Gunung Gede (Aksara Sunda Baku: ᮌᮥᮔᮥᮀ ᮌᮨᮓᮦ, Gunung Gedé, Gunung Gumuruh,bahasa Belanda:Blaauwbergcode: nl is deprecated [2]) merupakan sebuah gunung berapi kerucut tipe A yang berada di bagian barat Pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini berada di dua wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, dengan ketinggian 1.000 - 2.962 mdpl, dan terletak pada garis lintang 106°51' - 107°02' BT dan 64°1' - 65°1 LS. Terdapat tiga kawasan urban yang mengelilingi gunung ini yaitu Bogor, Cianjur, dan Sukabumi yang masing-masing terletak di barat laut, timur, dan selatan di mana sekitar 4 juta jiwa menghuni ketiga kawasan urban tersebut.
Gunung ini merupakan Gunung ketiga tertinggi di Jawa Barat setelah Gunung Ceremai dan Gunung Pangrango. Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango sekitar 80 km sebelah selatan Jakarta, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.
Gunung Gede diselimuti oleh hutan pegunungan, yang mencakup zona-zona submontana, montana, hingga ke subalpin di sekitar puncaknya. Hutan pegunungan di kawasan ini merupakan salah satu yang paling kaya jenis flora di Indonesia, bahkan di kawasan Malesia.
Geologi dan Vulkanologi
Gunung Gede merupakan bagian dari sabuk alpida yang membentang sepanjang wilayah tengah dan selatan Jawa Barat. Gunung ini diperkirakan mulai terbentuk di Zaman Kuarter sekitar 3 juta tahun yang lalu.[3] Saat ini terdapat tujuh kepundan dimiliki oleh Gunung Gede, yaitu Kawah Baru, Gumuruh (2,927 m), Lanang (2,800 m), Leutik, Ratu (2,800 m, terbesar), Sela (2,709 m) and Wadon (2,600 m).
Gunung Gede dan Gunung Pangrango merupakan satu kesatuan komplek vulkanis, dengan Puncak Gede (yang sedikit lebih rendah) berada di sebelah tenggara dari puncak Gunung Pangrango. Kedua gunung ini dihubungkan oleh punggung gunung yang dinamakan Kandang Badak, di mana terdapat juga pos basis kemah disana yang digunakan pendaki dalam perjalanan menuju kedua puncak gunung.
Sejarah Letusan
Letusan 1747
Letusan Gunung Gede pertama kali tercatat di tahun 1747. Letusan pertama ini memiliki skala ledak VEI-3 dan menyebabkan 2 aliran lava bergerak dan terlihat dari kawah lanang. Lalu letusan yang lebih kecil terjadi kembali di tahun 1761, 1780, dan 1832.[4]
Letusan 1840
Pada 2 November 1840, Gunung Gede kembali meletus setelah hampir 100 tahun setelah letusan pertama, letusan tersebut berada pada skala ledak VEI-3 di jam 3 dini hari. Guncangannya terasa sangat hebat sampai membangunkan warga yang tertidur pulas. Letusan kedua tercatat sebagai letusan yang terbesar dan baru benar-benar berhenti pada Maret 1841.[5][6]
Letusan 1853
Letusan di tahun 1853 merupakan letusan besar yang berskala VEI-3, di mana letusan ini memporakporandakan Cianjur yang saat itu berstatus sebagai ibu kota dari Keresidenan Priangan. Sebagai dampak dari letusan ini, pemerintah Hindia Belanda lalu mulai perlahan-lahan memindahkan pusat pemerintahan ke Bandung, di mana Bandung di tahun 1864 secara resmi menjadi ibu kota karesidenan di bawah Residen van der Moor.[7][8]
Letusan 1957
Pada tahun 1900an, Gunung Gede kembali terjadi letusan-letusan kecil sebanyak 24 kali, di mana letusan ini cukup membahayakan untuk warga sekitar yang tinggal berdekatan dengan Gunung Gede. Letusan besar terakhir dari gunung ini tercatat pada tahun 1957 dengan skala ledak VEI-2.
Potensi letusan di masa depan
Jika terjadi letusan kembali di gunung ini, maka daerah kaki gunung sebelah utara seperti Cipanas dan Pacet diperkirakan akan terkena dampak terbesar. Banyaknya populasi di dekat kaki Gunung Gede yang dihuni oleh sekitar 4 juta penduduk, dapat berpotensi menimbulkan kerusakan parah jika benar-benar terjadi letusan besar.[9]
Rute Pendakian
Gerbang utama menuju gunung ini adalah dari jalur Cibodas dan Cipanas (Gunung Putri) di utara serta jalur Salabintana di arah selatan yang tidak begitu banyak dilalui pendaki. Untuk mencapai lokasi pintu masuk Taman Nasional Gede Pangrango bisa ditempuh melalui rute Jakarta-Bogor-Cibodas dengan waktu sekitar 2,5 jam (± 80km) menggunakan mobil, atau Bandung-Cipanas-Cibodas dengan waktu 2 jam (± 89km), dan Bogor-Sukabumi-Salabintana dengan waktu 2 jam (62km).
Sejarah Pendakian
Gunung Gede mempunyai keadaan alam yang khas dan unik, hal ini menjadikan Gunung Gede sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama.
