ENSIKLOPEDIA
Staf Umum Jerman
| Staf Umum Jerman | |
|---|---|
| Großer Generalstabcode: de is deprecated (Jerman) | |
| Aktif | 1806–1945 |
| Negara | |
| Aliansi | |
| Cabang | Dinas aktif |
| Tipe unit | Staf |
| Bagian dari | Kementerian Perang Prusia Oberkommando der Wehrmacht |
| Markas | Berlin |
| Tokoh | |
| Tokoh berjasa | Helmuth von Moltke yang Tua Alfred von Schlieffen Helmuth von Moltke yang Muda Erich von Falkenhayn Paul von Hindenburg Franz Halder Heinz Guderian |
Staf Umum Jerman yang awalnya bernama Staf Umum Prusia dan secara resmi bernama Großer Generalstab (Staf Umum Besar) merupakan sebuah lembaga penuh waktu di puncak pimpinan Angkatan Darat Prusia dan kemudian Angkatan Darat Jerman. Lembaga ini bertanggung jawab atas studi berkelanjutan mengenai seluruh aspek perang serta penyusunan dan peninjauan rencana mobilisasi atau kampanye militer. Eksistensinya telah ada secara tidak resmi sejak tahun 1806 dan baru didirikan secara resmi melalui undang-undang pada tahun 1814. Sebagai staf umum pertama di dunia, lembaga ini menonjol karena proses seleksi resmi perwiranya didasarkan pada kecerdasan dan kemampuan yang terbukti alih-alih kekayaan atau patronase. Selain itu, lembaga ini juga dikenal karena pelatihan komprehensif serta terstruktur secara ketat yang wajib dijalani oleh para perwira stafnya.
Staf Umum Prusia juga menikmati kebebasan yang lebih besar dari kendali politik dibandingkan lembaga sejenis di negara-negara sezamannya. Otonomi ini dilindungi oleh hukum saat Penyatuan Jerman dan pendirian Kekaisaran Jerman pada tahun 1871. Pasca-Perang Dunia I, lembaga ini mulai dianggap sebagai pusat militerisme Jerman sehingga Blok Sekutu yang memenangkan perang berusaha membubarkannya. Meskipun demikian, lembaga ini tetap bertahan untuk memainkan peran tradisionalnya dalam persenjataan kembali Jerman dan Perang Dunia II.[1]
Dalam arti yang lebih luas, korps Staf Umum Prusia terdiri dari para perwira yang memenuhi kualifikasi untuk menjalankan tugas-tugas staf dan mereka membentuk sebuah persaudaraan militer yang unik. Pelatihan ketat mereka dirancang tidak hanya untuk menyaring kandidat yang kurang bermotivasi atau kurang mampu, tetapi juga untuk melahirkan sekelompok pakar militer profesional dengan metode kerja dan pandangan yang sama. Para perwira yang berkualifikasi ini bertugas secara bergantian antara komando lini depan dan tugas staf, tetapi tetap menjadi anggota seumur hidup dari organisasi khusus ini.
Hingga runtuhnya Kekaisaran Jerman, konvensi sosial dan politik sering kali menempatkan anggota keluarga bangsawan atau kerajaan untuk memegang komando atas angkatan darat atau korps pasukan. Namun, tanggung jawab riil dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi militer sebenarnya berada di tangan para perwira staf dari formasi tersebut. Bagi angkatan darat Eropa lainnya yang tidak memiliki korps staf terlatih secara profesional, konvensi serupa sering kali menjadi resep menuju kehancuran. Bahkan Angkatan Darat Kekaisaran Prancis Kedua yang perwira seniornya dianggap meraih pangkat tinggi berkat keberanian dan keberhasilan di medan perang dihancurkan oleh pasukan Prusia dan angkatan darat Jerman lainnya dalam Perang Prancis-Prusia pada tahun 1870–1871. Hasil perang tersebut menonjolkan buruknya administrasi dan perencanaan Prancis serta kurangnya pendidikan profesional militer mereka.
Kepala staf dari suatu formasi pasukan Prusia di lapangan memiliki hak untuk menyatakan ketidaksetujuan secara tertulis terhadap rencana atau perintah dari komandan formasi tersebut. Mereka juga berhak mengajukan banding ke komandan formasi yang setingkat lebih tinggi, yang pada akhirnya bisa sampai ke tingkat raja atau kaisar yang nantinya akan dipandu oleh kepala Großer Generalstab. Hal ini berfungsi sebagai kendali atas ketidakmampuan komandan sekaligus menjadi sarana bagi perwira yang keberatan untuk secara resmi melepaskan tanggung jawab dari rencana yang cacat. Hanya komandan paling keras kepala yang tidak mau mengalah di hadapan ancaman tertulis ini.
Bagaimanapun, kemenangan militer Prusia dan Jerman secara profesional sering kali dikreditkan kepada kepala staf, alih-alih kepada panglima nominal dari angkatan darat tersebut. Sering kali sang panglima angkatan darat itu sendiri merupakan anggota Staf Umum, tetapi kini secara institusional telah diakui bahwa tidak hanya kepemimpinan komando yang penting, melainkan kerja staf yang efektif juga merupakan kunci signifikan menuju kesuksesan dalam perencanaan pra-perang maupun operasi di masa perang.
