ENSIKLOPEDIA
Erich von Manstein
| Erich von Manstein | |
|---|---|
Manstein pada tahun 1938 | |
| Nama lahir | Fritz Erich Georg Eduard von Lewinski |
| Lahir | (1887-11-24)24 November 1887 Berlin, Provinsi Brandenburg, Kerajaan Prusia, Kekaisaran Jerman |
| Meninggal | 10 Juni 1973(1973-06-10) (umur 85) Irschenhausen, Bavaria, Jerman Barat |
| Pengabdian | |
| Dinas/cabang | |
| Pangkat | Generalfeldmarschall |
| Komandan | |
| Perang/pertempuran |
|
| Penghargaan | Salib Ksatria dari Salib Besi dengan Daun Ek dan Pedang |
| Pasangan | |
| Hubungan |
|
| Anak | 3 |
| Tanda tangan | |
| Hukuman kriminal | 18 tahun penjara; diringankan menjadi 12 tahun penjara |
| Alasan | Kejahatan perang (9 dakwaan) |
| Perincian | |
| Korban | |
Erich von Manstein (lahir Fritz Erich Georg Eduard von Lewinski; 24 November 1887 – 10 Juni 1973) adalah seorang perwira militer Jerman yang berpangkat Generalfeldmarschall (Marsekal lapangan) dalam Heer (Angkatan Darat) Jerman Nazi selama Perang Dunia II. Ia kemudian dinyatakan bersalah atas kejahatan perang dan dijatuhi hukuman 18 tahun penjara.
Lahir dari keluarga aristokrat Prusia yang memiliki sejarah panjang dalam dinas militer, Manstein bergabung dengan angkatan darat sejak usia muda dan bertugas baik di Front Barat maupun Front Timur selama Perang Dunia I (1914–1918). Ia mencapai pangkat kapten pada akhir perang dan aktif selama periode antarperang untuk membantu Jerman membangun kembali angkatan bersenjatanya. Pada September 1939, saat terjadi invasi Polandia di awal Perang Dunia II, ia menjabat sebagai Kepala Staf Grup Angkatan Darat Selatan pimpinan Gerd von Rundstedt. Adolf Hitler memilih strategi Manstein untuk invasi Prancis pada Mei 1940, sebuah rencana yang kelak disempurnakan oleh Franz Halder dan anggota OKH lainnya.
Karena mengantisipasi reaksi keras dari Sekutu jika serangan utama invasi dilakukan melalui Belanda, Manstein merancang sebuah operasi inovatif untuk menginvasi Prancis—yang kelak dikenal sebagai Sichelschnitt ("potongan sabit")—yang menekankan serangan melalui hutan Ardennes dan gerak maju yang cepat menuju Selat Inggris, sehingga memutus jalur pasukan Prancis dan Sekutu di Belgia dan Flandria. Setelah meraih pangkat General der Infanterie pada akhir kampanye tersebut, ia aktif dalam invasi Uni Soviet pada Juni 1941. Ia memimpin pasukan Poros dalam Pengepungan Sevastopol (1941–1942) dan Pertempuran Semenanjung Kerch, serta dinaikkan pangkatnya menjadi Generalfeldmarschall pada 1 Juli 1942, sebelum setelah itu ia ikut serta dalam Pengepungan Leningrad.
Pada Desember 1942, di tengah Pertempuran Stalingrad yang membawa bencana bagi Jerman, Manstein memimpin operasi penyelamatan yang gagal ("Operasi Badai Musim Dingin"). Kelak dikenal sebagai "pukulan balik" (backhand blow), serangan balik Manstein dalam Pertempuran Kharkov Ketiga (Februari–Maret 1943) berhasil merebut kembali wilayah yang luas, menghancurkan tiga angkatan darat Soviet, dan memaksa tiga angkatan darat lainnya mundur. Ia merupakan salah satu panglima utama dalam Pertempuran Kursk (Juli–Agustus 1943). Perselisihannya yang terus berlanjut dengan Hitler mengenai jalannya perang berujung pada pemecatannya pada Maret 1944. Ia tidak pernah lagi mendapatkan komando militer dan ditawan oleh pasukan Britania pada Agustus 1945, tiga bulan setelah kekalahan Jerman.
Manstein memberikan kesaksian dalam Pengadilan Utama Nuremberg untuk penjahat perang pada Agustus 1946. Ia juga menyusun sebuah dokumen yang, bersama dengan memoar yang ditulisnya kelak, turut menumbuhkan mitos Wehrmacht yang bersih—sebuah mitos bahwa angkatan bersenjata Jerman tidak bersalah atas kekejaman Holokaus. Pada tahun 1949, ia diadili di Hamburg atas kejahatan perang dan dinyatakan bersalah atas sembilan dari tujuh belas dakwaan, termasuk perlakuan buruk terhadap tawanan perang dan kegagalan melindungi nyawa warga sipil di wilayah operasinya. Hukuman 18 tahun penjaranya kemudian dikurangi menjadi 12 tahun, dan ia menjalani hukuman kurang dari empat tahun sebelum akhirnya dibebaskan pada 1953.
Sebagai penasihat militer untuk pemerintah Jerman Barat pada pertengahan 1950-an, ia membantu membangun kembali angkatan bersenjata negara tersebut. Memoarnya, Verlorene Siege (1955), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai Lost Victories, sangat kritis terhadap kepemimpinan Hitler, serta hanya hanya membahas aspek militer dari perang tersebut dan mengabaikan konteks politik dan etisnya. Manstein meninggal dunia di dekat München pada tahun 1973.
Kehidupan awal
Manstein lahir dengan nama Fritz Erich Georg Eduard von Lewinski di Berlin dari keluarga bangsawan Lewinski. Ia merupakan putra kesepuluh dari seorang aristokrat dan jenderal artileri Prusia, Eduard von Lewinski (1829–1906), dan Helene von Sperling (1847–1910). Keluarga ayahnya memiliki garis keturunan Kasubia dan berhak menggunakan Lambang kebesaran Brochwicz (Brochwicz III).[2] Hedwig von Sperling (1852–1925), adik perempuan Helene, menikah dengan Letnan Jenderal Georg von Manstein (1844–1913). Karena pasangan ini tidak bisa memiliki anak, mereka kemudian mengadopsi Erich. Sebelumnya, mereka juga telah mengadopsi sepupu Erich yang bernama Martha, yaitu putri dari almarhum saudara laki-laki Helene dan Hedwig.[3]
Baik ayah kandung maupun ayah angkat Manstein sama-sama seorang jenderal Prusia, begitu pula dengan saudara laki-laki ibunya dan kedua kakeknya. Kakek dari pihak ayahnya, Albrecht Gustav von Manstein, pernah memimpin sebuah korps dalam Perang Prancis-Prusia tahun 1870–1871, sedangkan kakek dari pihak ibunya, Oskar von Sperling, menjabat sebagai kepala staf Angkatan Darat Pertama. Sebanyak enam belas kerabat dari masing-masing silsilah keluarganya merupakan perwira militer, dan banyak di antara mereka yang berhasil mencapai pangkat jenderal. Paul von Hindenburg, yang kelak menjadi Generalfeldmarschall dan Presiden Jerman, adalah pamannya; istri Hindenburg, Gertrud, merupakan saudara perempuan dari Hedwig dan Helene.[4]
Manstein menempuh pendidikan di Lyzeum Kekaisaran, sebuah gimnasium Katolik di Strasbourg, dari tahun 1894 hingga 1899.[5] Setelah itu, ia masuk ke Korps Kadet. Selama menjadi kadet, Manstein dinilai sebagai sosok yang cerdas dan cakap.[6] Pada Maret 1906, setelah enam tahun menempuh pendidikan di korps kadet di Plön dan Groß-Lichterfelde, ia ditempatkan sebagai seorang Fähnrich (calon perwira) di Resimen Pengawal Kaki ke-3 (3. Garde-Regiment zu Fuß). Ia dinaikkan pangkatnya menjadi letnan pada Januari 1907, dan pada Oktober 1913 ia mulai mengikuti program pelatihan perwira selama tiga tahun di Akademi Perang Prusia. Namun, Manstein hanya sempat menyelesaikan tahun pertama dari program tersebut karena ketika Perang Dunia I dimulai pada Agustus 1914, seluruh siswa akademi diperintahkan untuk segera melapor untuk dinas aktif.[7] Akibatnya, ia tidak pernah menyelesaikan sisa pelatihan resmi untuk perwira staf umumnya.[6]
Awal karier militer
Perang Dunia I
Selama Perang Dunia I, Manstein bertugas baik di Front Barat maupun Front Timur Kekaisaran Jerman. Pada awal perang, ia dipromosikan menjadi letnan dan ikut serta dalam invasi Belgia bersama Resimen Infanteri Cadangan Pengawal ke-2. Pada Agustus 1914, ia terlibat dalam perebutan Namur, lokasi sebuah benteng masif yang dikelilingi oleh kubu-kubu pertahanan luar. Pada bulan September, unitnya menjadi salah satu dari dua unit yang dipindahkan ke Prusia Timur dan diperbantukan ke Angkatan Darat ke-8 pimpinan Hindenburg. Setelah terlibat dalam Pertempuran Danau Masuria Pertama, unitnya segera dialihkan ke Angkatan Darat ke-9 yang saat itu sedang bergerak maju dari Silesia Atas menuju Warsawa. Karena garis pertahanannya terlalu melebar, Angkatan Darat ke-9 terpaksa mundur akibat serangan balik Rusia. Pada 16 November, Manstein terluka dalam proses mundur tersebut ketika ia berada di dalam detasemen yang menyerbu parit pertahanan Rusia. Ia tertembak di bahu kiri dan lutut kiri; sebutir peluru mengenai saraf skiatik-nya yang menyebabkan kakinya mati rasa. Proses pemulihannya memakan waktu enam bulan di rumah sakit di Beuthen dan Wiesbaden.[8][9][10]
Setelah menjalani masa cuti pemulihan di rumah, pada 17 Juni 1915, Manstein ditugaskan kembali sebagai asisten perwira staf umum bidang operasi untuk Armee-Gruppe Gallwitz (kelak bernama Angkatan Darat ke-12) pimpinan Max von Gallwitz. Setelah dipromosikan menjadi kapten, ia belajar secara langsung cara merencanakan dan menjalankan operasi ofensif saat ikut serta dalam serangkaian serangan sukses pasukan pimpinan Gallwitz di Polandia dan Lituania, serta kemudian dalam kampanye militer di Balkan. Selama operasi ofensif di Verdun pada awal tahun 1916, Manstein ditempatkan bersama Gallwitz dan stafnya di markas komando baru yang dekat dengan lokasi pertempuran. Ia selanjutnya menjabat sebagai perwira staf logistik di bawah Jenderal Fritz von Below dan kepala staf Fritz von Lossberg di pos komando dekat Sungai Somme; wilayah yang menjadi saksi bisu sejumlah pertempuran sengit sepanjang perang tersebut. Operasi militer Britania dan Prancis dari Juli hingga November 1916 memaksa Jerman mundur selama musim dingin ke Garis Hindenburg, yaitu rangkaian posisi pertahanan antara Verdun dan Lens. Manstein terus bekerja di bawah Below hingga Oktober 1917, ketika ia dipindahkan menjadi kepala staf Divisi Kavaleri ke-4 dan bertugas di Riga selama masa pendudukan Jerman di wilayah tersebut. Menyusul penandatanganan Perjanjian Brest-Litovsk pada Maret 1918, unit Manstein tidak lagi dibutuhkan di Front Timur. Ia kemudian dialihkan ke Divisi Infanteri ke-213 di dekat Reims. Angkatan Darat Kekaisaran Jerman meraih beberapa keberhasilan kecil di wilayah tersebut, tetapi posisi Jerman secara keseluruhan mulai kalah dalam perang. Gencatan senjata akhirnya ditandatangani pada 11 November 1918.[11]
Periode antarperang
