Golek (Carakan: ꦒꦺꦴꦭꦺꦏ꧀; pengucapan bahasa Jawa:[ɡolɛk]) merupakan bentuk tarian Jawa klasik yang berasal dari Yogyakarta, Indonesia. Tarian ini awalnya digubah sebagai tarian rakyat, kemudian diterima oleh kalangan bangsawan tinggi untuk diajarkan dan dikembangkan di keraton. Gerak utama tarian ini mengadopsi kesenian Lèdhèk, yang kemudian dihaluskan agar sesuai dengan estetika keraton. Di Keraton Yogyakarta, tari Golek ditetapkan sebagai bagian dari tiga tarian putri inti, selain Bedaya dan Srimpi.
Etimologi
Kata golèk dalam bahasa Jawa memiliki dua makna. Pertama, golèk berarti "mencari", yang dalam konteks tari Golek merujuk pada pencarian jati diri penari menuju kedewasaan. Kedua, golèk merujuk pada pertunjukan wayang golek, boneka kayu yang ditampilkan sebagai penutup pergelaran wayang kulit purwa. Penampilan wayang golek sebagai penutup itu dimaksudkan agar penonton dapat mengambil kesimpulan dan mencari hal-hal baik untuk diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Makna ini juga sesuai dengan awal kemunculan tari Golek yang pada masa awalnya memang ditampilkan sebagai pertunjukan penutup.[1][2][3]
Penciptaan
Tari Golek pada mulanya merupakan tari rakyat yang berakar dari tiga sumber, yaitu wayang golek, tari Lèdhèk, dan tari Klana Alus. Ketiganya kemudian diserap ke dalam lingkungan istana dan diolah kembali sesuai tata krama keraton hingga terbentuk menjadi tari Golek seperti yang dikenal saat ini.[4][5] Tarian ini juga sering disandingkan dengan Tari Gambyong dari Surakarta yang sama-sama mengadopsi gerak seni Lèdhèk.
Tari Golek tercipta berkat Hamengkubuwana VII (1877–1921) ketika masih bergelar Pangeran Mangkubumi. Pada awalnya, Pangeran Mangkubumi menciptakan tari Golek secara tunggal yang ditarikan pada akhir pergelaran Langendriya, yakni opera tari Jawa dengan lakon Damarwulan yang juga dikenal dengan sebutan Langendriyan.[6][7] Golek-golek yang lahir pada masa ini umumnya diproses di luar tembok istana oleh para kreator seni tari dan karawitan, yang kebanyakan terdiri dari para pangeran dan bangsawan yang juga memiliki tugas di dalam keraton.[8] Awalnya tarian ini dibawakan oleh para waranggana di luar istana, namun setelah masuk ke lingkungan keraton ditarikan oleh penari laki-laki, karena penari putri di keraton pada masa itu hanya diperbolehkan menarikan Bedaya atau Srimpi.[6]
Meskipun tergolong tari putri, tari Golek memiliki karakter yang sangat berbeda dibandingkan Bedaya ataupun Srimpi. Banyak pengolahan gerak yang bersifat menggoda dan ekspresif, sehingga ketika pertama kali ditarikan oleh putri Hamengkubuwana IX, Muryuwati Darmakusuma tarian ini menarik perhatian masyarakat yang luar biasa. Sejak itulah pandangan masyarakat terhadap tari Golek berubah menjadi positif. Tarian ini kemudian tidak lagi diasosiasikan dengan citra Lèdhèk atau penari jalanan, dan statusnya meningkat dengan disebut sebagai Beksan Golek, menandai peralihannya menjadi tari klasik. Sejak keraton mengadakan kegiatan gladhen (latihan) di Bangsal Kasatriyan pada tahun 1973, tari Golek secara bertahap menjadi materi bagi para penari putri di keraton.[2][6]
Penampilan
Ragam gerak
Tari Golek menggambarkan seorang gadis muda yang beranjak dewasa, senang merawat tubuh (ngadi salira) dan bersolek (ngadi busana), sehingga gerak-geraknya berkesan riang, lincah, dan penuh semangat. Struktur gerak tari Golek Putri terbagi menjadi tiga bagian utama.[1][2][7][9][10]
Maju Gendhing (Maju Beksan) — bagian pembuka yang diawali dengan gerak sembahan, yakni posisi kedua tangan mengatup dengan ibu jari menyentuh ujung hidung sebagai ungkapan hormat kepada Sultan dan tamu yang hadir, sekaligus secara tidak langsung mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Penari kemudian melakukan kapang-kapang encot memasuki area pementasan.