Sejarah
Sejarah awal
Sebelum abad ke-19, kesuksesan di medan perang sebagian besar bergantung pada kompetensi militer sang penguasa. Adipati Friedrich Wilhelm memperkenalkan istilah Generalstabsdienst (Dinas Staf Umum) untuk angkatan darat Prusia-Brandenburg pada tahun 1640.[2] Meskipun Friedrich II membawa kejayaan bagi kekuatan militer Prusia, para penerusnya tidak memiliki bakat serupa sehingga kemampuan komando di dalam Angkatan Darat menurun, sekalipun mereka dibantu oleh Staf Umum Kuartermaster yang terdiri dari para ajudan dan insinyur yang didirikan oleh Friedrich. Para reformis di dalam angkatan darat mulai menulis dan memberikan kuliah tentang perlunya mempertahankan serta melembagakan bakat militer yang telah dihimpun oleh Friedrich di dalam pasukannya. Mereka berpendapat bahwa kader perwira staf berbakat yang dihimpun secara cermat dapat merencanakan logistik dan melatih Angkatan Darat baik pada masa damai maupun masa perang. Pada tahun-tahun terakhir abad ke-18, menugaskan pakar militer untuk membantu para jenderal Angkatan Darat Prusia mulai menjadi sebuah praktik yang umum. Hal ini sebagian besar terjadi atas dorongan para perwira yang relatif masih junior tetapi berbakat seperti Gerhard von Scharnhorst dan August von Gneisenau. Meskipun demikian, langkah-langkah tersebut tidak cukup untuk mengatasi ketidakefektifan Angkatan Darat, yang kala itu dipimpin oleh para veteran tua dari kampanye militer Friedrich yang Agung hampir setengah abad sebelumnya.
Pada tahun 1806, Angkatan Darat Prusia dihancurkan oleh Napoleon dan para marsekalnya dalam Pertempuran Jena-Auerstedt. Pasca-bencana tersebut, Angkatan Darat dan negara Prusia sebagian besar runtuh. "Jarang dalam sejarah ada sebuah angkatan darat yang dibuat tidak berdaya secara lebih cepat atau lebih telak."[3] Setelah Perdamaian Tilsit pada tahun 1807, Raja Friedrich Wilhelm III menunjuk Scharnhorst, Gneisenau, Menteri Presiden Baron vom und zum Stein, dan beberapa perwira muda yang menjanjikan ke dalam Komisi Reorganisasi Militernya.[4] Komisi ini bertindak sebagai staf umum untuk merencanakan serta melaksanakan rekonstruksi Angkatan Darat Prusia. Mereka meyakinkan raja bahwa untuk menandingi para komandan Prancis yang naik pangkat berdasarkan kemampuan, setiap komandan Angkatan Darat, Korps, dan Divisi Prusia harus didampingi oleh seorang perwira lulusan pendidikan staf sebagai ajudannya. Scharnhorst bermaksud agar mereka dapat "mendukung para jenderal yang tidak kompeten, dengan menyediakan kemampuan yang mungkin tidak dimiliki oleh para pemimpin dan komandan tersebut".[5] Kombinasi unik antara Marsekal Lapangan Blücher yang tidak dapat ditebak namun populer sebagai panglima tertinggi dengan Letnan Jenderal Gneisenau sebagai kepala stafnya menunjukkan keunggulan terbaik dari sistem ini: Blücher memuji Gneisenau atas perannya dalam memanuver Angkatan Darat Prusia selama gerak mundur yang sulit melewati Pegunungan Harz.[6]
Gneisenau diakui sebagai "Kepala Staf besar" pertama. Ia melembagakan hak penasihat komandan untuk mengambil bagian dalam komando dan kendali dengan memberikan saran kepada komandan hingga komandan tersebut mengambil keputusan. Gneisenau juga mendirikan taktik berbasis misi (Auftragstaktik). Dalam taktik ini, komandan menentukan tujuan operasi dan mengalokasikan pasukan yang digunakan, sedangkan bawahan di lapangan menentukan bagaimana tujuan tersebut akan dicapai.[7][2][6]
Pada tahun 1816, tokoh reformasi Karl von Grolman mengorganisasi Staf ke dalam Divisi Timur (Rusia), Selatan (Austria), dan Barat (Prancis serta negara-negara Jerman lainnya).[8][2] Enam belas perwira staf bertugas di Kementerian Perang Prusia dan enam perwira staf bekerja di kedutaan-kedutaan besar utama. Setiap korps angkatan darat memiliki satu kepala staf dan dua perwira staf lainnya. Pada tahun 1821, Staf Umum Kuartermaster berganti nama menjadi Staf Umum dan para perwiranya diidentifikasi melalui tanda seragam yang khas, termasuk garis merah tua pada celana.[9] Jabatan staf tidak bergantung pada garis keturunan. "Jenderal von Krauseneck yang menjabat sebagai Kepala Staf Umum dari tahun 1829 hingga 1848 merupakan putra seorang pemain organ Brandenburg dan pangkatnya naik dari jajaran prajurit biasa. Jenderal von Rheyer, Kepala Staf Umum Prusia dari tahun 1848 hingga 1857, adalah seorang gembala pada masa mudanya."[10]
Staf Umum secara berkelanjutan membuat rencana untuk skenario yang mungkin maupun tidak mungkin terjadi. Pada tahun 1843, saat Eropa sebagian besar telah damai selama hampir tiga puluh tahun dan sebagian besar negara besar tidak memiliki rencana perang, para pengamat mencatat adanya tumpukan surat perintah di Kementerian Perang Prusia. Surat-surat tersebut telah dipersiapkan untuk mencakup semua kemungkinan yang dapat diperkirakan serta hanya memerlukan tanda tangan dan cap tanggal untuk diberlakukan.[butuh rujukan]
Seleksi dan pendidikan perwira staf
Komisi Reorganisasi Militer membuka sekolah-sekolah militer di Königsberg dan Breslau. Pada 15 Oktober 1810, Scharnhorst membuka Sekolah Perang Umum (Allgemeine Kriegsschule) pada hari yang sama ketika Universitas Berlin yang baru dibuka di dekatnya.[11] Sekolah Perang Umum melatih para perwira pilihan selama tiga tahun. Salah satu direktur pertamanya adalah Carl von Clausewitz yang menjabat hingga tahun 1830. Karya monumentalnya yang berjudul Vom Kriege (Tentang Perang) diterbitkan secara anumerta. Berdasarkan studi dan pengalamannya selama Perang Napoleon, ia menulis sebuah silabus yang menjadi doktrin inti dari staf tersebut. Standardisasi doktrin ini—yang merupakan upaya untuk memahami filosofi perang yang mendasari peperangan, alih-alih menetapkan serangkaian aturan sempit seperti yang dirumuskan oleh Antoine-Henri Jomini—menjadi salah satu ciri khas dari Staf Umum Prusia.