Manstein menikah dengan Jutta Sibylle von Loesch, putri seorang tuan tanah Silesia pada tahun 1920. Ia langsung melamar Jutta setelah baru saling mengenal selama tiga hari.[12] Jutta sendiri wafat pada tahun 1966. Mereka dikaruniai tiga anak: seorang putri bernama Gisela (lahir 1921), serta dua putra bernama Gero (lahir 1922) dan Rüdiger (lahir 1929).[13] Gero gugur di medan perang di sektor utara Front Timur pada 29 Oktober 1942 saat bertugas sebagai letnan di Wehrmacht.[14] Gisela menikah dengan Mayor Edel-Heinrich Zachariae-Lingenthal, seorang perwira yang menerima banyak penghargaan dan memimpin II. Panzer-Regiment 15 selama Perang Dunia II.[15]
Manstein tetap bertahan di angkatan bersenjata setelah perang berakhir. Pada tahun 1918, ia mengajukan diri secara sukarela untuk menduduki posisi staf di Pasukan Pertahanan Perbatasan di Breslau dan bertugas di sana hingga tahun 1919.[16] Sebagai bagian dari Gruppenkommando II, ia berpartisipasi dalam restrukturisasi Angkatan Darat Kekaisaran Jerman yang semula berkekuatan 500.000 personel menjadi Reichswehr, yaitu angkatan darat Republik Weimar (yang dibatasi hanya 100.000 personel berdasarkan Perjanjian Versailles).[17] Karena sejak muda telah diakui sebagai komandan yang berbakat dan cerdas, Manstein terpilih sebagai salah satu dari hanya 4.000 perwira yang diizinkan untuk tetap bertugas berdasarkan perjanjian tersebut. Pada tahun 1921, ia diangkat sebagai komandan kompi keenam dari Resimen Infanteri Prusia ke-5, dan selanjutnya menjabat sebagai perwira staf untuk Wehrkreiskommando II dan IV, sembari mengajar sejarah dan taktik militer hingga tahun 1927. Pada 1 Februari 1927, ia dinaikkan pangkatnya menjadi mayor dan bertugas di Staf Umum di Kementerian Reichswehr di Berlin. Dalam tugas ini, ia mengunjungi berbagai negara untuk mempelajari fasilitas militer mereka serta membantu menyusun rencana mobilisasi angkatan darat.[18] Setelah dinaikkan pangkatnya menjadi letnan kolonel, ia diberikan komando atas batalyon infanteri ringan dari Resimen Infanteri ke-4 dan bertugas bersama unit tersebut hingga tahun 1934.[19] Pada 30 Januari 1933, Partai Nazi merebut kekuasaan di Jerman dan membubarkan Republik Weimar dalam beberapa bulan berikutnya. Meskipun melanggar Perjanjian Versailles, Reichswehr sebenarnya telah melakukan persenjataan kembali secara rahasia sejak dekade 1920-an. Di bawah Hitler, Jerman kemudian secara resmi menolak perjanjian tersebut dan melanjutkan proses persenjataan kembali serta ekspansi militer dalam skala besar.[20][21]
Manstein kemudian dipindahkan kembali ke Berlin dengan pangkat kolonel penuh pada Februari 1934, menjabat sebagai kepala staf Divisi ke-3 (Wehrkreiskommando III) di bawah Erwin von Witzleben.[22] Pada 1 Juli 1935, ia diangkat sebagai Kepala Cabang Operasi Staf Umum Angkatan Darat (Generalstab des Heeres), yang merupakan bagian dari Komando Tinggi Angkatan Darat (Oberkommando des Heeres atau OKH).[23] Selama masa jabatannya di sana, Manstein menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab atas pengembangan Fall Rot (Kasus Merah), sebuah rencana defensif untuk melindungi Jerman dari serangan Prancis.[24] Pada periode ini, Manstein mulai berhubungan dengan Heinz Guderian dan Oswald Lutz, yang mengampanyekan perubahan drastis dalam strategi perang dengan menekankan peran Panzer. Namun, beberapa perwira seperti Ludwig Beck yang saat itu menjabat sebagai Kepala Staf Umum Angkatan Darat menentang perubahan radikal tersebut. Oleh karena itu, Manstein mengusulkan sebuah alternatif: pengembangan Sturmgeschütz (StuG), yaitu meriam serbu gerak sendiri yang dapat memberikan dukungan tembakan langsung yang berat bagi infanteri.[25] Dalam Perang Dunia II, kendaraan StuG yang lahir dari gagasan ini terbukti menjadi salah satu senjata Jerman yang paling sukses dan ekonomis.[26]
Ia dinaikkan pangkatnya menjadi Generalmajor pada Oktober 1936, dan menjadi Wakil Kepala Staf (Oberquartiermeister I) untuk General der Artillerie Beck.[27] Pada 4 Februari 1938, Manstein dipindahkan untuk memimpin Divisi Infanteri ke-18 di Legnica, Silesia, dengan pangkat Generalleutnant.[28] Pemindahan ini menyebabkan Manstein gagal mendapatkan posisi Beck sebagai Kepala Staf Umum Angkatan Darat pada bulan Agustus tahun itu. (Beck mengundurkan diri, meskipun Manstein telah mendesaknya untuk tidak melakukannya, karena ia merasa rencana Hitler untuk menginvasi Cekoslowakia pada Oktober 1938 masih terlalu dini). Jabatan tersebut justru diberikan kepada General der Artillerie Franz Halder, yang sebelumnya telah mengambil alih posisi lama Manstein sebagai Wakil Kepala Staf. Insiden ini memicu permusuhan yang mendalam dan berkepanjangan di antara kedua perwira tersebut.[29] Pada 20 April 1939, Manstein menyampaikan pidato dalam perayaan ulang tahun Hitler yang ke-50. Dalam pidatonya, ia memuji Hitler sebagai pemimpin yang dikirim oleh Tuhan untuk menyelamatkan Jerman. Ia memperingatkan "dunia yang memusuhi" bahwa jika mereka terus membangun "benteng di sekitar Jerman untuk menghalangi jalan rakyat Jerman menuju masa depan mereka", maka ia akan sangat senang melihat dunia terjerumus ke dalam perang dunia lainnya.[30][31] Sejarawan Israel Omer Bartov mencatat pada tahun 1999 bahwa kebangkitan perwira seperti Manstein merupakan bagian dari tren munculnya perwira teknokratis ke garis depan, yang biasanya merupakan pengikut Nazi yang fanatik. Bartov berpendapat bahwa Wehrmacht telah sepenuhnya terintegrasi ke dalam Jerman Nazi, bukan sebuah organisasi apolitis terpisah yang independen dari Rezim Nazi.[32]
Perang Dunia II
Invasi Polandia
Pada 18 Agustus 1939, sebagai persiapan untuk Fall Weiß (Kasus Putih) – invasi Polandia oleh Jerman – Manstein diangkat sebagai Kepala Staf Grup Angkatan Darat Selatan pimpinan Gerd von Rundstedt. Di sini, ia bekerja bersama Kepala Operasi Rundstedt, Kolonel Günther Blumentritt, untuk menyusun rencana operasional. Rundstedt menerima rencana Manstein yang menyerukan pemusatan sebagian besar unit lapis baja grup angkatan darat tersebut ke dalam Angkatan Darat ke-10 pimpinan Walter von Reichenau dengan tujuan melakukan penerobosan krusial yang akan berujung pada pengepungan pasukan Polandia di sebelah barat Sungai Vistula. Dalam rencana Manstein, dua angkatan darat lainnya yaitu Angkatan Darat ke-14 pimpinan Wilhelm List dan Angkatan Darat ke-8 pimpinan Johannes Blaskowitz akan memberikan dukungan sayap bagi serangan lapis baja Reichenau menuju Warsawa, ibu kota Polandia. Secara pribadi, Manstein kurang antusias terhadap kampanye militer Polandia ini, karena menganggap akan lebih baik untuk mempertahankan Polandia sebagai negara penyangga antara Jerman dan Uni Soviet. Ia juga mengkhawatirkan serangan Sekutu dari barat setelah kampanye militer Polandia dimulai, yang dapat menyeret Jerman ke dalam perang dua front.[33]
Manstein menghadiri sebuah konferensi pada 22 Agustus 1939, di mana Hitler menegaskan kepada para komandannya mengenai perlunya penghancuran fisik Polandia sebagai sebuah bangsa.[34] Setelah perang, ia menyatakan dalam memoarnya bahwa pada saat pertemuan tersebut berlangsung, ia tidak menyadari bahwa Hitler akan menjalankan kebijakan pemusnahan terhadap rakyat Polandia.[34] Ia baru menyadari kebijakan tersebut di kemudian hari, setelah ia dan para jenderal Wehrmacht lainnya menerima laporan[35][36] mengenai aktivitas Einsatzgruppen, yaitu regu kematian Schutzstaffel (SS) yang ditugaskan mengikuti gerak maju angkatan darat ke Polandia untuk membantai kaum intelektual dan warga sipil lainnya.[37] Regu-regu ini juga ditugaskan untuk mengumpulkan orang-orang Yahudi dan kelompok lainnya untuk dipindahkan ke ghetto dan kamp konsentrasi Nazi. Di kemudian hari, Manstein menghadapi tiga dakwaan kejahatan perang terkait kematian warga sipil dan orang Yahudi di sektor-sektor yang berada di bawah kendalinya, serta penganiayaan dan kematian tawanan perang.[38]
Diluncurkan pada 1 September 1939, invasi tersebut dimulai dengan sukses. Di wilayah tanggung jawab Grup Angkatan Darat Selatan pimpinan Rundstedt, Angkatan Darat ke-8, ke-10, dan ke-14 mengejar pasukan Polandia yang mundur. Rencana awalnya adalah mendesak Angkatan Darat ke-8, yang berada di posisi paling utara dari ketiganya, untuk maju menuju Łódź. Angkatan Darat ke-10, dengan divisi-divisi bermotornya, bergerak cepat menuju Vistula, sementara Angkatan Darat ke-14 maju dan mencoba mengepung pasukan Polandia di wilayah Kraków. Aksi-aksi ini berujung pada pengepungan dan kekalahan pasukan Polandia di wilayah Radom pada 8–14 September oleh enam korps Jerman. Sementara itu, Angkatan Darat ke-8 Jerman mendapat serangan dari utara, sehingga elemen-elemen dari Angkatan Darat ke-4, ke-8, dan ke-10 segera dikerahkan kembali dengan dukungan udara dalam sebuah upaya improvisasi untuk memotong setiap upaya penerobosan pasukan Polandia yang mencoba kembali menuju Warsawa. Fleksibilitas dan ketangkasan pasukan Jerman menghasilkan kekalahan sembilan divisi infanteri Polandia beserta unit-unit lainnya dalam Pertempuran Bzura (8–19 September), pertempuran terbesar dalam perang tersebut sejauh itu.[39]
Penaklukan Polandia berakhir dengan cepat, dengan unit militer terakhir Polandia menyerah pada 6 Oktober.[40]
Ofensif di Barat
Fall Gelb ("Kasus Kuning"), rencana awal untuk invasi Prancis, disusun oleh Panglima Tertinggi Angkatan Darat Generaloberst Walther von Brauchitsch, Halder, dan anggota OKH lainnya pada awal Oktober 1939.[41] Seperti Rencana Schlieffen pada Perang Dunia I, rencana ini memfokuskan serangan pengepungan melalui Belanda dan Belgia.[42] Hitler sendiri tidak puas dengan rencana awal ini sehingga revisi rencana tersebut terus berlanjut sepanjang bulan Oktober. Manstein juga tidak puas dengan rencana tersebut karena terlalu berfokus pada sayap utara; ia merasa serangan dari arah ini akan kehilangan unsur kejutan dan membuat pasukan Jerman rentan terhadap serangan balasan dari selatan. Medan di Belgia juga tidak cocok sebagai pangkalan operasi untuk serangan lebih lanjut ke Prancis, sehingga Manstein merasa operasi tersebut akan gagal melenyapkan musuh – seperti yang terjadi pada Perang Dunia Pertama – dan hanya akan menghasilkan kesuksesan parsial serta perang parit. Pada akhir Oktober, Manstein telah menyiapkan garis besar rencana yang berbeda dan mengajukannya ke OKH melalui atasannya, Rundstedt, di mana ia saat itu menjabat sebagai kepala staf Grup Angkatan Darat A.[43][44]