Suhu rata-rata di puncak gunung Gede adalah 13°C di siang hari dan di malam hari suhu puncak berkisar 5°C, Pada musim kemarau suhunya bisa mencapai -1°C, dengan curah hujan rata-rata 3.600 - 4.000mm/tahun.[12]
Hidrologi DAS
Kompleks gunung Gede merupakan daerah tangkapan air hujan, menyerap dan melepaskannya secara bertahap ke banyak anak sungai dan sumber mata air di sekitarnya. Kawasan tersebut menjadi penunjang sumber air tanah bagi wilayah Cianjur, dan Sukabumi. Gunung Gede juga merupakan bagian dari Taman Nasional Gede-Pangrango dengan hutan hujan tropis pegunungan yang memiliki fungsi penting dalam siklus hidrologi. Selain itu, hutan juga memiliki fungsi ekologis seperti penyedia oksigen, penyerap karbon dioksida, dan pelestarian keanekaragaman hayati.[13]
Gunung Gede menjadi pembatas antara DAS Citarum di sebelah timur dengan DAS Cimandiri di sebelah selatan.[14]
DAS Citarum (lereng timur)
melalui sub-DAS Cikundul, alirannya masuk ke wilayah Cipanas dan bermuara di waduk Cirata melalui sungai Cikundul.
melalui sub-DAS Cisokan, alirannya masuk ke wilayah Cianjur, bermuara di waduk Cirata melalui sungai Cisokan.
Gunung Gede terkenal kaya akan berbagai jenis burung penghuninya yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis burung yang terdapat di Pulau Jawa. Beberapa jenis di antaranya merupakan burung langka yaitu elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan celepuk jawa (Otus angelinae).
Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977,[15] dan sebagai Sister Park (taman saudari) dengan Hutan Rekreasi Alam Yumyeongsan di Korea Selatan di tahun 2007.[16]
Objek Pariwisata
Gunung Gede sebagai bagian dari kawasan Taman Nasional Gede Pangrango juga menyajikan objek-objek wisata alam yang menarik dan banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun internasional.
Beberapa lokasi/objek yang menarik untuk dikunjungi
Telaga Biru. Danau kecil berukuran lima hektare (1.575 meter dpl.) terletak 1,5km dari pintu masuk Cibodas. Danau ini selalu tampak biru diterpa sinar matahari, karena ditutupi oleh ganggang biru.
Air terjun Cibereum (I). Air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar 50 meter terletak sekitar 2,8km dari Cibodas. Di sekitar air terjun tersebut pengunjung dapat melihat sejenis lumut merah yang endemik di daerah Jawa Barat.
Air terjun Cibereum (II). Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 60 meter dan terletak sekitar 2,5km dari Perbawati, Sukabumi. Terletak di antara jalur pendakian via Salabintana.
Sumber Air Panas Cibodas. Terletak sekitar 5,3km atau 2 jam perjalanan dari Cibodas, berada di jalur pendakian via Cibodas.
Kandang Batu dan Kandang Badak. Tempat singgah untuk kegiatan berkemah dan pengamatan flora/fauna. Berada di ketinggian 2.220 mdpl dengan jarak 7,8km atau 3,5 jam perjalanan dari Cibodas.
Puncak dan Kepundan Gunung Gede. Panorama berupa pemandangan matahari saat terbenam/terbit, hamparan Cianjur-Sukabumi-Bogor terlihat dengan jelas ketika cuaca cerah, dengan atraksi geologi yang menarik dan pengamatan tumbuhan khas sekitar kepundan. Di puncak ini terdapat tiga kepundan yang masih aktif dalam satu kompleks yaitu kawah Lanang, Ratu, dan Wadon. Puncak Gunung Gede berada pada ketinggian 2.962 mdpl dengan jarak 9,7km atau 5 jam perjalanan dari Cibodas.
Alun-Alun Suryakencana. Dataran lembah seluas 50 hektare yang ditutupi hamparan bunga edelweiss. Berada pada ketinggian 2.750 mdpl dengan jarak 11,8km atau 6 jam perjalanan dari Cibodas.
Legenda Rakyat
Sejarah dan legenda yang dipercayai oleh masyarakat setempat terutama Cianjur yaitu tentang keberadaan Eyang Suryakancana. Suryakancana adalah putra dari Dalem Cikundul atau Raden Aria Wira Tanu I, pendiri dan bupati pertama dari Cianjur, di mana Suryakencana adalah hasil dari pernikahannya dengan putri jin. Masyarakat percaya bahwa Eyang Suryakencana yang notabenenya adalah bangsa jin, masih bermukim di sekitar Gunung Gede, dan menjadi penguasa bangsa jin di gunung tersebut. Pada saat tertentu, banyak orang khususnya penganut agama Sunda Wiwitan masuk ke goa-goa di sekitar Gunung Gede untuk semadi, bertapa maupun melakukan upacara religius.
↑Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (2018). Wiharisno, J., dan Mahyar, A. (ed.). "Ayo ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango"(PDF). Sistem Informasi Manajemen Daerah Penyangga Kawasan Konservasi dan Kemitraan Konservasi. hlm.10. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2022-06-27. Diakses tanggal 2023-06-20.Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link)