Setiap perwira Staf Umum harus mampu mengambil alih tugas perwira lain kapan saja serta menerapkan serangkaian ide dasar yang sama beserta prinsip-prinsip pemikiran operasional dan taktis yang sama pula.[12]
Pada 1 Oktober 1859, Sekolah Perang Umum berganti nama menjadi Akademi Perang (Kriegsakademie) yang diawasi oleh Inspektur Jenderal Pendidikan Militer. Para siswa di Akademi Perang menghadiri sekitar 20 jam kuliah per minggu. Pengajaran diberikan oleh para profesor dari Universitas Berlin dan para perwira yang bertugas di Großer Generalstab sehingga perwira pengajar tersebut juga turut meningkatkan pendidikan mereka sendiri. Pada tahun 1872, Akademi Perang dialihkan dari Inspektur Pendidikan Militer dan ditempatkan di bawah Kepala Staf Umum. Jiwa dari akademi ini diutarakan oleh Kepala Staf Helmuth von Moltke yang menekankan pentingnya "proses aktif saling memberi dan menerima secara mental antara guru dan murid demi merangsang para murid untuk menjadi rekan kerja".[13]
Penerimaan ke akademi ini sangat selektif. Para perwira dengan masa dinas minimal lima tahun yang ingin menjadi perwira Staf Umum mempersiapkan diri untuk ujian masuk yang meliputi taktik, survei, geografi, matematika, dan bahasa Prancis. Pertanyaan-pertanyaan dalam ujian tersebut disusun untuk menguji pemahaman, alih-alih hafalan semata.[14] Para penilai esai tidak mengetahui nama atau resimen dari para kandidat. Dari ratusan pelamar, sekitar seratus orang diterima setiap tahunnya untuk mengikuti kursus tahun pertama di akademi. Mereka yang kinerjanya memuaskan akan naik ke tahun kedua dan kemudian tahun ketiga.
Pada tahun pertama, empat belas jam kuliah setiap minggu dialokasikan untuk mata pelajaran militer termasuk sejarah militer, sementara tujuh belas jam sisanya adalah mata pelajaran nonmiliter termasuk sejarah umum, matematika, sains, dan pilihan antara bahasa Prancis atau bahasa Rusia. Alokasi waktu yang kurang lebih sama juga diterapkan pada dua tahun terakhir.[15] Perkuliahan dilengkapi dengan kunjungan ke benteng-benteng, pabrik senjata, dan latihan resimen kereta api. Selama libur musim panas tiga bulan, para siswa mengikuti manuver militer dan dilibatkan dalam latihan taktis lapangan tempat mereka memimpin unit-unit imajiner. Pada akhir masa kursus, mereka menjalani ujian kedua. Hanya sekitar tiga puluh siswa yang lulus dari ujian yang sangat sulit ini. Mereka kemudian diperbantukan (kommandiert) ke Großer Generalstab dengan tetap mempertahankan ikatan resimen mereka. Setelah dua tahun, mereka menjalani ujian ketiga sekaligus terakhir. Setelah itu, lima hingga delapan perwira akan ditempatkan secara permanen untuk mengisi kekosongan di Staf Umum—sebuah penyaringan yang luar biasa mengingat banyaknya peserta yang mengikuti kompetisi tersebut sejak awal. Kadang-kadang, seorang perwira yang luar biasa ditunjuk tanpa melalui pelatihan ini. Sebagai contoh, Max Bauer yang dilatih sebagai prajurit artileri berhasil menjadi anggota terkemuka di Großer Generalstab dengan reputasi sebagai orang paling cerdas di dalam angkatan darat.[16]
Beberapa lulusan tidak terlalu antusias dengan tahun pertama pelatihan mereka. Sebagai contoh, Paul von Hindenburg berpendapat bahwa sejarah pertempuran kuno harus dikurangi demi memberikan lebih banyak waktu untuk pertempuran modern. Ia juga menilai bahwa trigonometri hanya berguna bagi mereka yang akan menjadi petugas survei. Dua tahun terakhir barulah memuaskan dirinya. Selama berada di akademi, ia diundang ke dalam lingkaran sosial Pangeran Alexander dari Prusia tempat ia mulai "berhubungan dengan para ilmuwan serta orang-orang yang berada dalam dinas negara dan istana".[17]
Setelah kekalahannya dalam perang melawan Prusia pada tahun 1866, Bavaria mendirikan Akademi Perangnya sendiri dan terus melatih perwira stafnya sendiri setelah pendirian Kekaisaran Jerman pada tahun 1870.