Rencana Manstein, yang dikembangkan melalui kerja sama informal dengan Heinz Guderian, menyarankan agar divisi-divisi Panzer menyerang melalui perbukitan berhutan di Ardennes di mana tidak ada yang menduganya, kemudian mendirikan kepala jembatan di Meuse dan bergerak cepat menuju Selat Inggris. Dengan demikian, Wehrmacht akan memotong pasukan Prancis dan Sekutu di Belgia dan Flandria. Bagian dari rencana ini belakangan dikenal sebagai Sichelschnitt ("potongan sabit"). Proposal Manstein juga mencakup serangan kedua yang mengepung Garis Maginot, yang akan memungkinkan Wehrmacht untuk menembus garis pertahanan masa depan jauh lebih ke selatan.[44][45]
OKH awalnya menolak proposal tersebut; Halder secara khusus menyatakan bahwa rencana itu sama sekali tidak bernilai. Namun, pada 11 November, Hitler memerintahkan pengalokasian kembali pasukan yang dibutuhkan untuk melakukan serangan kejutan di Sedan, sehingga mendorong rencana tersebut ke arah yang disarankan oleh Manstein.[46] Ketika dokumen-dokumen yang menguraikan rincian Fall Gelb jatuh ke tangan Belgia pada 10 Januari 1940, Hitler menjadi semakin terbuka terhadap perubahan. Namun, atasan Manstein yaitu Halder dan Brauchitsch kesal dengan desakan berulang kali dari Manstein agar rencananya diterapkan sebagai pengganti rencana mereka. Halder mencopot Manstein dari markas besar Rundstedt dan mengirimnya ke Stettin untuk memimpin Korps Angkatan Darat XXXVIII pada 27 Januari.[47] Hitler, yang masih mencari rencana yang lebih agresif, menyetujui versi modifikasi dari ide-ide Manstein, yang kini dikenal sebagai Rencana Manstein, setelah bertemu dengannya pada 17 Februari.[48] Manstein dan korpsnya memainkan peran kecil selama operasi di Prancis, bertugas di bawah Angkatan Darat ke-4 pimpinan Günther von Kluge. Korpsnya membantu mencapai penerobosan pertama di timur Amiens selama Fall Rot ("Kasus Merah" – fase kedua dari rencana invasi), dan menjadi yang pertama mencapai serta menyeberangi Sungai Seine. Invasi Prancis merupakan kesuksesan militer yang luar biasa; Manstein dinaikkan pangkatnya menjadi General der Infanterie dan dianugerahi Salib Kesatria dari Salib Besi.[44][49]
Pertempuran Britania
Manstein merupakan salah satu pendukung rencana invasi Jerman ke Britania Raya yang diberi nama Operasi Singa Laut. Ia menganggap operasi tersebut berisiko tinggi tetapi perlu dilakukan. Kajian awal oleh berbagai perwira staf menyimpulkan bahwa keunggulan udara merupakan prasyarat mutlak bagi invasi yang direncanakan tersebut. Korpsnya rencananya akan diseberangkan melintasi Selat Inggris dari Boulogne menuju Bexhill sebagai salah satu dari empat unit yang ditugaskan dalam gelombang pertama. Namun, karena Luftwaffe gagal menundukkan Royal Air Force selama Pertempuran Britania, Operasi Singa Laut ditunda tanpa batas waktu pada 12 Oktober. Di sisa tahun tersebut, Manstein, yang tidak memiliki banyak tugas, menghabiskan waktunya di Paris dan di rumahnya.[50][51]
Invasi Uni Soviet

Pada Juli 1940, Komando Tinggi Jerman mulai merencanakan Operasi Barbarossa, sebuah rencana invasi ke Uni Soviet.[52] Pada 15 Maret 1941, Manstein diangkat sebagai komandan Korps Panzer LVI; ia adalah salah satu dari 250 komandan yang diberi pengarahan mengenai ofensif besar yang akan datang, dan baru melihat rencana terperinci dari ofensif tersebut pada bulan Mei. Korpsnya merupakan bagian dari Grup Panzer ke-4 di bawah komando Jenderal Erich Hoepner dalam Grup Angkatan Darat Utara pimpinan Wilhelm Ritter von Leeb.[53] Grup Angkatan Darat tersebut ditugaskan untuk menerobos Negara-negara Baltik dan kemudian bergerak maju menuju Leningrad. Manstein tiba di front hanya enam hari sebelum serangan diluncurkan. Operasi Barbarossa dimulai pada 22 Juni 1941 dengan serangan besar-besaran Jerman di sepanjang seluruh garis front. Korps Manstein ditugaskan maju bersama Korps Panzer XLI pimpinan Georg-Hans Reinhardt menuju Sungai Dvina untuk mengamankan jembatan-jembatan di dekat kota Daugavpils.[54] Pasukan Soviet melancarkan sejumlah serangan balasan, tetapi serangan-serangan tersebut ditujukan ke korps Reinhardt, yang memicu terjadinya Pertempuran Raseiniai. Korps Manstein maju dengan cepat, mencapai Sungai Dvina yang berjarak 315 km hanya dalam waktu 100 jam. Karena posisinya terlalu maju dan jauh di depan sisa grup angkatan darat lainnya, ia harus menghalau sejumlah serangan balasan Soviet yang sengit.[55] Setelah korps Reinhardt mendekat, kedua korps tersebut ditugaskan untuk mengepung formasi Soviet di sekitar Luga dalam sebuah gerakan menjepit.

Setelah kembali menembus jauh ke dalam garis pertahanan Soviet dengan sayap yang tidak terlindungi, korpsnya menjadi sasaran serangan balik Soviet sejak 15 Juli di Soltsy oleh Angkatan Darat ke-11 Soviet yang dikomandani oleh Nikolai Vatutin. Divisi Panzer ke-8 milik Manstein sempat terputus. Walaupun berhasil membuka jalan untuk lolos, divisi ini mengalami kerusakan parah, dan Tentara Merah berhasil menghentikan gerak maju Manstein di Luga. Korps tersebut kemudian berkonsolidasi kembali di Dno.[56][57] Divisi Panzer ke-8 dikirim untuk menjalankan tugas anti-partisan dan Manstein diberi komando atas Divisi Polizei SS ke-4. Serangan terhadap Luga berulang kali tertunda.[58]
Serangan terhadap Luga masih berlangsung ketika Manstein menerima perintah pada 10 Agustus bahwa tugas berikutnya adalah memulai gerak maju menuju Leningrad. Baru saja ia pindah ke markas besarnya yang baru di Danau Samro, ia sudah diperintahkan untuk mengirim pasukannya menuju Staraya Russa untuk membantu Korps X yang terancam dikepung. Pada 12 Agustus, Tentara Merah telah melancarkan ofensif dengan Angkatan Darat ke-11 dan ke-34 terhadap Grup Angkatan Darat Utara, memutus jalur tiga divisi Jerman. Merasa frustrasi karena kehilangan Divisi Panzer ke-8 dan hilangnya kesempatan untuk maju ke Leningrad, Manstein kembali ke Dno. Serangan balasan yang dipimpinnya menghasilkan kekalahan besar bagi Soviet ketika unitnya mengepung lima divisi Soviet, serta mendapatkan dukungan udara untuk pertama kalinya di front tersebut. Mereka menawan 12.000 prajurit dan merebut 141 tank. Lawannya, Jenderal Kuzma M. Kachanov dari Angkatan Darat ke-34, kemudian diajukan ke pengadilan militer dan dieksekusi akibat kekalahan tersebut. Manstein mencoba mendapatkan waktu istirahat bagi anak buahnya, yang telah terus-menerus bertempur di medan yang buruk dan cuaca yang kian memburuk sejak awal kampanye militer, tetapi usahanya sia-sia. Mereka diperintahkan untuk terus maju ke arah timur menuju Demyansk. Pada 12 September, saat berada di dekat kota tersebut, ia diberi tahu bahwa ia akan mengambil alih komando Angkatan Darat ke-11 dari Grup Angkatan Darat Selatan di Ukraina.[57][59]
Krimea dan Pertempuran Sevastopol

Pada September 1941, Manstein diangkat menjadi komandan Angkatan Darat ke-11 setelah komandan sebelumnya, Generaloberst Eugen Ritter von Schobert, tewas ketika pesawatnya mendarat di ladang ranjau Soviet. Angkatan Darat ke-11 ditugaskan untuk menginvasi Semenanjung Krimea, merebut Sevastopol, dan mengejar pasukan Soviet di sayap Grup Angkatan Darat Selatan selama gerak majunya ke Uni Soviet.[60][61] Hitler bertujuan untuk mencegah Tentara Merah menggunakan pangkalan udara di Krimea dan memutus pasokan minyak Soviet dari Kaukasus.[62]
Pasukan Manstein – sebagian besar merupakan infanteri – berhasil mencapai penerobosan cepat pada hari-hari pertama di tengah perlawanan sengit Soviet. Setelah sebagian besar bagian leher Tanah Genting Perekop berhasil direbut, pasukannya berkurang drastis, menyisakan enam divisi Jerman dan Angkatan Darat Ketiga Rumania. Sisa wilayah Tanah Genting Perekop direbut secara bertahap dengan beberapa kesulitan; Manstein mengeluhkan kurangnya dukungan udara untuk menandingi keunggulan udara Soviet di kawasan tersebut. Ia kemudian membentuk unit pengintai seluler untuk mendesak ke dalam semenanjung, memutus jalan antara Simferopol dan Sevastopol pada 31 Oktober 1941. Pasukan Poros merebut Simferopol keesokan harinya. Angkatan Darat ke-11 telah merebut seluruh Semenanjung Krimea—kecuali Sevastopol—per 16 November. Sementara itu, Tentara Merah telah mengevakuasi 300.000 personel keluar dari kota tersebut melalui jalur laut.[63][64]

Serangan pertama Manstein ke Sevastopol pada bulan November gagal. Karena pasukan yang tersisa tidak mencukupi untuk segera melakukan serangan langsung, ia memerintahkan pengepungan terhadap kota yang membenteng kuat tersebut. Pada 17 Desember 1941, ia melancarkan serangan berikutnya, yang juga berujung pada kegagalan. Pada 26 Desember, pasukan Soviet mendarat di Selat Kerch untuk merebut kembali Kerch beserta semenanjungnya, dan pada 30 Desember 1941, mereka melakukan pendaratan lain di dekat Feodosiya. Hanya penarikan mundur yang terburu-buru dari Semenanjung Kerch oleh Divisi Infanteri ke-46 di bawah komando Jenderal Hans Graf von Sponeck—yang bertentangan dengan perintah Manstein—yang berhasil mencegah runtuhnya pasukan Poros di bagian timur Krimea; divisi tersebut kehilangan sebagian besar peralatan beratnya. Manstein membatalkan rencana untuk melanjutkan serangan dan mengirim sebagian besar pasukannya ke timur untuk menghancurkan kepala jembatan (bridgehead) Soviet. Pasukan Soviet berada dalam posisi yang lebih unggul dalam hal personel dan materiil karena mereka dapat menerima pasokan ulang melalui jalur laut; akibatnya, Stalin mendesak mereka untuk melancarkan serangan lebih lanjut. Namun, pasukan Soviet gagal merebut titik-titik akses kereta api dan jalan raya krusial yang dapat memutus jalur pasokan Jerman.[65][66]

