata Presl), teklan (Ageratina riparia), arbei gunung (Rubus lineatus), dan gandarusa (Justicia gendarussa).
Jalur dan Estimasi Waktu Pendakian
Gunung Butak yang memiliki ketinggian 2.868 mdpl dapat didaki melalui jalur via Panderman, yang berlokasi di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur. Jalur ini dinamai demikian karena titik awal pendakiannya sama dengan jalur menuju Gunung Panderman. Jalur ini menjadi rute paling populer untuk mencapai puncak Gunung Butak, dengan estimasi waktu tempuh antara 8 hingga 12 jam.
Perjalanan dimulai dari pos perizinan menuju Pos 1 yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan. Pos ini dilengkapi fasilitas seperti sumber air dan musala. Lanjut ke Pos 2, jalur yang dilalui bervariasi antara tanjakan dan jalan landai. Salah satu bagian yang menantang adalah Tanjakan PHP (Pemberi Harapan Palsu) karena panjang dan cukup menguras tenaga.
Pos 2 memiliki area cukup luas untuk beristirahat, tetapi tidak ideal untuk berkemah karena tanah yang tidak rata dan berada di jalur lalu lintas pendaki. Sayangnya, di area ini sering ditemukan sampah sisa pendakian.
Jalur dari Pos 2 ke Pos 3 menjadi bagian yang paling landai dan menyenangkan, memakan waktu sekitar 2 jam. Di sini pendaki akan melewati hutan lumut yang rapat dan lembap. Pos 3 merupakan tempat yang direkomendasikan untuk berkemah karena datar dan cukup luas, tetapi perlu berhati-hati terhadap pohon tua yang rawan patah.
Pendakian dari Pos 3 ke Pos 4 cukup menanjak dan melewati kawasan Cemoro Kandang, area dengan dominasi pohon pinus dan tepi jurang. Meskipun melipir jurang, jalurnya relatif aman dan menyajikan panorama alam yang indah. Setelah melewati jalur ini, pendaki akan tiba di area sabana yang luas, dengan banyak sumber air dan tanaman edelweis, menjadi lokasi favorit untuk mendirikan tenda.
Dari sabana, puncak Gunung Butak sudah terlihat. Perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu sekitar 30–40 menit, dengan jalur menanjak yang konsisten. Dari atas puncak, pendaki disuguhi pemandangan indah Gunung Arjuno dan Welirang.[2]
Sebagai salah satu jalur populer, rute ini kerap menjadi pilihan berbagai kelompok pendaki, baik pemula maupun berpengalaman. Tantangan di jalur ini tidak hanya menarik bagi pendaki umum, tetapi juga telah dicatat dalam sejarah pendakian oleh kelompok pendaki dengan disabilitas.[3]