Jumlah personel staf
Staf Umum pada masa itu merupakan sebuah badan kecil yang elite, dengan jumlah anggota hanya berkisar lima puluh perwira dan jarang melebihi seratus perwira. Hanya satu atau hai dua perwira yang ditempatkan secara permanen di Staf Umum dalam satu waktu, yang dalam laporan resmi digambarkan sebagai des Generalstabs ("dari Staf Umum"). Sebagian besar perwira diperbantukan di Staf Umum dengan tetap berafiliasi pada resimen induk mereka—biasanya untuk beberapa tahun sekaligus—dan didaftarkan sebagai im Generalstab ("di Staf Umum"). Ketika Staf Umum harus terjun ke medan perang selama kampanye militer besar, lembaga ini tetap menjadi sebuah badan yang kecil namun efektif. Sebagai contoh, selama Perang Prancis-Prusia, staf yang mendampingi markas besar Raja (sebagai panglima tertinggi) dan bertanggung jawab mengarahkan pasukan dengan jumlah total 850.000 personel hanya terdiri atas kepala staf, seorang Kuartermaster jenderal, seorang intendan jenderal yang tugasnya tidak berkaitan langsung dengan operasi militer, tiga kepala departemen, sebelas perwira lainnya, sepuluh juru gambar, tujuh juru tulis, dan lima puluh sembilan pangkat lainnya (prajurit penghubung, kurir, dan lain-lain).[18]
Jumlah perwira yang tersedia untuk ditarik dalam menjalankan tugas-tugas Staf Umum juga tidak pernah besar. Pada tahun 1871, hanya ada 375 perwira yang sepenuhnya berkualifikasi untuk bertugas di Staf Umum, bahkan setelah dilakukan perluasan darurat selama Perang Prancis-Prusia. Pada tahun 1914, terdapat 625 perwira berkualifikasi Staf Umum untuk melayani angkatan darat yang ukurannya telah membengkak hampir dua kali lipat sejak tahun 1871.[19]
Moltke yang Tua

Pada tahun 1857, Helmuth von Moltke Tua, seorang perwira dengan pengalaman perjalanan luas dan merupakan orang kepercayaan Raja Wilhelm I, diangkat sebagai Kepala Staf Umum. Di bawah kendalinya, sistem staf yang telah ada diperluas dan dikonsolidasikan.
Setiap tahun, Moltke memilih dua belas lulusan terbaik dari Kriegsakademie untuk pelatihan pribadinya sebagai perwira Staf Umum. Mereka mengikuti studi teoritis, manuver tahunan, dan sistem latihan taktis tanpa melibatkan pasukan di lapangan di bawah bimbingan Moltke sendiri. Tak lupa juga permainan perang dan latihan peta yang dikenal sebagai Kriegsspiele. Meskipun para perwira ini selanjutnya bertugas secara bergantian antara tugas resimen dan staf, mereka dapat diandalkan untuk berpikir dan bertindak persis seperti yang diajarkan Moltke ketika mereka menjadi Kepala Staf dari formasi-formasi besar. Moltke sendiri menyebut mereka sebagai "sistem saraf" Angkatan Darat Prusia. Dalam kemenangan-kemenangan yang diraih Angkatan Darat Prusia melawan Kekaisaran Austria dan Prancis, Moltke hanya perlu mengeluarkan arahan singkat yang menyatakan maksudnya kepada formasi-formasi utama. Ia menyerahkan kepada para staf di markas bawahan untuk melaksanakan rinciannya sesuai dengan doktrin dan metode yang telah ia tetapkan. Sebaliknya, Komando Tertinggi lawannya justru terjebak dalam tumpukan dokumen serta hal-hal sepele saat mencoba mengendalikan seluruh pasukan dari satu markas besar yang terlalu terbebani tugas.
Pengalaman luas Moltke juga mendorong Staf Umum untuk mempertimbangkan bidang-bidang studi di luar militer murni dan dengan cepat mengadaptasinya demi kepentingan militer. Segera setelah penunjukannya, ia mendirikan Abteilung (bagian atau departemen) yang mempelajari serta mendorong pengembangan jaringan kereta api di Prusia lalu memasukkannya ke dalam rencana pengerahan pasukan. Ia juga membentuk departemen telegrafi serta departemen ilmiah dan teknis lainnya di dalam Staf Umum. Selain itu, ia mendirikan sebuah divisi Sejarah yang menganalisis konflik masa lalu maupun masa kini serta menerbitkan catatan mengenai konflik tersebut beserta pelajaran yang dapat diambil.
Staf Umum yang direformasi oleh Moltke menjadi yang paling efektif di Eropa. Lembaga ini merupakan institusi otonom yang didedikasikan semata-mata untuk pelaksanaan perang yang efisien, berbeda dengan negara-negara lain yang staf militer mereka sering kali dibatasi oleh campur tangan pejabat istana, parlemen, dan pejabat pemerintah. Sebaliknya, Staf Umum itu sendiri memiliki pengaruh yang kuat terhadap politik Prusia dan kemudian Jerman.
Perang dengan Denmark
Perang Schleswig Kedua (1864), yang asal-usul politiknya terletak pada konflik Denmark dengan Prusia dan Austria atas permasalahan Schleswig-Holstein, membenarkan konsep operasi Moltke dan menyebabkan perombakan pengaturan komando Angkatan Darat Prusia. Moltke membayangkan serangan cepat untuk mencegah Denmark mundur di balik rintangan air yang tidak dapat diatasi oleh Angkatan Laut Prusia. Sistem senioritas yang kaku menempatkan Friedrich Graf von Wrangel, yang secara luas dianggap sudah pikun, sebagai komandan. Dia mengabaikan semua arahan baik arahan Moltke maupun nasihat stafnya sendiri yang lalu membiarkan Angkatan Darat Denmark mundur sesuka hati, dia memperpanjang perang selama beberapa bulan. Analisis pasca-perang tersebut bertujuan untuk memastikan sistem yang lebih baik (meskipun tidak sempurna) untuk menunjuk komandan.
Perang Tujuh Minggu
Perang Austro-Prusia (1866) menjadi hampir tidak terhindarkan setelah berakhirnya konflik dengan Denmark. Banyak orang Prusia menganggap perang tersebut sebagai suatu keharusan yang menyedihkan. Ketika menjelaskan alasan keyakinannya kepada Menteri Perang Albrecht von Roon, Moltke menyatakan, "Kita memiliki keuntungan yang tak ternilai karena dapat mengangkut Angkatan Darat Lapangan kita yang berjumlah 285.000 personel melalui lima jalur kereta api dan secara virtual memusatkan mereka dalam dua puluh lima hari... Austria hanya memiliki satu jalur kereta api dan mereka akan membutuhkan waktu empat puluh lima hari untuk mengumpulkan 200.000 personel." Meskipun kesalahan dan kebingungan di medan perang tidak dapat dihindari, kalkulasi praperang Moltke terbukti benar sehingga angkatan darat Austria berhasil dipaksa bertempur dalam Königgrätz lalu dihancurkan.