Untuk Pertempuran Semenanjung Kerch yang diluncurkan pada 8 Mei 1942, Hitler akhirnya memberikan dukungan udara besar-besaran kepada Manstein. Karena Angkatan Darat ke-11 kalah jumlah di darat, Manstein memerintahkan mereka untuk melakukan serangan tipuan di utara, sementara sebagian besar pasukan menyerang ke arah selatan. Pasukan Soviet segera melarikan diri. Manstein mencatat dalam memoarnya mengenai penawanan "170.000 prajurit, 1.133 meriam, dan 258 tank".[67] Kerch berhasil direbut pada 16 Mei. Wehrmacht hanya kehilangan 8.000 prajurit.[68][69]
Setelah penundaan selama sebulan, Manstein kembali mengalihkan perhatiannya untuk merebut Sevastopol, sebuah pertempuran di mana Jerman mengerahkan beberapa meriam terbesar yang pernah dibuat. Bersama dengan sejumlah besar artileri reguler, mortar super-berat 600 mm (24 in) Karl-Gerät dan meriam kereta api "Dora" berkaliber 800 mm (31 in) didatangkan untuk serangan tersebut. Berondongan tembakan yang gencar dimulai pada pagi hari tanggal 2 Juni 1942. Seluruh sumber daya Luftflotte 4 milik Luftwaffe yang dikomandani oleh Wolfram von Richthofen dikerahkan; berondongan tembakan tersebut berlanjut selama lima hari sebelum serangan darat dimulai.[70][71]

Angkatan Darat ke-11 berhasil merebut wilayah selama pertengahan Juni, memfokuskan perhatian mereka pada jalur-jalur pendekatan utara menuju kota tersebut. Korban berjatuhan dalam jumlah besar di kedua belah pihak seiring berjalannya bulan. Sadar akan perlunya bertindak sebelum Fall Blau (ofensif Jerman tahun 1942) mengurangi ketersediaan bala bantuan dan pasokan, Manstein memerintahkan serangan kejutan melintasi Teluk Severnaya [ru] menggunakan pendaratan amfibi pada 29 Juni 1942. Operasi tersebut sukses; perlawanan Soviet runtuh. Pada 1 Juli 1942, pasukan Jerman memasuki kota sementara pasukan Soviet melakukan evakuasi yang tidak terorganisasi, dan Hitler menaikkan pangkat Manstein menjadi Generalfeldmarschall pada hari yang sama. Seluruh kota berada di tangan Jerman per 4 Juli 1942.[71][72][73][74]
Selama kampanye militer Krimea, Manstein dan pasukannya sering kali mengandalkan dukungan langsung maupun tidak langsung dari sekutu Rumania mereka. Meskipun pasukan Rumania tidak memainkan peran yang menentukan, serangan-serangan sekunder mereka membebaskan unit-unit Jerman untuk melakukan serangan lain. Selama masa ini, Manstein menjadi dekat dengan Marsekal Ion Antonescu, pemimpin masa perang Rumania. Manstein dan istrinya menghabiskan beberapa minggu cuti pada Juli dan Agustus 1942 sebagai tamu di kediaman keluarga Antonescu.[75]
Di Krimea, Manstein terlibat secara tidak langsung dalam kekejaman terhadap penduduk Soviet, terutama yang dilakukan oleh Einsatzgruppe D, salah satu dari beberapa kelompok milik SS yang ditugaskan untuk memusnahkan orang-orang Yahudi di Eropa. Einsatzgruppe D bergerak mengikuti pergerakan Angkatan Darat ke-11 pimpinan Manstein, dan komando Manstein menyediakan kendaraan, bahan bakar, serta pengemudi bagi mereka. Polisi militer menutup area-area di mana Einsatzgruppe berencana menembak orang-orang Yahudi untuk mencegah siapa pun melarikan diri. Kapten Ulrich Gunzert, yang terkejut karena menyaksikan Einsatzgruppe D membantai sekelompok wanita dan anak-anak Yahudi, meminta Manstein untuk melakukan sesuatu guna menghentikan pembunuhan tersebut. Gunzert menyatakan bahwa Manstein menyuruhnya melupakan apa yang telah dilihatnya dan berkonsentrasi untuk melawan Tentara Merah.[76][77] Sebelas dari tujuh belas dakwaan terhadap Manstein dalam pengadilan kejahatan perangnya di kemudian hari berkaitan dengan penganiayaan dan pembunuhan Nazi terhadap orang Yahudi serta tawanan perang di Krimea.[78]
Pengepungan Leningrad
Setelah jatuhnya Sevastopol, Hitler merasa Manstein adalah orang yang tepat untuk memimpin pasukan dalam Pengepungan Leningrad yang telah terkepung sejak September 1941. Bersama elemen-elemen dari Angkatan Darat ke-11, Manstein dipindahkan ke front Leningrad dan tiba pada 27 Agustus 1942. Manstein lagi-lagi kekurangan pasukan yang memadai untuk menyerbu kota tersebut, sehingga ia merencanakan Operasi Nordlicht, sebuah rencana berani untuk melakukan tusukan guna memutus jalur pasokan Leningrad di Danau Ladoga.[79]
Namun, pada hari kedatangannya, Tentara Merah meluncurkan Serangan Sinyavino. Awalnya direncanakan sebagai serangan perusak terhadap Angkatan Darat ke-18 pimpinan Georg Lindemann di tonjolan sempit Jerman di sebelah barat Danau Ladoga, serangan tersebut tampaknya mampu menembus garis pertahanan Jerman dan mengakhiri pengepungan. Hitler, dengan mengabaikan rantai komando biasa, menelepon Manstein secara langsung dan memerintahkannya untuk mengambil tindakan serangan di wilayah tersebut. Setelah serangkaian pertempuran sengit, ia meluncurkan serangan balik pada 21 September 1942 yang memutus dua angkatan darat Soviet di dalam tonjolan tersebut. Pertempuran berlanjut sepanjang Oktober 1942. Meskipun serangan Soviet berhasil dihalau, atrisi yang terjadi membuat Wehrmacht tidak lagi dapat melancarkan serangan penentu terhadap Leningrad, dan Operasi Nordlicht terpaksa ditangguhkan.[80][81] Pengepungan Leningrad sendiri akhirnya benar-benar diakhiri oleh pasukan Soviet pada Januari 1944.[82]
Pertempuran Stalingrad

Dalam upaya untuk mengatasi kekurangan minyak yang terus berlanjut, Wehrmacht meluncurkan Fall Blau (Operasi Biru), sebuah serangan besar-besaran yang ditujukan ke ladang-ladang minyak Kaukasus pada tahun 1942.[83] Setelah serangan udara Jerman, Angkatan Darat ke-6 pimpinan Friedrich Paulus ditugaskan untuk merebut Stalingrad, sebuah kota penting di tepi Sungai Volga. Pasukannya, dengan didukung oleh Angkatan Darat Panzer ke-4, memasuki kota tersebut pada 12 September. Pertempuran jarak dekat dan pertempuran jalanan pun terjadi.[84] Tentara Merah meluncurkan serangan balik raksasa pada 19 November dengan nama kode Operasi Uranus yang memiliki tujuan untuk mengepung angkatan darat Jerman dan menjebak mereka di dalam kota; tujuan ini tercapai pada 23 November.[85] Hitler, yang menyadari bahwa jika Stalingrad jatuh kemungkinan besar kota itu tidak akan pernah bisa direbut kembali, menunjuk Manstein sebagai komandan Grup Angkatan Darat Don (Heeresgruppe Don) yang baru dibentuk, dengan tugas menjalankan operasi penyelamatan bernama Unternehmen Wintergewitter (Operasi Badai Musim Dingin), guna memperkuat cengkeraman Jerman di kota tersebut. Penilaian awal Manstein pada 24 November adalah bahwa Angkatan Darat ke-6 akan mampu bertahan jika diberikan dukungan udara yang memadai.[86][87]
Pada Oktober 1942, putranya, Gero, gugur dalam pertempuran. Ia kemudian menggambarkan hal ini sebagai "Hal terburuk yang terjadi pada saya secara pribadi selama perang".[88]
Diluncurkan pada 12 Desember, operasi ini meraih beberapa keberhasilan awal. Tiga divisi Panzer Manstein (terdiri dari Divisi Panzer ke-23, ke-6, dan ke-17) beserta unit-unit pendukung Korps Panzer LVII maju hingga jarak 48 km (30 mi) dari Stalingrad pada 20 Desember di Sungai Myshkova, di mana mereka diserang oleh tank-tank Soviet dalam kondisi badai salju. Manstein mengajukan permintaan kepada Hitler pada 18 Desember agar Angkatan Darat ke-6 diizinkan mencoba menerobos keluar.[89] Hitler menentangnya, dan baik Manstein maupun Paulus ragu-ragu untuk terang-terangan melanggar perintahnya.[90] Kondisi di dalam kota semakin memburuk; para prajurit menderita akibat kutu, cuaca dingin, serta pasokan makanan dan amunisi yang tidak memadai. Reichsmarschall Hermann Göring telah meyakinkan Hitler bahwa Angkatan Darat ke-6 yang terjebak dapat dipasok secara memadai melalui udara, tetapi karena cuaca buruk, kurangnya pesawat, dan kendala mekanis, hal tersebut tidak menjadi kenyataan.[91] Pada 24 Januari, Manstein mendesak Hitler untuk mengizinkan Paulus menyerah, tetapi ia menolak.[92] Terlepas dari keinginan Hitler, Paulus menyerah bersama 91.000 prajuritnya yang tersisa pada 31 Januari 1943. Sekira 200.000 prajurit Jerman dan Rumania tewas; dari mereka yang menyerah, hanya 6.000 korban selamat yang kembali ke Jerman setelah perang berakhir.[93] Manstein percaya bahwa ia telah melakukan yang terbaik untuk Angkatan Darat ke-6. Namun, para prajurit yang terkepung melihatnya secara berbeda:
Kelemahannya adalah ia tidak mengambil sikap yang lebih tegas terhadap Hitler. Seseorang bisa saja mengundurkan diri. Atau menerima hukuman mati. Jika Anda benar-benar yakin, dan ia memang demikian, bahwa menahan angkatan darat di Stalingrad adalah sebuah kesalahan.[94]
Sejarawan Amerika Williamson Murray dan Allan Millett menulis bahwa pesan Manstein kepada Hitler pada 24 November yang menyarankannya agar Angkatan Darat ke-6 tidak menerobos keluar, bersama dengan pernyataan Göring bahwa Luftwaffe dapat memasok Stalingrad, "... menentukan nasib Angkatan Darat Keenam".[95] Para sejarawan, termasuk Gerhard Weinberg, menunjukkan bahwa versi peristiwa Stalingrad dalam memoar Manstein telah didistorsi dan beberapa peristiwa yang digambarkan di sana kemungkinan besar hanya dibuat-buat.[96][97] "Karena sensitivitas masalah Stalingrad di Jerman pascaperang, Manstein berusaha keras untuk mendistorsi catatan sejarah tentang masalah ini, sama seperti keterlibatan masifnya dalam pembunuhan orang-orang Yahudi", tulis Weinberg.[98]
Sementara itu, Tentara Merah meluncurkan serangan mereka sendiri yang dinamakan Operasi Saturnus. Operasi ini awalnya dirancang untuk merebut Rostov sekaligus mengisolasi Grup Angkatan Darat A Jerman di Kaukasus. Namun, demi membendung pergerakan Operasi Badai Musim Dingin, komando Soviet terpaksa mengalihkan sebagian pasukannya. Akibatnya, skala operasi ini diperkecil dan berganti nama menjadi "Saturnus Kecil". Serangan ini sukses memaksa Manstein memecah kekuatannya demi mencegah keruntuhan total di seluruh garis depan.
