Gempa bumi Jawa 1926 terjadi pada 17:34 waktu setempat, tanggal 10 September di Pulau Jawa. Gempa tersebut memiliki besaran 7.1 Mw dengan intensitas maksimum yang dirasakan sebesar VII (Merusak) atau VIII (Sangat merusak) pada skala makroseismik Eropa.
Kondisi tektonik
Pulau Jawa terletak pada batas lempeng konvergen antara Lempeng Australia dan Lempeng Sunda. Konvergensi antara lempeng-lempeng ini sangat curam di dekat selatan Pulau Jawa, dengan perpindahan yang digerakkan oleh Patahan dip-slip murni di sepanjang zona subduksi (yang dikenal sebagai zona subduksi Sunda). Secara historis, gempa bumi besar pernah tercatat di daerah ini seperti pada tahun 1867, 1875, 1926, 1937, dan 1943.[2]Gempa bumi di Yogyakarta pada 27 Mei 2006, merupakan patahan dangkal pada lempeng Sunda di dekat pesisir Jawa, menyebabkan lebih dari 5.000 korban jiwa, hampir 40.000 orang luka-luka, dan menyebabkan kerusakan besar.[3]
Dampak
Gempa bumi tersebut terjadi pada sore hari, pukul 17:34 waktu setempat. Gempa tersebut menyebabkan cerobong asap PG yang terbuat dari batu bata runtuh, cerobong asap tersebut kemudian dibangun kembali dan dimulai dari tahun 1926 dan baru selesai pada 1927, pembangunan tersebut dikerjakan oleh arsitek dari Semarang, Van Oyen.[4] Meskipun tidak banyak yang tahu tentang gempa tersebut, dan sangat sedikit catatan sejarah dalam peristiwa ini, gempa bumi tersebut merupakan yang terbesar di Pulau Jawa, sejak gempa besar lainnya pada tahun 1867.