Berbeda dengan staf Prusia, para perwira staf Austria mendapatkan jabatan mereka karena faktor keanggotaan dalam kaum bangsawan Austria serta keinginan untuk menghindari tugas resimen yang membosankan, atau setelah menjalani pelatihan yang tidak menggugah hingga mengubah mereka menjadi juru tulis yang lamban dan kaku pada aturan.[20] Dalam semua aspek persiapan, perencanaan, dan pelaksanaan, upaya mereka yang kacau terlihat sangat buruk jika dibandingkan dengan rekan-rekan Prusia mereka.
Analisis staf Prusia dan peningkatan angkatan darat
Dalam meninjau kekurangan Prusia saat melawan Austria, Staf Umum melakukan beberapa pembenahan untuk meningkatkan kemahiran strategis dan taktis angkatan darat Raja. Kavaleri tidak lagi ditahan sebagai cadangan, melainkan akan secara aktif melindungi pergerakan angkatan darat di semua tingkatan, melakukan kontak pertama dengan musuh, dan terus mengamati aktivitas musuh. Artileri beralur yang baru dikembangkan tidak lagi ditempatkan di bagian belakang urutan barisan untuk digunakan di belakang infanteri. Sebaliknya, sebuah detasemen besar akan berjalan bersama garda depan dari korps terdepan atau elemen utama lainnya, sementara sisanya akan berjalan bersama bagian depan pasukan utama guna memberikan perlindungan artileri segera bagi garda depan saat terjadi kontak dan bagi pasukan utama selama pengerahan selanjutnya di medan perang. Penekanan baru juga diberikan pada pemeliharaan kontak dengan komando bawahan dan atasan sehingga para komandan selalu mengetahui lokasi unit-unit di medan perang, yang pada gilirannya mengurangi efek "kabut perang". Akhirnya, pengenalan senapan infanteri pengisian sungsang menandai sebuah revolusi dalam efektivitas senjata sehingga Moltke membuat analisis berikut pada tahun 1865:
Menyerang suatu posisi menjadi jauh lebih sulit daripada mempertahankannya. Pertahanan selama fase pertama pertempuran menawarkan keunggulan yang menentukan. Tugas dari sebuah serangan yang mahir adalah memaksa musuh menyerang posisi yang kita pilih, dan hanya ketika korban jiwa, demoralisasi, dan kelelahan telah menguras kekuatannya, barulah kita sendiri mengambil alih serangan taktis.... Strategi kita harus ofensif, taktik kita defensif.[21]
Perang Prancis-Prusia
Pemerintah Napoleon III tidak diragukan lagi terkejut oleh kemenangan Prusia atas Austria dan segera berusaha mereformasi angkatan darat mereka untuk menghadapi konflik dengan Prusia yang tampaknya tidak terhindarkan serta sudah di depan mata. Para perwira senior mereka sama sekali gagal memahami metode Staf Umum Prusia. Kepala Staf Angkatan Darat Prancis, Maréchal de France Edmond Le Bœuf, dengan ceroboh menyatakan pada tahun 1870 bahwa Angkatan Darat Prancis telah siap menghadapi perang, "hingga ke kancing gaiter terakhir." Pada kenyataannya, pada awal Perang Prancis-Prusia, sebanyak 462.000 tentara Jerman memusatkan diri tanpa hambatan di perbatasan Prancis, sedangkan hanya 270.000 tentara Prancis yang dapat digerakkan untuk menghadapi mereka. Angkatan Darat Prancis telah kehilangan 100.000 prajurit yang tertinggal bahkan sebelum tembakan pertama dilepaskan akibat perencanaan dan administrasi yang buruk. (Sebagian besar dari mereka merupakan tentara cadangan yang belum sempat bergabung dengan unit mereka sebelum unit-unit tersebut dikirim secara tergesa-gesa untuk bergabung dengan pasukan yang sedang dihimpun di dekat perbatasan.)[22]
Selama perang, kesalahan-kesalahan yang tidak terhindarkan akibat "kabut perang" kembali terjadi, tetapi formasi-formasi Jerman bergerak dengan kecepatan dan presisi yang tidak dapat ditandingi oleh para perwira staf Prancis yang hanya terbiasa menggerakkan kolom punitif berukuran batalion. Di dalam angkatan darat Prancis saat itu, terdapat prasangka anti-intelektual yang lebih mengutamakan para perwira resimen yang berani namun kurang imajinatif dibandingkan para perwira staf yang cerdas dan terlatih dengan baik. Angkatan Darat Prancis harus membayar mahal akibat bias ini pada tahun 1870 dan 1871.[23][halaman dibutuhkan]
Hasil dari persiapan strategis oleh Moltke (serta manuver diplomatik oleh Kanselir Otto von Bismarck) adalah kemenangan mutlak Prusia. Setelah kemenangan tersebut, Jerman disatukan sebagai Kekaisaran Jerman yang didominasi oleh Prusia. Raja Wilhelm I dari Prusia diproklamasikan sebagai "Kaisar Jerman" pada 18 Januari 1871. Kemenangan Jerman mengejutkan banyak profesional militer di seluruh dunia. Prancis sebelumnya dianggap sebagai kekuatan militer besar, sedangkan Prusia secara luas dianggap sebagai kekuatan yang lebih lemah meskipun memiliki keberhasilan militer pada tahun 1813–1815 melawan Napoleon dan yang lebih baru atas Austria selama Perang Tujuh Minggu pada tahun 1866.[24] Banyak negara mengadopsi metode serta struktur staf Prusia, dengan tingkat keberhasilan yang beragam.[25]
Sepanjang masa jabatannya, Moltke mendesak angkatan darat Prusia untuk melakukan penilaian ulang dan peningkatan diri di setiap tingkat komando demi mempertahankan keunggulan taktis relatif terhadap negara lain. Moltke meresmikan konsep taktik berbasis misi yang menekankan pentingnya inisiatif di semua tingkat komando, bahkan yang paling rendah sekalipun. Setiap panduan taktis Prusia yang diterbitkan setelah Perang Prancis-Prusia memuat bagian ini:
Situasi yang menguntungkan tidak akan pernah bisa dimanfaatkan jika para komandan hanya menunggu perintah. Komandan tertinggi dan prajurit termuda harus selalu menyadari fakta bahwa kelalaian dan ketiadaan tindakan jauh lebih buruk daripada mengambil tindakan yang salah.[26]
Perang Dunia I

Pada Agustus 1914, mengikuti rencana mobilisasi praperang, sebagian besar Staf Umum termasuk para Oberquartiermeister ditugaskan kembali ke markas besar Angkatan Darat dan Korps. Inti yang tersisa menjadi "Staf Umum Angkatan Darat Lapangan" yang merupakan bagian dari Oberste Heeresleitung (OHL, Komando Tertinggi Angkatan Darat). Staf Umum ini dirampingkan menjadi tiga departemen saja, yaitu Operasi, Intelijen, dan Urusan Politik.