Dampak lainnya, serangan Soviet ini mencegah Korps Panzer XLVIII (meliputi Divisi Infanteri ke-336, Divisi Lapangan Luftwaffe ke-3, dan Divisi Panzer ke-11) di bawah komando Jenderal Otto von Knobelsdorff untuk bergabung dengan Korps Panzer LVII guna mendukung operasi penyelamatan. Korps Panzer XLVIII justru tertahan di sepanjang Sungai Chir demi menghalau gempuran beruntun pasukan Soviet. Di tengah kritisnya situasi, Jenderal Hermann Balck memanfaatkan Divisi Panzer ke-11 untuk memukul balik tonjolan pertahanan Soviet. Meski babak belur, unit-unit Jerman berhasil mempertahankan garis tersebut, walaupun Angkatan Darat ke-8 Italia yang menjaga sektor sayap mereka akhirnya runtuh dan hancur lebur.[99][100]
Keberhasilan ini memacu Tentara Merah untuk merencanakan serangkaian serangan lanjutan pada Januari dan Februari 1943 guna menumpas habis kekuatan Jerman di Rusia selatan. Setelah menyapu sisa-sisa pasukan Hungaria dan Italia dalam Serangan Ostrogozhsk–Rossosh, Soviet meluncurkan Operasi Bintang dan Operasi Gallop untuk merebut kembali Kharkov dan Kursk, sekaligus mengisolasi seluruh pasukan Jerman di timur Donetsk. Rentetan operasi ini sukses menjebol pertahanan Jerman dan mengancam stabilitas seluruh sektor selatan. Menanggapi ancaman kritis ini, Grup Angkatan Darat Don, Grup Angkatan Darat B, dan sebagian elemen Grup Angkatan Darat A akhirnya dilebur menjadi Grup Angkatan Darat Selatan (Heeresgruppe Süd) di bawah komando langsung Manstein pada awal Februari.[100][101]
Serangan balik Kharkov

Melalui serangkaian serangan pada Februari 1943, Tentara Merah berhasil menembus garis pertahanan Jerman dan merebut kembali Kursk pada 9 Februari.[102] Mengingat posisi Grup Angkatan Darat B dan Don terancam dikepung, Manstein berulang kali mendesak dikirimkannya bala bantuan. Kendati Hitler pada 13 Februari telah memerintahkan agar Kharkov dipertahankan "mati-matian",[102] SS-Oberst-Gruppenführer Paul Hausser selaku komandan Korps Panzer SS II tetap menginstruksikan pasukannya untuk mengosongkan kota tersebut pada 15 Februari.[103]
Hitler kemudian turun langsung ke garis depan pada 17 Februari. Melalui rapat maraton yang melelahkan selama tiga hari, Manstein akhirnya berhasil meyakinkan sang Führer bahwa serangan balik aktif sangat diperlukan di sektor tersebut demi merebut kembali inisiatif pertempuran sekaligus menggagalkan upaya pengepungan Soviet. Unit-unit tempur pun diorganisasi ulang dan bala bantuan segera ditarik dari angkatan darat di sektor tetangga. Manstein langsung menyusun rencana serangan balik yang diluncurkan pada 20 Februari, sebuah manuver yang kelak tersohor dengan julukan "backhand blow". Jenderal Vatutin beserta pasukan Soviet yang mengira Manstein akan terus mundur, akhirnya benar-benar terkecoh dan lumpuh oleh serangan dadakan ini. Hingga 2 Maret, Wehrmacht berhasil menyita 615 tank dan menewaskan sekitar 23.000 prajurit Soviet.[104]
Demi menegaskan bahwa perebutan kembali Kharkov memiliki arti politik yang sangat krusial, Hitler kembali mengunjungi garis depan di Ukraina pada 10 Maret 1943 untuk meninjau situasi bersama Manstein. Manstein dengan cermat menggelar pasukannya yang terbatas di sepanjang garis depan yang lebar guna mencegah risiko penjepitan. Hasilnya, setelah melalui perang kota yang berdarah dalam Pertempuran Kharkov Ketiga, Jerman berhasil merebut kembali Kharkov pada 14 Maret.[105] Atas keberhasilan gemilang ini, Manstein dianugerahi penghargaan Daun Ek untuk Salib Ksatria (Eichenlaub zum Ritterkreuz).[106] Menyusul kemenangan tersebut, Korps Panzer SS II pimpinan Hausser juga sukses merebut Belgorod pada 18 Maret.
Serangan balik yang diarsiteki Manstein ini tidak sekadar menyelamatkan seluruh garis depan dari keruntuhan total, tetapi juga berhasil merebut kembali wilayah yang luas, menghancurkan tiga angkatan darat Soviet, serta memaksa tiga angkatan darat Soviet lainnya mundur. Di sektor tersebut, kerugian di pihak Soviet selama satu bulan terakhir mencapai 46.000 prajurit tewas dan 14.000 lainnya ditawan. Selain itu, sebanyak 600 tank dan 1.200 pucuk artileri milik Soviet hancur atau berhasil disita.[107] Datangnya musim pencairan salju (rasputitsa) pada 23 Maret akhirnya menghentikan sementara seluruh aktivitas militer di wilayah tersebut. Fokus komando Jerman kemudian beralih pada penyusunan rencana untuk melenyapkan tonjolan pertahanan musuh di Kursk.[108]
Operasi Citadel
Manstein lebih memilih untuk segera melancarkan serangan jepitan ke tonjolan Kursk setelah pertempuran di Kharkov. Namun, Hitler khawatir rencana tersebut akan menarik keluar pasukan dari kawasan industri di Cekungan Donets. Terlebih lagi, kondisi lapangan saat itu masih terlalu berlumpur akibat musim semi yang mendatangkan rasputitsa sehingga tank-tank belum bisa dipindahkan ke posisi serang. Sebagai gantinya, Komando Tinggi Angkatan Darat (OKH) menyiapkan Operasi Citadel yang pelaksanaannya sengaja ditunda demi mengumpulkan lebih banyak pasukan di wilayah tersebut sembari menunggu tanah lumpur mengering dan mengeras. Sementara itu, Tentara Merah yang menyadari tentang potensi kepungan, mulai mendatangkan bala bantuan dalam jumlah masif. Laporan intelijen mereka bahkan berhasil mengendus perkiraan lokasi dan waktu serangan Jerman.[109][110]

Citadel menjadi ofensif strategis terakhir Jerman di Front Timur sekaligus salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah yang melibatkan lebih dari empat juta prajurit. Ketika Wehrmacht memulai serangan pertamanya pada 5 Juli 1943, jumlah pasukan Soviet sudah unggul hampir tiga banding satu.[111] Walter Model memimpin sektor jepitan utara bersama Angkatan Darat ke-9, sedangkan Grup Angkatan Darat Selatan pimpinan Manstein bergerak dari sektor jepitan selatan.
Pergerakan kedua angkatan darat tersebut berjalan lambat karena tank-tank mereka hancur akibat ladang ranjau dan tertahan oleh serangkaian lini pertahanan Soviet yang berlapis.[112] Setelah lima hari bertempur, gerak maju pasukan Model berhasil dihentikan setelah Angkatan Darat ke-9 menelan 25.000 korban jiwa. Pada 13 Juli, sisa pasukan Model terpaksa ditarik mundur ke arah Orel untuk membendung Operasi Kutuzov yang diluncurkan oleh Soviet.[113] Di sisi lain, pasukan Manstein berhasil menembus garis pertahanan Soviet dan menimbulkan kerugian besar di pihak musuh. Ia berhasil mencapai Prokhorovka—target utama pertamanya—pada 11 Juli, walau tidak sampai merangsek masuk atau merebutnya. Serangan ini memicu Pertempuran Prokhorovka yang menjatuhkan banyak korban di pihak Soviet.
Namun, pada 13 Juli Hitler memutuskan untuk menghentikan ofensif Kursk yang dinilai gagal. Pendaratan pasukan Sekutu di Sisilia membuatnya mengeluarkan perintah untuk menarik mundur pasukan. Manstein melayangkan protes keras; ia menilai pasukan Soviet telah menguras seluruh cadangan mereka di wilayah tersebut dan menolak berhenti sebelum mengerahkan seluruh pasukan cadangannya sendiri. Meski demikian, Hitler tetap berkukuh membatalkan operasi tersebut.[114][115] Walaupun kerugian di pihak Soviet memang sangat besar, para sejarawan modern meragukan peluang keberhasilan Jerman andai saja ofensif tersebut tetap dilanjutkan.[116][117][118]
Mundur ke Dnieper
Manstein menganggap Pertempuran Kursk sebagai semacam kemenangan bagi pihak Jerman, karena ia yakin telah melumpuhkan sebagian besar kekuatan ofensif Tentara Merah di sisa tahun 1943. Namun, penilaian ini terbukti keliru karena Tentara Merah mampu memulihkan kekuatannya jauh lebih cepat daripada perkiraan Manstein. Manstein pun memindahkan pasukan cadangan panzernya ke Sungai Mius dan kawasan hilir Dnieper tanpa menyadari bahwa aktivitas Soviet di sektor tersebut hanyalah sebuah pengalihan. Serangan Soviet yang dimulai pada 3 Agustus langsung menempatkan Grup Angkatan Darat Selatan di bawah tekanan berat. Setelah dua hari pertempuran sengit, pasukan Soviet berhasil menjebol pertahanan Jerman dan merebut kembali Belgorod. Serangan ini menyisakan celah selebar 56 km (35 mi) di antara Angkatan Darat Panzer ke-4 dan Detasemen Angkatan Darat Kempf yang ditugaskan untuk mempertahankan Kharkov. Menanggapi desakan Manstein yang meminta bala bantuan, Hitler akhirnya mengirimkan Divisi Großdeutschland, Panzer ke-7, SS ke-2 Das Reich, dan SS ke-3 Totenkopf.[119][120][121]

Pembangunan posisi pertahanan di sepanjang Sungai Dnieper mulai berjalan, tetapi Hitler menolak mentah-mentah permintaan untuk mundur dan tetap bersikeras agar Kharkov dipertahankan. Di tengah pasokan bala bantuan yang datang tersendat-sendat, Manstein menggelar serangkaian serangan balik dan pertempuran lapis baja di dekat Bohodukhiv dan Okhtyrka antara tanggal 13 dan 17 Agustus. Namun, manuver ini justru menelan korban jiwa yang masif karena pasukan Jerman terbentur oleh lini pertahanan Soviet yang sudah dipersiapkan dengan matang. Pada 20 Agustus, ia melaporkan kepada OKH bahwa pasukannya di area Sungai Donets harus menjaga garis depan yang terlalu lebar dengan jumlah personel yang sangat minim; ia menegaskan bahwa pilihannya hanyalah mundur ke Sungai Dnieper atau mendapat tambahan bala bantuan.
