Litografi tahun 1880-an yang menggambarkan Gunung Pangrango dilihat dari Kebun Raya Bogor
Gunung Pangrango (Aksara Sunda Baku: ᮌᮥᮔᮥᮀ ᮕᮀᮛᮍᮧ) merupakan sebuah gunung berapi tidak aktif yang terdapat di bagian barat pulau Jawa, Indonesia yang merupakan bagian dari kawasan vulkanik Busur Sunda. Gunung Pangrango mempunyai ketinggian setinggi 3.026 mdpl.[1] Puncaknya dinamakan Puncak Mandalawangi, dimana puncak ini merupakan titik pertemuan batas tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi.
Asal nama Pangrango diduga berasal dari dua kata Sunda kuno yaitu pang and rango yang masing-masing berarti "mendengus" dan "mengepul" yang mengacu pada aktivitas vulkanis gunung ini di masa lalu.[2]
Geologi & Vulkanologi
Gunung Pangrango termasuk salah satu gunung yang bisa terbilang berusia muda.[3] Gunung ini tumbuh di dinding timur laut dari kaldera Gunung Pangrango Purba, di mana pembentukannya terjadi selama periode Kuarter sekitar 3 juta tahun yang lalu. Gunung ini terbentuk dari proses subduksi pulau Jawa yang berada di atas Lempeng Sunda dengan Samudra Hindia yang merupakan bagian dari Lempeng Indo-Australia. Pada awalnya, Gunung Pangrango merupakan gunung berapi yang aktif.[4] Namun, statusnya telah dinyatakan sebagai gunung berapi yang sudah mati dikarenakan tidak adanya aktivitas vulkanis sejak abad 16.[5]
Sejarah letusan
Pembentukan formasi Qvpo
Letusan-letusan yang dihasilkan oleh Gunung Pangrango terdiri dari batuan vulkanik kuarter, di mana aktivitas vulkanis Gunung Pangrango berlangsung lebih awal dari Gunung Gede yang saat ini masih aktif. Bebatuan ini menjadi pembentuk formasi Qvpo di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Formasi Qvpo terbentuk di bagian utara, barat laut dan barat daya dari kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jenis bebatuannya meliputi endapan tua, lahar, lava, dan basal andesit. Basal andesit yang dihasilkannya mengandung oligoklas dan dibedakan menjadi andesin, labradorit, olivin, piroksen dan horenblenda.[4]
Geografi
Gunung Pangrango adalah gunung berapi non aktif yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, sekitar 80 kilometer (50mi) sebelah selatan Jakarta. Gunung Pangrango terhubung langsung dengan Gunung Gede oleh sebuah dataran pelana yang dinamai Kandang Badak.[6] Kandang Badak merupakan tepian dari kaldera gunung yang berbentuk seperti pelana. Lokasi Kandang Badak berada di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut.[3] Karena letak Gunung Pangrango yang berdekatan dengan Gunung Gede, nama taman nasionalnya disebut sebagai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.[7]
Di puncak Gunung Pangrango yang rata terdapat sebuah dataran bernama alun-alun Mandalawangi dengan luas sekitar 4,39 hektar. Di alun-alun Mandalawangi tidak terdapat kawasan hutan karena tanahnya yang tandus dan sering terbentuk kabut yang dingin. Namun, alun-alun Mandalawangi menjadi habitat alami bagi tumbuhan edelweis.[8]
Bentuk
Gunung Pangrango adalah salah satu dari tiga gunung berapi yang tertinggi di Jawa Barat,[6] di mana gunung ini merupakan gunung tertinggi kedua setelah Gunung Ceremai.[9] Ketinggian dari puncak Gunung Pangrango adalah 3.026 meter di atas permukaan laut dengan puncak topografi 2,426m (7,96ft).[10] Gunung ini dapat terlihat jelas dari arah Kota Bogor dan Sukabumi, namun sedikit terhalang oleh Gunung Gede jika dilihat dari arah Cianjur. Pada hari yang sangat cerah, gunung ini bisa terlihat dari arah Jakarta.[11]
Bentuk Gunung Pangrango mengerucut hingga ke puncaknya dengan bentuk permukaan yang rata.[3] Gunung Pangrango digolongkan sebagai gunung berapi kerucut karena bentuk kerucutnya hampir sempurna, di mana kerucut puncak gunung ini tumbuh di tepian Kaldera dari Gunung Pangrango Purba atau Gunung Limo.[9][12] Lereng Gunung Pangrango sangat curam, sementara punggung gunungnya panjang dengan bagian lembah yang dalam.[13]