Kebutuhan akan sistem ini segera terbukti ketika Panglima Tertinggi Kaiser Wilhelm II mengusulkan untuk memusatkan kekuatan melawan Rusia, bukan Prancis. Kepala Staf Umum Helmuth von Moltke Muda dan Kuartermaster Jenderal Hermann von Stein meyakinkan kaiser bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan karena ribuan perintah tidak dapat ditulis ulang dengan cepat serta karena Prancis dengan mobilisasi mereka yang lebih cepat dan jaringan kereta api yang sangat baik akan menyerang perbatasan Jerman dengan kekuatan penuh jauh sebelum Rusia bergerak. Salah satu dari delapan Angkatan Darat Jerman dipimpin oleh Putra Mahkota Wilhelm dari Prusia yang dipasangkan dengan Konstantin Schmidt von Knobelsdorf, seorang perwira staf umum senior—Kaiser menginstruksikan putranya yang berusia tiga puluh dua tahun itu: "apa pun yang ia sarankan harus kamu lakukan."[27] Sistem ini juga menghilangkan ketidakpastian mengenai kompetensi Komandan Angkatan Darat seperti Rupprecht, Putra Mahkota Bayern dan Albrecht, Adipati Württemberg meskipun keduanya merupakan prajurit yang terlatih dengan baik. Angkatan darat lainnya dipimpin oleh para perwira staf yang sangat berpengalaman. Sebagai contoh, Paul von Hindenburg diberi komando atas Angkatan Darat Kedelapan, satu-satunya pasukan yang menghadapi invasi Rusia ke Prusia Timur, dengan Erich Ludendorff sebagai kepala stafnya.
Interaksi antara seorang komandan dan kepala stafnya dijelaskan oleh seorang praktisi sukses yang pernah menjalani kedua peran tersebut, Hans von Seeckt:
Keputusan diambil secara tertutup dan ketika kedua pria itu keluar, hanya ada satu keputusan. Mereka telah menyatukannya; mereka saling berbagi pemikiran yang sama. Jika pendapat mereka sempat berbeda, pada malam hari yang bahagia dalam pernikahan militer ini, kedua belah pihak tidak akan lagi mengetahui siapa yang mengalah. Dunia luar dan sejarah militer tidak akan mengetahui adanya perselisihan domestik tersebut. Kompetensi komando dan kendali didasarkan pada perpaduan kedua kepribadian ini. Tidak masalah apakah perintah tersebut memuat tanda tangan komandan atau apakah Kepala Staf telah menandatanganinya untuk Komando Tinggi (saat ini 'Untuk komandan') sesuai dengan kebiasaan lama kita. Komandan selalu mengeluarkan perintahnya melalui Kepala Stafnya dan bahkan pemimpin bawahan yang paling senior sekalipun harus tunduk pada perintah tersebut tanpa keberatan karena perintahnya akan selalu diberikan atas nama panglima tertinggi.[28]
Rencana Schlieffen berantakan ketika Moltke yang terguncang memerintahkan sayap kanan Jerman di Prancis untuk mundur selama Pertempuran Marne Pertama.[29] Moltke segera digantikan oleh Erich von Falkenhayn yang kala itu telah menjabat sebagai menteri perang Prusia. Setelah gagal mengusir Blok Entente di Flandria, ia menempatkan Front Barat dalam posisi defensif. Ia digantikan di kementerian perang pada awal tahun 1915 dan pada tahun 1916, Hindenburg serta Ludendorff mengambil alih peran sebagai penasihat bagi panglima tertinggi. Mereka memimpin OHL untuk secara agresif mengintervensi kehidupan politik dan ekonomi Jerman, mengubah tujuan awal yang sekadar mempertahankan perbatasan Jerman menjadi penaklukan serta ekspansi. Konsekuensi dari perang atrisi adalah penempatan siswa Kriegsakademie yang terlalu dini ke dalam staf umum angkatan darat dan korps, beberapa di antaranya bahkan sebelum mencapai kurikulum tahun kedua mereka. Belakangan, standar penugasan Staf Umum diubah akibat penutupan Kriegsakademie untuk memungkinkan para perwira yang telah diuji bertugas sebagai magang staf. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa para perwira Korps Staf Umum yang baru ini tidak dievaluasi atau dilatih pada tingkat yang sama dengan perwira yang mereka gantikan.[30]
Kerja staf Jerman yang unggul di tingkat divisi, korps, dan angkatan darat sepanjang Perang Dunia I menjadi kontributor utama bagi rangkaian keberhasilan mereka. Pada awal tahun 1918—setelah mengalahkan Rusia—Hindenburg dan Ludendorff bertekad untuk menang di barat. Secara taktis, kerja staf mereka sangat cemerlang. Hanya dengan menggunakan senjata yang sempat gagal di Verdun, mereka menyusun daftar panjang langkah komprehensif untuk menembus benteng lapangan musuh yang kemudian diajarkan kepada semua pangkat di unit-unit penyerang. Angkatan Darat Jerman meraih kesuksesan taktis selama Serangan Musim Semi, tetapi Sekutu berhasil mempertahankan titik-titik strategis. Mereka yakin bahwa serangkaian terobosan yang sukses akan mematahkan tekad musuh. Mereka mengabaikan fakta bahwa setiap kemenangan justru menguras kekuatan Jerman sementara musuh mereka terus-menerus diperkuat oleh Pasukan Ekspedisi Amerika yang membanjiri Prancis. Pasukan Jerman kewalahan selama Serangan Seratus Hari dan akhirnya menyepakati Gencatan Senjata 11 November 1918 dengan Sekutu.[31]
Perang Dunia II
Menjelang akhir Perang tahun 1914 sampai 1918, Staf Umum hampir sepenuhnya merebut kekuasaan politik negara. Sebaliknya, pada awal Perang Dunia II, pengaruhnya lebih kecil dibandingkan dengan pada awal Perang Dunia Pertama dan justru terus menurun selama perang berlangsung.