Gempuran konstan dari pasukan Soviet berhasil memisahkan Grup Angkatan Darat Tengah dari Grup Angkatan Darat Selatan, sekaligus mengancam sektor sayap utara pimpinan Manstein secara serius. Ketika Tentara Merah mengerahkan pasukan cadangan utama mereka untuk merebut kembali Kharkov pada 21–22 Agustus, Manstein memanfaatkan momentum tersebut untuk menutup celah di antara Angkatan Darat Panzer ke-4 dan Angkatan Darat ke-8 guna membangun kembali garis pertahanan. Hitler akhirnya mengizinkan Manstein untuk menarik mundur pasukannya ke seberang Sungai Dnieper pada 15 September.[120][122][123]
Selama proses penarikan mundur tersebut, Manstein memerintahkan penerapan taktik bumi hangus di sepanjang zona sejauh 20 hingga 30 kilometer (12 hingga 19 mi) dari tepi sungai—sebuah instruksi yang kelak membuatnya diseret ke pengadilan kejahatan perang.[124] Kerugian di pihak Soviet pada bulan Juli dan Agustus mencakup lebih dari 1,6 juta korban jiwa, 10,000 tank dan artileri swagerak, serta 4.200 pesawat terbang. Di sisi lain, meskipun kerugian Jerman hanya sepersepuluh dari jumlah tersebut, dampaknya jauh lebih berat karena mereka tidak memiliki lagi cadangan personel maupun materiil yang bisa dikerahkan.[125] Melalui empat rangkaian pertemuan sepanjang bulan September, Manstein berupaya mendesak Hitler agar merombak struktur komando tinggi dan memberikan keleluasaan bagi para jenderalnya untuk mengambil keputusan militer, tetapi upaya ini gagal total.[126]
Pertempuran Dnieper
Pada September 1943, Manstein menarik pasukannya ke tepi barat Dnieper dalam sebuah operasi yang sebagian besar berjalan tertib, meski di beberapa momen sempat berubah menjadi pelarian massal yang kacau karena pasukannya yang kelelahan mulai "kocar-kacir".[127] Ratusan ribu warga sipil Soviet ikut mengungsi ke barat bersama mereka, banyak di antaranya membawa serta hewan ternak dan harta benda pribadi.[128] Manstein dengan tepat menyimpulkan bahwa serangan Soviet berikutnya akan mengarah ke Kiev. Namun, seperti yang sudah sering dilakukan Soviet selama kampanye militer ini, Tentara Merah menerapkan maskirovka (taktik kecohan) untuk menyamarkan waktu dan lokasi pasti dari rencana ofensif mereka.[129] Sejarawan Williamson Murray dan Allan Reed Millett menulis bahwa "kepercayaan fanatik" banyak jenderal Jerman terhadap teori ras Nazi "... membuat gagasan bahwa bangsa Slavia bisa mengecoh intelijen Jerman secara konsisten seperti itu menjadi benar-benar tidak masuk akal dalam benak mereka."[130] Front Ukraina ke-1 pimpinan Nikolai Fyodorovich Vatutin berhadapan dengan Angkatan Darat Panzer ke-4 yang kalah jumlah di dekat Kiev. Vatutin awalnya melakukan tusukan di dekat Liutezh, tepat di utara Kiev, kemudian menyerang di dekat Bukrin, di sebelah selatan, pada 1 November. Pasukan Jerman yang mengira Bukrin akan menjadi lokasi serangan utama, benar-benar kecolongan ketika Vatutin merebut pangkalan jembatan di Liutezh dan berhasil menancapkan pijakan di tepi barat Dnieper. Kiev berhasil dibebaskan pada 6 November.[131] Sementara itu, Angkatan Darat ke-17 terputus jalurnya dan terisolasi di Krimea akibat serangan dari Front Ukraina ke-4 pada 28 Oktober.[132]

Di bawah arahan Jenderal Hermann Balck, kota Zhytomyr dan Korosten berhasil direbut kembali pada pertengahan November,[131] tetapi setelah mendapat tambahan pasokan bala bantuan, Vatutin melanjutkan ofensifnya pada 24 Desember 1943,[133] dan Tentara Merah terus melanjutkan gerak maju mereka yang sukses. Permintaan berulang kali dari Manstein kepada Hitler untuk meminta lebih banyak bala bantuan ditolak mentah-mentah.[134] Pada 4 Januari 1944, Manstein menemui Hitler untuk menyampaikan bahwa garis pertahanan Dnieper tidak mungkin lagi dipertahankan dan ia harus menarik mundur pasukannya demi menyelamatkan mereka.[135] Hitler menolak, dan ketika Manstein kembali mengusulkan perubahan di tingkat tertinggi kepemimpinan militer, usul itu lagi-lagi ditampik karena Hitler percaya bahwa hanya dirinyalah yang mampu mengendalikan strategi perang yang lebih luas.[136]
Memasuki bulan Januari, desakan ofensif Soviet memaksa Manstein untuk mundur lebih jauh ke barat. Tanpa menunggu izin dari Hitler, ia mengambil langkah mandiri dengan memerintahkan Korps XI dan Korps XXXXII Jerman (mencakup 56.000 prajurit dalam enam divisi) dari Grup Angkatan Darat Selatan untuk menerobos keluar dari Kantong Korsun pada malam hari tanggal 16–17 Februari 1944. Pada awal Maret, gempuran Soviet berhasil mendesak Wehrmacht mundur jauh dari area sungai tersebut. Akibat adanya instruksi Hitler pada 19 Maret yang menegaskan bahwa sejak saat itu seluruh posisi wajib dipertahankan hingga titik darah penghabisan, Angkatan Darat Panzer ke-1 pimpinan Manstein akhirnya terjebak dan terkepung di Kantong Kamenets-Podolsky pada akhir Maret, lantaran lampu hijau untuk menerobos keluar terlambat diberikan oleh Hitler. Manstein pun terbang langsung ke markas besar Hitler di Lvov untuk berupaya keras mengubah keputusan sang Führer. Hitler akhirnya melunak, namun ia tetap mencopot Manstein dari jabatannya sebagai panglima komando pada 30 Maret 1944.[137]
Sosok Manstein sempat terpampang sebagai sampul majalah Time edisi 10 Januari 1944, lengkap dengan takarir berbunyi, "Retreat may be masterly, but victory is in the opposite direction" (Mundur mungkin dilakukan dengan lihai, tetapi kemenangan berada di arah sebaliknya.)[138][139]
Pemberhentian
Manstein menerima penghargaan Pedang untuk Salib Ksatria pada 30 Maret 1944[140] dan menyerahkan kendali Grup Angkatan Darat Selatan kepada Model pada 2 April dalam sebuah pertemuan di Berghof, tempat peristirahatan pegunungan milik Hitler. Ajudan Model, Günther Reichhelm, kelak menggambarkan suasana pertemuan tersebut beserta tanggapan Manstein:
Hitler pasti sempat memujinya atas keahlian strategisnya selama operasi serangan, tetapi ia juga berkata, "Saya tidak bisa lagi menugaskan Anda di Sektor Selatan. Marsekal Lapangan Model akan mengambil alih." Dan Manstein menjawab, "Mein Führer... percayalah, saya akan mengerahkan segala kemampuan strategis yang saya miliki demi mempertahankan tanah tempat putra saya dimakamkan."[94]
Saat menjalani cuti medis setelah operasi pengangkatan katarak pada mata kanannya, Manstein menjalani masa pemulihan di rumahnya di Liegnitz dan di sebuah fasilitas medis di Dresden. Ia sempat mengalami infeksi dan berada dalam risiko kehilangan penglihatannya. Pada hari kegagalan Plot 20 Juli—sebuah upaya pembunuhan terhadap Hitler yang menjadi bagian dari rencana kudeta militer—Manstein sedang berada di sebuah resor tepi pantai di Baltik. Meskipun beberapa kali pernah bertemu dengan tiga konspirator utama – Claus von Stauffenberg, Henning von Tresckow, dan Rudolf-Christoph von Gersdorff – Manstein tidak terlibat dalam konspirasi tersebut; ia kelak berujar, "Preussische Feldmarschälle meutern nicht"—"Para marsekal lapangan Prusia tidak melakukan pemberontakan."[141] Kendati demikian, Gestapo tetap mengawasi rumah Manstein dengan ketat.[142]
Ketika makin jelas bahwa Hitler tidak akan menunjuknya untuk menduduki jabatan baru, Manstein membeli sebuah properti tanah di Pomerania Timur pada Oktober 1944. Namun, ia segera terpaksa meninggalkannya ketika pasukan Soviet menyerbu dan menguasai wilayah tersebut. Rumahnya di Liegnitz harus dikosongkan pada 22 Januari 1945, lalu ia dan keluarganya mengungsi untuk sementara waktu di kediaman kerabat mereka di Berlin. Selama di sana, Manstein mencoba meminta waktu untuk menghadap Hitler di Führerbunker, tetapi permintaannya ditolak. Ia dan keluarganya terus bergerak semakin jauh ke arah barat Jerman hingga perang di Eropa berakhir dengan kekalahan Jerman pada Mei 1945. Manstein mengalami komplikasi lebih lanjut pada mata kanannya dan tengah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Heiligenhafen ketika ia ditangkap oleh pasukan Inggris, lalu dipindahkan ke kamp tawanan perang di dekat Lüneburg pada 26 Agustus.[143][144][145]
Pascaperang
Peradilan dan pemidanaan
Manstein dipindahkan ke Nuremberg pada Oktober 1945. Ia ditahan di Istana Kehakiman, Nürnberg, lokasi yang sama dengan berlangsungnya Peradilan Nuremberg bagi para penjahat perang dan tokoh utama Nazi. Selama di sana, Manstein membantu menyusun sebuah dokumen setebal 132 halaman untuk pembelaan Staf Umum dan OKW, yang diadili di Nuremberg pada Agustus 1946. Mitos bahwa Wehrmacht itu "bersih" – tidak bersalah atas peristiwa Holokaus – muncul sebagian sebagai akibat dari dokumen ini, yang sebagian besar ditulis oleh Manstein bersama Jenderal Kavaleri Siegfried Westphal. Ia juga memberikan kesaksian lisan mengenai Einsatzgruppen, perlakuan terhadap tawanan perang, dan konsep kepatuhan militer, khususnya yang berkaitan dengan Perintah Komisar, sebuah perintah yang dikeluarkan oleh Hitler pada tahun 1941 yang mewajibkan semua komisar politik Soviet untuk ditembak mati tanpa diadili. Manstein mengaku menerima perintah tersebut, tetapi menyatakan bahwa ia tidak melaksanakannya.[146]
Sejumlah dokumen dari tahun 1941 yang diajukan di Nuremberg dan dalam persidangan Manstein sendiri di kemudian hari menyangkal klaim tersebut: Ia sebenarnya menerima laporan berkala sepanjang periode itu mengenai eksekusi ratusan komisar politik.[147] Ia membantah mengetahui aktivitas Einsatzgruppen, dan bersaksi bahwa prajurit di bawah komandonya tidak terlibat dalam pembunuhan warga sipil Yahudi.[148] Otto Ohlendorf, komandan Einsatzgruppe D, membantah hal ini dalam kesaksiannya dengan menyatakan bahwa Manstein tidak hanya mengetahui apa yang terjadi, tetapi Angkatan Darat Kesebelas juga terlibat di dalamnya.[149] Pada September 1946, Staf Umum dan OKW dinyatakan bukan sebagai organisasi kriminal.[150] Keputusan majelis hakim menyatakan bahwa kumpulan perwira militer bukanlah sebuah kelompok atau organisasi sebagaimana yang didefinisikan dalam Pasal 9 piagam mereka.[151]
Setelah memberikan kesaksiannya di Nuremberg, Manstein ditahan oleh pihak Inggris sebagai tawanan perang di Island Farm (juga dikenal sebagai Kamp Khusus 11) di Bridgend, Wales, tempat ia menunggu keputusan mengenai apakah ia akan menghadapi peradilan kejahatan perang atau tidak. Ia lebih sering memisahkan diri dari para tahanan lainnya, berjalan-jalan sendirian, merawat sebuah kebun kecil, dan mulai mengerjakan draf untuk dua buku. Penulis asal Inggris B. H. Liddell Hart melakukan korespondensi dengan Manstein dan tahanan lainnya di Island Farm serta mengunjungi para tahanan di beberapa kamp di seluruh Britania saat mempersiapkan bukunya yang laris pada tahun 1947, On the Other Side of the Hill. Liddell Hart adalah seorang pengagum para jenderal Jerman; ia menggambarkan Manstein sebagai seorang jenius operasional. Keduanya tetap menjaga komunikasi, dan Liddell Hart kelak membantu Manstein mengatur penerbitan edisi bahasa Inggris dari memoarnya, Verlorene Siege (Lost Victories), pada tahun 1958.[152][153]
Kabinet Britania, di bawah tekanan dari Uni Soviet, akhirnya memutuskan pada Juli 1948 untuk menuntut Manstein atas kejahatan perang. Ia dan tiga perwira senior lainnya (Walther von Brauchitsch, Gerd von Rundstedt, dan Adolf Strauss) dipindahkan ke Munsterlager untuk menunggu peradilan. Brauchitsch meninggal dunia pada bulan Oktober tahun itu, sedangkan Rundstedt dan Strauss dibebaskan karena alasan medis pada Maret 1949. Peradilan Manstein digelar di Hamburg dari 23 Agustus hingga 19 December 1949.[154]
Manstein menghadapi tujuh belas dakwaan dalam peradilan tersebut, tiga di antaranya berkaitan dengan peristiwa di Polandia dan empat belas terkait peristiwa di Uni Soviet. Dakwaan-dakwaan tersebut meliputi penganiayaan terhadap tawanan perang, kerja sama dengan Einsatzgruppe D dalam membunuh penduduk Yahudi di Krimea, dan mengabaikan kesejahteraan warga sipil dengan menggunakan taktik "bumi hangus" saat mundur dari Uni Soviet.[155] Pihak penuntut, yang dipimpin oleh penasihat hukum senior Arthur Comyns Carr, menggunakan sebuah perintah yang ditandatangani Manstein pada 20 November 1941 berdasarkan Perintah Kekejaman (Severity Order) yang pernah dikeluarkan oleh Marsekal Lapangan Walter von Reichenau, untuk membangun argumen hukum mereka bahwa Manstein mengetahui dan terlibat dalam genosida tersebut. Perintah tersebut menyerukan pemusnahan "sistem Bolshevik Yahudi" dan "hukuman keras terhadap kaum Yahudi".