Jogedan (Inti Beksan) — bagian inti yang berisi rangkaian gerak menggambarkan seorang gadis yang berhias untuk tampil cantik dan menarik. Gerak dasar pada bagian ini disebut muryani busana, yakni rangkaian gerak berhias diri yang mencakup ukelan, atrap cundhuk (memasang hiasan sanggul), atrap sumping, atrap jamang (memasang jamang), tasikan (memakai bedak), atrap slepe (memasang sabuk), miwir rikma (merapikan rambut), dan dolanan supe (memain-mainkan cincin). Ragam gerak lain yang dalam bagian ini antara lain thinthingan, kicatan, ngilo (berkaca), nggrudha, pendhapan, sabetan, aburan, lampah kanggeg, gobyogan, ulap-ulap, dan sebagainya. Pada beberapa varian, terdapat pula ragam gerak adus (mandi) yang diwujudkan dalam rangkaian seperti adus blumbang mbiyak toya, adus sarwi raup, dan adus ciblon. Varian Golek lain memiliki ragam muryani busana yang lebih beragam, di antaranya ngunggar sinom, atrap bara, nyawang supe, lembehan, dolanan sonder, atur-atur, menjangan ranggah, dan sekar suwun.
Mundur Beksan — bagian penutup yang diakhiri dengan gerak sembahan dalam posisi duduk dan kapang-kapang sebagai pamitan kepada penonton.
Tata musik
Tari Golek diiringi oleh gamelan Jawagagrag Yogyakarta dengan irama yang cenderung lebih cepat, ramai, dan nyaring (soran) dibandingkan iringan untuk Bedaya maupun Srimpi. Alat musik yang digunakan terdiri dari kendang, saron, bonang, kenong, dan gong.[5] Penabuhan gamelan juga sering disisipi senggakan oleh para gerong, yaitu vokal sahutan yang menambah semarak suasana pertunjukan. Seperti dalam Bedaya dan Srimpi, penamaan tari Golek mengambil nama dari gending pokok pengiringnya. Gending yang digunakan pada satu varian bisa berbeda garap atau teknik dengan gending bernama sama di Keraton Surakarta, meskipun namanya serupa.[11]
Tata busana
Busana tari Golek Putri terdiri dari jarik batik bermotif Parang Rusak, stagen, baju rompen (rompi) beludru bersulam benang emas, dan sampur atau sondher cinde. Aksesori yang dipakai meliputi jamang elar (ikat kepala berhias bulu itik serati), godheg, sumping, subang ronyok, slepe, kalung sungsun, sanggul dengan sinyong, ceplok jebehan, cundhuk jungkat dan cundhuk menthul, serta gelang dan cincin. Properti utama yang harus ada pada busana adalah sampur (selendang), karena juga difungsikan dalam gerak tari, misalnya untuk mempersonifikasikan gerak terbang maupun berkaca.[2][7]
Pada masa awal sebelum masuk keraton, penari Golek menggunakan busana sederhana berupa nyamping, kebaya, dan sanggul ukel tekuk karena pada saat itu tarian ini masih dibawakan oleh waranggana. Ketika tampil dalam pergelaran Langendriya, penari menggunakan baju berlengan panjang, kain bermotif parang, serta hiasan kepala berupa jamang model tinggi dengan bulu-bulu, yang merupakan rancangan dari KRT Wiroguno. Di kemudian hari, penari Golek mengenakan busana berupa mekak, kemben, atau semekan, kain bermotif parang, serta sanggul ukel tekuk yang dihiasi jungkat, mentul, bunga ceplok jebehan, dan lancur (bulu burung kuntul).[7]
Variasi
Di Yogyakarta, tari Golek memiliki banyak varian yang masing-masing dinamai sesuai gending pengiringnya. Berikut adalah varian-varian tari Golek yang dikenal.[6]
Golèk Ayun-ayun — diciptakan oleh KRT. Sasmintadipura pada tahun 1976 dan pernah menjadi tarian favorit di Istana Negara, serta digunakan dalam misi kesenian ke Jepang. Tarian ini kerap ditampilkan dalam penyambutan tamu kehormatan.[12]
Golèk Bawaraga — varian dengan iringan gending Asmaradana, menggambarkan remaja putri yang bersolek.
Golèk Clunthang — diiringi Gending Clunthang. Termasuk dalam tiga tarian yang dihadiahkan Kesultanan Yogyakarta kepada Mangkunegara VII pada upacara pernikahannya.
Golèk Gambirsawit — varian dengan iringan gending Gambirsawit.
Golèk Gambyong — varian yang memadukan unsur gerak Golek dengan gaya tari Gambyong.