Hidrologi DAS
Kompleks gunung Pangrango merupakan daerah tangkapan air hujan, menyerap dan melepaskannya secara bertahap ke banyak anak sungai dan sumber air tanah di sekitarnya. Menjadi penunjang sumber air tanah bagi wilayah sekitarnya seperti Bogor, Cipanas, dan Sukabumi. Hal ini dikarenakan kawasan tersebut adalah hutan hujan tropis pegunungan yang memiliki fungsi penting dalam siklus hidrologi. Selain fungsi hidrologis, hutan Gunung Pangrango juga memiliki fungsi ekologis penting lainnya, seperti penyedia oksigen, penyerap karbon dioksida, dan pelestarian keanekaragaman hayati.[10]
Puncak gunung Pangrango menjadi titik pertemuan 4 daerah aliran sungai diantaranya DAS Ciliwung dibagian utara, DAS Citarum dibagian timur, DAS Cimandiri dibagian selatan serta DAS Cisadane dibagian barat. Secara hidrologi, komplek gunung Pangrango dapat dibagi menjadi dua bagian kelompok daerah aliran sungai atau DAS. Kelompok DAS yang mengalirkan alirannya menuju pesisir utara pulau Jawa yaitu DAS Cisadane, DAS Ciliwung, DAS Citarum. Kelompok DAS yang mengalirkan alirannya menuju pesisir barat daya pulau Jawa yaitu DAS Cimandiri.[14]
Pada siang hari, suhu udara di puncak Mandalawangi rata-rata sebesar 10°C. Sementara pada malam hari suhunya rata-rata sebesar 5°C. Pada musim kemarau, suhu udara di puncak Gunung Pangrango dapat mencapai rata-rata sebesar -1°C.[15]
Pendakian
Puncak Gunung Pangrango dapat dicapai melalui jalur pendakian tercepat yang berbentuk persimpangan pelana di Kandang Badak dari jalur Cibodas.[16] Jarak ke puncak Gunung Pangrango sekitar 4 jam pendakian dari Kandang Badak.[16] Jalur lain yang dapat digunakan untuk menuju ke puncak Gunung Pangrango adalah Jalur Gunung Putri (Cipanas) atau Jalur Salabintana (Perbawati), di mana pendaki harus melewati puncak Gunung Gede terlebih dahulu sebelum turun menuju ke Kandang Badak. Puncak Gunung Pangrango cukup sulit untuk didaki karena lerengnya yang terjal dan hampir mendekati posisi tegak atau vertikal.[9] Jalur Salabintana jarang digunakan oleh pendaki karena memerlukan waktu pendakian yang lebih lama dikarenakan jalurnya yang lebih panjang. Selain itu, jalur Salabintana juga cukup sulit dilewati karena pepohonan yang lebat, tanahnya lebih berlumpur, dan banyak dihuni oleh pacet.[17]
Galeri
Gunung Pangrango dilihat dari Cisarua
Gunung Pangrango terlihat dari puncak Gunung Gede di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Gunung Pangrango dilihat dari Puncak Gunung Gede
Gunung Pangrango dilihat dari Cibodas
Gunung Pangrango yang sebagian tertutupi awan dilihat dari drone
↑Supriatna, Jatna (2014). Yanwardi (ed.). Berwisata Alam di Taman Nasional. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm.162. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-08-10. Diakses tanggal 2023-06-20.
12Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (2018). Wiharisno, J., dan Mahyar, A. (ed.). "Ayo ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango"(PDF). Sistem Informasi Manajemen Daerah Penyangga Kawasan Konservasi dan Kemitraan Konservasi. hlm.10. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2022-06-27. Diakses tanggal 2023-06-20.Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link)
↑Agustin, Fitriani (2019-02-04). "Volkanostratigrafi Inderaan Jauh Kompleks Gunungapi Gede dan Sekitarnya, Jawa Barat, Indonesia". Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral. 20 (1): 9–16. doi:10.33332/jgsm.2019.v.20.1.9-16.
↑Sya, A., dan Hotimah, O. (2021). Manajemen Ekowisata. Jakarta Timur: UNJ Press. hlm.79. ISBN978-623-7518-54-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-08-10. Diakses tanggal 2023-06-20.Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
12Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. "Peta Pendakian"(PDF). Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2023-02-02. Diakses tanggal 2023-06-20.