Sebagian hal ini disebabkan oleh semakin menonjolnya cabang-cabang lain dari angkatan bersenjata Jerman, khususnya Luftwaffe. Panglima tertinggi Luftwaffe yang merupakan teman dan rekan politik Hitler, Hermann Göring, selalu memiliki pengaruh pribadi terhadap Hitler yang tidak dimiliki oleh pemimpin Angkatan Darat mana pun. Faktor lainnya adalah ketegangan yang meningkat antara OKH dan OKW. Meskipun kebutuhan akan markas besar gabungan untuk mengoordinasikan kerja semua angkatan merupakan hal yang ideal dalam teori—misalnya untuk menentukan prioritas industri serta tenaga kerja dan menghindari tumpang tindih upaya—OKW justru semakin sering digunakan oleh Hitler sebagai staf perencanaan Angkatan Darat alternatif. Pada saat yang sama, OKW gagal dalam tugasnya untuk mengawasi keseluruhan upaya perang sehingga mengakibatkan pengalihan sumber daya yang sia-sia ke beberapa kekuatan yang saling bersaing serta tidak diatur (seperti SS) yang hanya bertanggung jawab kepada diri mereka sendiri atau kepada Hitler seorang.[32]
Setelah tahun 1941, OKH sebagian besar hanya bertanggung jawab atas operasi di Front Timur (serta administrasi angkatan darat secara keseluruhan), sedangkan OKW mengarahkan operasi di front-front lainnya. Kini secara efektif terdapat dua staf umum yang sering kali saling bersaing dengan arbitrase seluruh perselisihan berada di tangan Hitler, yang pada gilirannya semakin meningkatkan kekuasaan pribadinya. Akhirnya, pada akhir tahun 1941, Hitler memberhentikan Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch yang menjabat sebagai panglima tertinggi Angkatan Darat dan ia mengambil alih komando langsung atas Angkatan Darat tersebut. Sejak saat itu dan seterusnya, baik OKW maupun OKH tidak dapat merencanakan atau menjalankan operasi secara mandiri, melainkan hanya melaksanakan perintah Hitler yang sering kali cacat.[33]
Di tingkat yang lebih rendah, pelatihan perwira Staf Umum tetap berlanjut, tetapi kursusnya masih hampir sama panjang, intens, dan eksklusif seperti pada masa damai.[34] Perwira staf yang terlatih dengan baik menjadi semakin langka dan dalam beberapa kasus, perwira staf yang baru lulus tidak memiliki dedikasi atau keberanian moral seperti para pendahulu mereka.[35]
Plot 20 Juli
Sebelum dan selama fase awal perang, beberapa perwira Staf Umum—khususnya sang Kepala, Franz Halder—mempertimbangkan sebuah kudeta untuk menggulingkan Hitler dari kekuasaan dan menghindari perang prematur yang mereka yakini akan membawa bencana. Mereka merencanakan kudeta sebagai tanggapan atas perintah Hitler untuk mengobarkan perang terhadap Cekoslowakia guna merebut Sudetenland ketika Britania dan Prancis menentang langkah tersebut. Namun, Prancis dan Britania menyerah di München yang menghilangkan bahaya perang sekaligus membenarkan kebijakan Hitler; para pembangkang pun akhirnya membiarkan masalah itu berlalu.[36] Pada November 1939, Halder yang masih khawatir bahwa perang akan berakhir dengan bencana mendiskusikan rencana kudeta dengan Panglima Angkatan Darat von Brauchitsch dan Carl Goerdeler dari Schwarze Kapelle. Namun, ia akhirnya memutuskan bahwa Hitler tidak dapat disentuh hingga Jerman mengalami "kemunduran".[37]
Meskipun demikian, penentangan terhadap Hitler tetap berlanjut, termasuk di antara para perwira Staf Umum dari Ersatzheer ("Angkatan Darat Pengganti") yang bertanggung jawab atas seluruh pasukan baru yang sedang diorganisasi di Jerman untuk angkatan darat lapangan. Mereka menyusun Operasi Walküre, sebuah rencana bagi detasemen-detasemen Ersatzheer untuk mengambil alih kendali atas Jerman. Pada 20 Juli 1944, para konspirator mencoba membunuh Hitler, mengira mereka telah berhasil, dan meluncurkan Valkyrie. Namun, sebagian besar perwira lini dan sebagian besar Staf Umum menolak untuk mematuhi para konspirator Valkyrie. Ketika Hitler diketahui masih hidup, kudeta tersebut runtuh sepenuhnya.
Bagaimanapun, banyak perwira Staf Umum yang jelas-jelas terlibat dalam plot tersebut dan lembaga Staf Umum pun terungkap sebagai pusat pembangkangan. Pada bulan-bulan setelah 20 Juli, puluhan perwira Staf Umum ditangkap dan sebagian besar di antaranya dieksekusi. Selain itu, para perwira Luftwaffe, SS, atau "Perwira Kepemimpinan Sosialis Nasional" ditunjuk untuk menduduki posisi-posisi yang biasanya ditempati oleh para perwira Staf Umum dalam formasi baru atau formasi yang dibangun kembali.[38]
Kepemimpinan
† menunjukkan orang yang meninggal saat menjabat.