Golèk Kenyatinembé — pertama kali disusun pada tahun 1976 oleh KRT. Sasmintadipura, diperuntukkan sebagai bahan ajar dengan koreografi dan varian gerak yang tidak rumit serta pola lantai simetris yang sederhana.
Golèk Kutut Manggung — varian dengan iringan gending Kutut Manggung.
Golèk Montro — nama Montro diambil dari gending Montro yang dipadukan dengan Ladrang Asmaradana. Tarian ini berkisah tentang putri-putri keraton yang beranjak dewasa sedang bersolek untuk menyambut kedatangan tamu agung, dan dianggap sakral karena harus ditempatkan di awal acara.
Golèk Renyep — varian dengan iringan gending Renyep.
Golèk Sulung Dayung — diiringi Gending Ladrang Surungdayung. Mengisahkan seorang perempuan muda yang memperhatikan penampilan diri, dituangkan dalam gerakan seperti bercermin dan memakai perhiasan.
Golèk Sumyar — varian dengan iringan gending Sumyar.
Pelestarian
Keraton Yogyakarta secara rutin menampilkan tari Golek dalam pergelaran Uyon-Uyon Hadiluhung, sebuah pagelaran gending dan beksan yang diselenggarakan setiap Senin Pon oleh Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhamardawa dalam rangka memperingati hari kelahiran Hamengkubuwana X. Tari Golek yang ditampilkan dalam pergelaran ini merupakan salah satu tari Golek kuno yang dahulu biasa dibawakan para waranggana. Varian yang dipilih berbeda-beda setiap penyelenggaraan, bergantung pada keputusan KHP Kridhamardawa.[14]
Di luar keraton, salah satu lembaga yang paling berperan dalam pelestarian tari Golek adalah Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM) yang berpusat di Dalem Pujokusuman, Yogyakarta. Pada tahun 2011, Dalem Pujokusuman ditetapkan sebagai pusat seni tari gaya Yogyakarta oleh Pemerintah Provinsi DIY. Kiprah YPBSM yang rutin menyelenggarakan pendidikan tari di tempat ini telah melestarikan tari klasik dan melahirkan banyak penari andal. Setiap hari Selasa Legi, YPBSM menyelenggarakan gelaran Selasa Legen di Dalem Pujokusuman sebagai bentuk pengenangan terhadap KRT Sasmintadipura, maestro tari klasik gaya Yogyakarta yang banyak menciptakan varian tari Golek.[15][16][17]
Seperti halnya Bedaya dan Srimpi, tari Golek juga dikembangkan oleh istana-istana pecahan Kesultanan Mataram lainnya. Di Pura Mangkunegaran, pada masa pemerintahan Mangkunegara VII terdapat sejumlah repertoar tari Golek, di antaranya Golek Lambangsari dan Golek Clunthang. Nama-nama repertoar tersebut juga terdapat dalam tari gaya Yogyakarta, namun tidak dijumpai di Kasunanan Surakarta, meski secara geografis Mangkunegaran merupakan bagian dari wilayah Surakarta. Ini mencerminkan eratnya hubungan budaya antara Kadipaten Mangkunegaran dan Kesultanan Yogyakarta, yang terjalin melalui penghadiahan tari Golek Lambangsari oleh Hamengkubuwana VII kepada Pura Mangkunegaran pada tahun 1916.[9][18]
Berbeda dengan Bedaya dan Srimpi yang umumnya bersifat eksklusif, beberapa varian tari Golek diperbolehkan untuk ditarikan masyarakat umum di luar keraton. Sejak masa pemerintahan Hamengkubuwana VII, pada awalnya telah dibuka kesempatan bagi orang-orang di luar keraton untuk mempelajari tari klasik. Saat ini, tari Golek tidak lagi terbatas di keraton, tarian ini telah menyebar dan diajarkan di banyak sanggar tari dan lembaga pendidikan formal. Di luar keraton, tari Golek sering dipentaskan untuk berbagai keperluan seperti hiburan, resepsi pernikahan, upacara pembukaan, penyambutan tamu, dan pertunjukan wisata di hotel atau restoran.[3][19][20]
Referensi
12Priyono, Rohmad Eko; Rahmawati, Junende (2025). "Karya Tatah Sungging Non Wayang Produk Aksesori Kulitan Tari Gagrak Yogyakarta". Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya. 22 (1): 18–33. doi:10.33153/ornamen.v22i1.7017.
↑Pramutomo, R.M.; Sriyadi (2025). Dokumentasi Tari Klasik Gaya Yogyakarta Berbasis Metode Penelitian Arsip. Yogyakarta: UPT Taman Budaya, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. ISBN978-623-98370-4-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)