Manstein mengklaim bahwa ia ingat pernah meminta draf perintah semacam itu, tetapi sama sekali tidak ingat telah menandatanganinya.[156] Sejarawan Amerika Ronald Smelser dan Edward J. Davies menulis pada tahun 2008 bahwa Manstein menyetujui gagasan Hitler bahwa perang melawan Uni Soviet adalah perang untuk memusnahkan Yudeo-Bolshevisme dan bahwa ia telah melakukan kesaksian palsu ketika mengklaim tidak ingat menandatangani versi miliknya dari Perintah Kekejaman tersebut.[76]
Pihak pembela Manstein, yang dipimpin oleh pengacara Reginald Thomas Paget, berargumen bahwa perintah tersebut dapat dibenarkan karena banyak partisan adalah orang Yahudi, dan oleh karena itu perintah Manstein yang menyerukan agar semua orang Yahudi dieksekusi dibenarkan oleh keinginannya untuk melindungi anak buahnya dari serangan partisan.[76] Ia berargumen bahwa Manstein tidak wajib untuk melanggar perintah yang diberikan oleh pemerintah kedaulatannya, bahkan jika perintah tersebut ilegal. Manstein, saat berbicara dalam pembelaannya, menyatakan bahwa ia menganggap kebijakan rasial Nazi sangat menjijikkan. Enam belas saksi lainnya bersaksi bahwa Manstein tidak mengetahui atau terlibat dalam genosida.[157][158] Paget menyebut orang-orang Soviet sebagai "kaum biadab", dengan argumen bahwa Manstein menunjukkan sikap menahan diri sebagai seorang "prajurit Jerman yang terhormat" dalam menegakkan hukum perang saat bertempur melawan pihak Soviet yang menunjukkan "kebiadaban yang mengerikan".[159]
Apakah Manstein bertanggung jawab atau tidak atas aktivitas Einsatzgruppe D—sebuah unit yang tidak berada di bawah kendali langsungnya tetapi beroperasi di wilayah komandonya—menjadi salah satu poin utama dalam peradilan tersebut. Pihak penuntut mengklaim bahwa sudah menjadi kewajiban Manstein untuk mengetahui aktivitas unit ini dan juga kewajibannya untuk menghentikan operasi genosida mereka.[160] Para pakar modern, termasuk Ronald Smelser dan Benoît Lemay, berpendapat bahwa ia hampir pasti telah memberikan kesaksian palsu dalam peradilannya sendiri maupun di Nuremberg.[161][162]
Manstein dinyatakan bersalah atas sembilan dakwaan dan dijatuhi hukuman delapan belas tahun penjara.[163] Dakwaan yang menyatakannya bersalah meliputi penembakan tawanan perang Soviet; pelaksanaan Perintah Komisar; dan pembiaran terhadap bawahannya untuk menembak warga sipil.[159] Para pendukung Manstein di Britania dan Jerman melayangkan protes. Liddell Hart melakukan lobi di media cetak Britania, sementara di Jerman hukuman tersebut dipandang sebagai sebuah keputusan politik. Hukuman tersebut dikurangi menjadi 12 tahun pada Februari 1950.[164] Paget menerbitkan sebuah buku laris pada tahun 1951 mengenai karier dan peradilan Manstein, yang menggambarkan Manstein sebagai seorang prajurit terhormat yang bertempur secara heroik di Front Timur meskipun menghadapi situasi yang sangat sulit, dan telah dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak ia lakukan. Buku tersebut turut berkontribusi terhadap kultus yang kian berkembang di seputar nama Manstein.[165] Pembebasannya pada 7 Mei 1953 sebagian merupakan akibat dari kambuhnya masalah mata yang dideritanya, tetapi juga hasil desakan dari Winston Churchill, Konrad Adenauer, Liddell Hart, Paget, dan pihak-pihak lainnya.[166][167] Selain itu, pihak Britania menginginkan Jerman untuk ambil bagian dalam pertahanan Eropa Barat, dan Adenauer menjadikan persenjataan kembali Jerman bergantung pada pembebasan para penjahat perang mereka.[168][169]
Antisemitisme
Manstein percaya bahwa Bolshevisme dan orang Yahudi terikat erat dan tidak dapat dipisahkan, bahwa terdapat konspirasi global yang dipimpin oleh orang Yahudi, dan bahwa untuk menghentikan penyebaran komunisme, orang Yahudi harus disingkirkan dari masyarakat Eropa.[170] Perintahnya pada 20 November 1941, yang didasarkan pada Perintah Kekejaman Reichenau,[171] sebagian berbunyi:
[Sistem] Bolshevik Yahudi harus dimusnahkan sekali untuk selamanya dan tidak boleh lagi dibiarkan menginvasi ruang hidup Eropa kita ... Kaum Yahudi yang sama inilah yang telah menimbulkan begitu banyak kerusakan pada Tanah Air kita sendiri melalui aktivitas mereka yang menentang bangsa dan peradaban, yang mempromosikan tren anti-Jerman di seluruh dunia, dan yang akan menjadi pembawa pesan balas dendam. Pemusnahan mereka merupakan tuntutan mutlak bagi kelangsungan hidup kita sendiri.[171][172]
Manstein tidak melakukan apa pun untuk mencegah pembunuhan orang Yahudi dan warga sipil lainnya di wilayah tempat unit-unitnya beroperasi, dan Angkatan Darat Kesebelas miliknya terlibat secara aktif dalam tindakan tersebut.[173] Bahwa Manstein mengetahui dengan baik tentang pembantaian oleh Einsatzgruppen dibuktikan melalui sebuah surat tahun 1941 yang ia kirimkan kepada Otto Ohlendorf, yang di dalamnya Manstein menuntut agar Ohlendorf menyerahkan jam tangan milik orang-orang Yahudi yang telah dibunuh. Manstein merasa anak buahnya layak mendapatkan jam tangan tersebut, karena mereka telah banyak membantu anak buah Ohlendorf dalam menjalankan tugas mereka.[162] Smelser dan Davies mencatat bahwa surat ini adalah satu-satunya momen ketika Manstein mengeluhkan aktivitas Einsatzgruppen.[162] Manstein kelak menyatakan bahwa ia merasa jumlah orang Yahudi yang dibunuh dalam Holokaus telah dilebih-lebihkan.[174]
Antisemitisme adalah hal yang umum di Jerman dan di seluruh Eropa selama periode ini, dan sikap Manstein terhadap orang Yahudi berakar dari paparan serta asimilasi dirinya terhadap pandangan-pandangan tersebut.[175] Penulis biografi Benoît Lemay menggambarkan tindakan Manstein sebagai cerminan dari kesetiaannya terhadap Hitler dan rezim Nazi serta landasan rasa tanggung jawabnya yang didasarkan pada nilai-nilai militer tradisional Prusia.[176]
Kritiknya terhadap Hitler semata-mata didasarkan pada ketidaksepakatan mereka mengenai jalannya perang, bukan mengenai kebijakan rasial rezim tersebut.[177] Beberapa sejarawan, termasuk Antony Beevor dan Benoît Lemay, berpendapat bahwa Manstein memiliki sejumlah garis keturunan Yahudi.[178][179] Manstein adalah satu-satunya perwira Reichswehr yang menentang pengenalan Paragraf Arya pada tahun 1934. Ia mengirimkan surat protes kepada Jenderal Beck, dengan berkomentar bahwa siapa pun yang telah mengajukan diri untuk bertugas di angkatan bersenjata telah membuktikan kelayakan mereka.[180]
Lemay berspekulasi bahwa Manstein mungkin berniat untuk melindungi kedua cucu keponakannya yang berstatus Mischling yang telah bertugas di Reichswehr. Ia mungkin juga merasa khawatir mengenai kemungkinan bahwa ia memiliki garis keturunan Yahudi yang jauh.[179] SS melakukan penyelidikan terhadap silsilah keturunan Manstein, tetapi laporan tersebut tidak diselesaikan dan hasilnya tetap tidak diketahui.[179]
Kehidupan pascaperang dan memoar
Bersama dengan sepuluh mantan perwira senior lainnya, Manstein dipanggil pada tahun 1955 oleh Amt Blank untuk menyusun rencana pendirian kembali angkatan darat Jerman. Pada 20 Juni 1953, ia berbicara di hadapan Bundestag, memberikan analisisnya mengenai pertimbangan kekuatan strategis dan pertahanan negara, serta berbicara mengenai apakah negara tersebut harus memiliki tentara profesional atau tentara wajib militer. Pendapatnya adalah bahwa masa dinas bagi para wajib militer Bundeswehr setidaknya harus 18 bulan, atau lebih baik 24 bulan. Gagasannya untuk membentuk pasukan cadangan kelak diterapkan.[181][182]
Memoar perang Manstein, Verlorene Siege (Lost Victories), diterbitkan di Jerman Barat pada tahun 1955 dan kelak diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa lain. Buku tersebut menjadi buku terlaris yang sangat diakui, yang mengkritik Hitler dan gaya kepemimpinannya.[183] Para sejarawan seperti Liddell Hart melihat penekanan Manstein pada aspek militer murni dari perang tersebut, sembari mengabaikan aspek politik dan moral, sebagai cara baginya untuk membebaskan dirinya sendiri dan komando tinggi dari tanggung jawab apa pun atas peristiwa Holokaus.[184] Selama bertahun-tahun, ia menjadi pusat dari sebuah "kultus militer" yang menempatkannya tidak hanya sebagai salah satu jenderal terbesar Jerman, tetapi juga salah satu yang terbesar dalam sejarah. Ia digambarkan sebagai seorang militärische Kult- und Leitfigur ("figur kultus militer dan kepribadian terkemuka"), seorang jenderal dengan kemampuan legendaris – bahkan hampir mistis – yang sangat dihormati baik oleh masyarakat maupun para sejarawan.[185] Para penulis biografi, termasuk Benoît Lemay, merasa bahwa fokusnya yang sempit pada masalah militer dengan mengesampingkan masalah moral tidak dapat dianggap etis.[186]
Manstein dan istrinya pindah beberapa kali setelah ia dibebaskan dari penjara, tinggal di Essen dan Bonn untuk sementara waktu sebelum menetap di sebuah rumah di dekat München pada tahun 1958. Jilid kedua dari memoarnya, Aus einem Soldatenleben ("A Soldier's Life"), yang mencakup periode dari tahun 1887 hingga 1939, diterbitkan pada tahun 1958.[187] Istrinya, Jutta Sibylle von Manstein, meninggal dunia pada tahun 1966.
Pada hari ulang tahun Manstein yang ke-80, ia menerima ucapan selamat dari panglima tertinggi Bundeswehr, Jenderal Ulrich de Maizière, beserta rombongannya.[188]
Manstein meninggal dunia akibat stroke pada 10 Juni 1973 di usia 85 tahun.[189] Sebagai marsekal lapangan Jerman kedua terakhir yang masih hidup (Ferdinand Schörner meninggal dunia pada 2 Juli 1973), ia dimakamkan dengan upacara penghormatan militer penuh. Pemakamannya dihadiri oleh ratusan prajurit dari semua pangkat.[190] Dalam obituari Manstein, majalah Spiegel menyatakan, "Ia turut membantu dalam langkah menuju malapetaka—disesatkan oleh rasa tanggung jawab yang buta."[191]
Penghargaan
- Salib Besi tahun 1914, Kelas 1 dan Kelas 2
- Salib Ksatria dari Ordo Wangsa Hohenzollern Kerajaan dengan Pedang[192]
- Salib Ksatria Kelas Satu dari Ordo Friedrich dengan Pedang[192]
- Salib Hanseatik (versi Hamburg)[192]
- Salib Kehormatan Perang Dunia 1914/1918
- Gesper Salib Besi (1939) Kelas 2 (16 September 1939) dan Kelas 1 (21 September 1939)[193]
- Salib Ksatria dari Salib Besi dengan Daun Ek dan Pedang
- Salib Ksatria pada 19 Juli 1940 sebagai General der Infanterie dan jenderal komandan Korps Angkatan Darat XXXVIII[140]
- Daun Ek pada 14 Maret 1943 sebagai Generalfeldmarschall dan panglima tertinggi Grup Angkatan Darat Selatan[140]
- Pedang pada 30 Maret 1944 sebagai Generalfeldmarschall dan panglima tertinggi Grup Angkatan Darat Selatan[140]
Referensi
- ↑ Stein 2000, hlm. 25.
- ↑ Kosk 2001.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 10.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 12.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 13.
- 1 2 Lemay 2010, hlm. 14.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 20–21, 23.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 14–15.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 23–27.
- ↑ Knopp 2000, hlm. 178.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 27–31.
- ↑ Knopp 2000, hlm. 180.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 20.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 7–8, 28.
- ↑ Knopp 2000, hlm. 197.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 38.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 40.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 21–22, 26.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 59, 64.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 23.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 7–9.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 64.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 73.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 51.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 79–82.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 9.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 43.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 100.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 56–57, 62–63.
- ↑ Smelser & Davies 2008, hlm. 97.
- ↑ Kopp 2003, hlm. 471–534, 512.
- ↑ Bartov 1999, hlm. 145.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 11.
- 1 2 Melvin 2010, hlm. 117.
- ↑ Longerich, Chapter 10 2003.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 81–88.
- ↑ Evans 2008, hlm. 14–15.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 469–470.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 120–125.
- ↑ Evans 2008, hlm. 7.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 96.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 140.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 98–102.
- 1 2 3 Forczyk 2010, hlm. 11–14.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 145.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 110–111.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 117–119.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 132.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 178–179.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 16.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 186, 193.
- ↑ Evans 2008, hlm. 160.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 198–199.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 205.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 209–210.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 217–218.
- 1 2 Forczyk 2010, hlm. 16–20.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 220–221.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 221–224.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 20.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 227.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 229.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 21.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 233–235, 237.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 21–22.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 238–239, 247, 252.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 259.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 23.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 256–259.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 23–24.
- 1 2 Glantz 1995, hlm. 94, 117.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 24–25.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 265–270.
- ↑ Forczyk 2008, hlm. 91.
- ↑ Axworthy et al. 1995, hlm. 70.
- 1 2 3 Smelser & Davies 2008, hlm. 98.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 288–292.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 240.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 25–26.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 25–28.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 275–278.
- ↑ Evans 2008, hlm. 621.
- ↑ Glantz 1995, hlm. 108–110.
- ↑ Evans 2008, hlm. 409–411.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 282, 285.
- ↑ Evans 2008, hlm. 413.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 287, 294.
- ↑ Knopp 2000, hlm. 163.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 304–305.
- ↑ Murray & Millett 2000, hlm. 289.
- ↑ Evans 2008, hlm. 413, 416–417.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 313.
- ↑ Evans 2008, hlm. 419–420.
- 1 2 Knopp 1998.
- ↑ Murray & Millett 2000, hlm. 288.
- ↑ Weinberg 2005, hlm. 451.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 29, 62.
- ↑ Weinberg 2005, hlm. 1045.
- ↑ Nipe 2000, hlm. 18–33.
- 1 2 Glantz 1995, hlm. 143–147.
- ↑ Nipe 2000, hlm. 54–64, 110.
- 1 2 Melvin 2010, hlm. 333.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 334.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 338–341, 344.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 343.
- ↑ Manstein 2004, hlm. 565.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 346.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 343–344.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 350–351.
- ↑ Evans 2008, hlm. 485.
- ↑ Evans 2008, hlm. 486.
- ↑ Evans 2008, hlm. 487.
- ↑ Glantz & House 1999, hlm. 217.
- ↑ Glantz & House 1999, hlm. 218.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 377–378.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 41–45.
- ↑ Murray & Millett 2000, hlm. 298.
- ↑ Glantz 1995, hlm. 160–167.
- ↑ Murray & Millett 2000, hlm. 390–391.
- 1 2 Forczyk 2010, hlm. 41–47.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 384–385.
- ↑ Murray & Millett 2000, hlm. 391–392.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 386–394.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 396, 471.
- ↑ Evans 2008, hlm. 489–490.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 387–392.
- ↑ Murray & Millett 2000, hlm. 393.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 397.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 399.
- ↑ Murray & Millett 2000, hlm. 395.
- 1 2 Melvin 2010, hlm. 402.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 400, Map 15.
- ↑ Barratt 2012, hlm. 21–22.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 402, 404, 411.
- ↑ Murray & Millett 2000, hlm. 396.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 410.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 414–418.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 412.
- ↑ Time 1944.
- 1 2 3 4 Scherzer 2007, hlm. 503.
- ↑ Beevor 1999, hlm. 276.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 420–425.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 58–60.
- ↑ Murray & Millett 2000, hlm. 401.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 425–431.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 432–434.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 252.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 440–448.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 270–271.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 448.
- ↑ International Military Tribunal 1946.
- ↑ Smelser & Davies 2008, hlm. 102.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 452–456.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 460–463, 467.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 469–473.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 243, 466, 475.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 466, 477–480.
- ↑ Paget 1952, hlm. 230.
- 1 2 Smelser & Davies 2008, hlm. 101.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 475–477.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 265.
- 1 2 3 Smelser & Davies 2008, hlm. 43.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 467–468.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 469–470.
- ↑ Smelser & Davies 2008, hlm. 101–102.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 492–493.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 470–471.
- ↑ Smelser & Davies 2008, hlm. 100.
- ↑ Lingen 2009, hlm. 178.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 259, 262–263.
- 1 2 Melvin 2010, hlm. 243.
- ↑ Burleigh 2000, hlm. 522.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 271, 278.
- ↑ McKale 2012, hlm. 338.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 262.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 260.
- ↑ Forczyk 2010, hlm. 61–62.
- ↑ Beevor 1999, hlm. 16.
- 1 2 3 Lemay 2010, hlm. 36–37.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 34–35.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 499, 498.
- ↑ Knopp 2000, hlm. 170.
- ↑ Smelser & Davies 2008, hlm. 90, 95.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 475, 478.
- ↑ Smelser & Davies 2008, hlm. 90–92.
- ↑ Lemay 2010, hlm. 480–482.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 495, 498.
- ↑ Knopp 2000, hlm. 188.
- ↑ Erich von Manstein Dead; Planned Blitzkrieg Attack (New York Times, 12 June 1973, p. 48)
- ↑ Melvin 2010, hlm. 503.
- ↑ Melvin 2010, hlm. 504.
- 1 2 3 Melvin 2010, hlm. 515.
- ↑ Thomas 1998, hlm. 24.
Daftar pustaka
- Bartov, Omer (1999). "Soldiers, Nazis and War in the Third Reich". Dalam Leitz, Christian (ed.). The Third Reich. London: Blackwell. hlm. 129–150. ISBN 978-0-631-20700-9.
- Beevor, Antony (1999). Stalingrad: The Fateful Siege, 1942–1943. New York: Penguin. ISBN 978-0-14-028458-4.
- Barratt, Stephen (2012). Zhitomir- Berdichev. Solihull: Helion. ISBN 978-1-907677-66-3.
- Burleigh, Michael (2000). The Third Reich: A New History. New York: Hill and Wang. ISBN 0-8090-9326-X.
- Evans, Richard J. (2008). The Third Reich at War. New York: Penguin Group. ISBN 978-0-14-311671-4.
- Forczyk, Robert (2008). Sevastopol 1942: Von Manstein's Triumph. Oxford: Osprey. ISBN 978-1-84603-465-7.
- Forczyk, Robert (2010). Manstein: Leadership – Strategy – Conflict. Oxford: Osprey. ISBN 978-1-84603-221-9.
- Glantz, David M. (1995). When Titans Clashed: How the Red Army Stopped Hitler. Lawrence, KS: University Press of Kansas. ISBN 978-0-7006-0899-7.
- Glantz, David M.; House, Jonathan M. (1999). The Battle of Kursk. Lawrence, KS: University Press of Kansas. ISBN 978-0-7006-1335-9.
- Knopp, Guido (creator, director) (1998). Hitler's Warriors: The Strategist (television documentary). Germany: ZDF. Diakses tanggal 28 May 2014.
- Knopp, Guido (2000). Hitlers Krieger (dalam bahasa German). Munich: Goldmann Verlag. ISBN 3-442-15045-0. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- Kopp, Roland (2003). "Die Wehrmacht feiert. Kommandeurs-Reden zu Hitlers 50. Geburtstag am 20. April 1939". Militärgeschichtliche Zeitschrift (dalam bahasa German). 62 (2). Militärgeschichtliches Forschungsamt: 471–535. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- Kosk, Henryk P (2001). Generalicja Polska: Popularny Słownik Biograficzny. T. 2, M – Ż, suplement (dalam bahasa Polish). Pruszków: Oficyna Wydawnicza Ajaks. ISBN 978-83-87103-81-1. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- Lemay, Benoît (2010). Erich von Manstein: Hitler's Master Strategist. Heyward, Pierce (trans.). Havertown, PA; Newbury, Berkshire: Casemate. ISBN 978-1-935149-26-2.
- Longerich, Heinz Peter (2003), "10. Hitler and the Mass Murders in Poland 1939/40", Hitler's Role in the Persecution of the Jews by the Nazi Regime, Atlanta: Emory University, diarsipkan dari asli tanggal 2015-10-01, diakses tanggal 5 August 2014.
- Manstein, Erich (2004) [1955]. Powell, Anthony G (ed.). Lost Victories: The War Memoirs of Hitler's Most Brilliant General. St. Paul, MN: Zenith. ISBN 0-7603-2054-3.
- McKale, Donald M. (2012). Nazis After Hitler: How Perpetrators of the Holocaust Cheated Justice and Truth. Lanham, MD: Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-4422-1316-6.
- Melvin, Mungo (2010). Manstein: Hitler's Greatest General. London: Weidenfeld & Nicholson. ISBN 978-0-297-84561-4.
- Murray, Williamson; Millett, Allan Reed (2000). A War To Be Won: Fighting the Second World War. Cambridge, Mass: Belknap Press of Harvard University Press. ISBN 978-0-674-00680-5.
- Nipe, George M. Jr. (2000). Last Victory in Russia: The SS-Panzerkorps and Manstein's Kharkov Counteroffensive, February–March 1943. Atglen, PA: Schiffer. ISBN 0-7643-1186-7.
- Paget, Baron Reginald Thomas (1952). Manstein: Seine Feldzüge und sein Prozess (dalam bahasa German). Wiesbaden: Limes Verlag. OCLC 16731799. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- Scherzer, Veit (2007). Die Ritterkreuzträger 1939–1945 Die Inhaber des Ritterkreuzes des Eisernen Kreuzes 1939 von Heer, Luftwaffe, Kriegsmarine, Waffen-SS, Volkssturm sowie mit Deutschland verbündeter Streitkräfte nach den Unterlagen des Bundesarchives (dalam bahasa German). Jena, Germany: Scherzers Militaer-Verlag. ISBN 978-3-938845-17-2. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- Smelser, Ronald; Davies, Edward (2008). The Myth of the Eastern Front: The Nazi-Soviet War in American Popular Culture. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-71231-6.
- Thomas, Franz (1998). Die Eichenlaubträger 1939–1945 Band 2: L–Z (dalam bahasa German). Osnabrück, Germany: Biblio-Verlag. ISBN 978-3-7648-2300-9. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- "Fritz von Manstein: Jan. 10, 1944". Time magazine. Time Warner. 10 January 1944. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-08-26. Diakses tanggal 9 September 2012. ;
- "Obituary: Field Marshal von Manstein: An outstanding German soldier" (transcript). The Times. 13 June 1973. Diakses tanggal 19 August 2012.
- Weinberg, Gerhard (2005) [1994]. A World at Arms : A Global History of World War II. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-85316-3.
Pranala luar
- (Jerman) Erich von Manstein dalam katalog Perpustakaan Nasional Jerman
- The New York Review of Books: "How Wrong Was Churchill?" oleh Noel Annan
- "Erich von Manstein 1887–1973". LeMO di Deutsches Historisches Museum (dalam bahasa German). Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-02. Diakses tanggal 13 Mei 2016. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
| Jabatan militer | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Generaloberst Eugen Ritter von Schobert |
Komandan Angkatan Darat ke-11 21 September 1941 – 21 November 1942 |
Diteruskan oleh: Grup Angkatan Darat Don |
| Didahului oleh: Angkatan Darat ke-11 |
Komandan Grup Angkatan Darat Don 21 November 1942 – 12 Februari 1943 |
Diteruskan oleh: Grup Angkatan Darat Selatan |
| Didahului oleh: Generalfeldmarschall Maximilian von Weichs |
Komandan Grup Angkatan Darat Selatan 12 Februari 1943 – 30 Maret 1944 |
Diteruskan oleh: Generalfeldmarschall Walter Model |
| Penghargaan dan prestasi | ||
| Didahului oleh: George Marshall |
Sampul majalah Time 10 Januari 1944 |
Diteruskan oleh: Oveta Culp Hobby |
| Marsekal Reich (Reichsmarschall) |
| |||
|---|---|---|---|---|
| Marsekal Lapangan (Generalfeldmarschall) | ||||
| Laksamana Besar (Großadmiral) |
| |||
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Akademik | |
| Orang | |
| Lain-lain | |