Kepala Staf Umum Prusia
| № | Potret | Chefs des Großen Generalstabs | Mulai jabatan | Akhir jabatan | Lama menjabat |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | von Scharnhorst, GerhardGerhard von Scharnhorst (1755–1813) | 1 Maret 1808 | 17 Juni 1810 | 2 tahun, 108 hari | |
| 2 | von Hake, KarlKarl von Hake (1768–1835) | 17 Juni 1810 | Maret 1812 | 2 tahun | |
| 3 | von Rauch, GustavGustav von Rauch (1774–1841) | Maret 1812 | Maret 1813 | 1 tahun | |
| (1) | von Scharnhorst, GerhardGerhard von Scharnhorst (1755–1813) | Maret 1813 | 28 Juni 1813 † | 3 bulan | |
| 4 | von Gneisenau, August NeidhardtAugust Neidhardt von Gneisenau (1760–1831) | 28 Juni 1813 | 3 Juni 1814 | 340 hari | |
| 5 | von Grolman, KarlKarl von Grolman (1777–1843) | 3 Juni 1814 | November 1819 | 5 tahun | |
| 6 | von Lilienstern, Johann RüheJohann Rühle von Lilienstern (1780–1847) | November 1819 | 11 Januari 1821 | 1 tahun | |
| 7 | von Müffling, Karl FreiherrKarl Freiherr von Müffling (1775–1851) | 11 Januari 1821 | 29 Januari 1829 | 8 tahun, 18 hari | |
| 8 | von Krauseneck, WilhelmWilhelm von Krauseneck (1774–1850) | 29 Januari 1829 | 13 Mei 1848 | 19 tahun, 105 hari | |
| 9 | von Reyher, KarlKarl von Reyher (1786–1857) | 13 Mei 1848 | 7 Oktober 1857 † | 9 tahun, 147 hari | |
| 10 | von Moltke, Helmuth yang TuaHelmuth von Moltke yang Tua (1800–1891) | 7 Oktober 1857 | 18 Januari 1871 | 13 tahun, 103 hari |
Kepala Staf Umum Jerman
| № | Potret | Chefs des Großen Generalstabs | Mulai jabatan | Akhir jabatan | Lama menjabat |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | von Moltke, Helmuth yang TuaGeneralfeldmarschall Helmuth von Moltke yang Tua (1800–1891) | 18 Januari 1871 | 10 Agustus 1888 | 17 tahun, 205 hari | |
| 2 | von Waldersee, AlfredGeneral der Kavallerie Alfred von Waldersee (1832–1904) | 10 Agustus 1888 | 7 Februari 1891 | 2 tahun, 181 hari | |
| 3 | von Schlieffen, AlfredGeneral der Kavallerie Alfred von Schlieffen (1833–1913) | 7 Februari 1891 | 1 Januari 1906 | 14 tahun, 328 hari | |
| 4 | von Moltke, Helmuth yang MudaGeneraloberst Helmuth von Moltke yang Muda (1848–1916) [a] | 1 Januari 1906 | 14 September 1914 | 8 tahun, 256 hari | |
| 5 | von Falkenhayn, ErichGeneral der Infanterie Erich von Falkenhayn (1861–1922) | 14 September 1914 | 29 Agustus 1916 | 1 tahun, 350 hari | |
| 6 | von Hindenburg, PaulGeneralfeldmarschall Paul von Hindenburg (1847–1934) | 29 Agustus 1916 | 3 Juli 1919 | 2 tahun, 308 hari | |
| 7 | Groener, WilhelmGeneralleutnant Wilhelm Groener (1867–1939) | 3 Juli 1919 | 7 Juli 1919 | 4 hari | |
| 8 | von Seeckt, HansGeneraloberst Hans von Seeckt (1866–1936) | 7 Juli 1919 | 15 Juli 1919 | 8 hari |
Kuartermaster Jenderal Pertama
| № | Potret | Erster Generalquartiermeister | Mulai jabatan | Akhir jabatan | Lama menjabat |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Ludendorff, ErichGeneral der Infanterie Erich Ludendorff (1865–1937) | 29 Agustus 1916 | 26 Oktober 1918 | 2 tahun, 58 hari | |
| 2 | Groener, WilhelmGeneralleutnant Wilhelm Groener (1867–1939) | 30 Oktober 1918 | 15 Juli 1919 | 258 hari |
Kepala Biro Pasukan
| № | Potret | Chefs des Truppenamtes | Mulai jabatan | Akhir jabatan | Lama menjabat |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | von Seeckt, HansGeneralmajor Hans von Seeckt (1866–1936) | 11 Okttober 1919 | 26 Maret 1920 | 7002167000000000000♠167 hari | |
| 2 | Heye, WilhelmGeneralmajor Wilhelm Heye (1869–1947) | 26 Maret 1920 | Februari 1923 | 2 tahun, 10 bulan | |
| 3 | Hasse, OttoGeneralmajor Otto Hasse (1871–1942) | Februari 1923 | Oktober 1925 | 2 tahun, 8 bulan | |
| 4 | Wetzell, GeorgGeneralmajor Georg Wetzell (1869–1947) | Oktober 1925 | 27 Januari 1927 | 1 tahun, 3 bulan | |
| 5 | von Blomberg, WernerGeneralmajor Werner von Blomberg (1878–1946) | 27 Januari 1927 | 30 September 1929 | 7002977000000000000♠2 tahun, 246 hari | |
| 6 | von Hammerstein-Equord, KurtGeneralmajor Kurt von Hammerstein-Equord (1878–1943) | 30 September 1929 | 31 Oktober 1930 | 7002396000000000000♠1 tahun, 31 hari | |
| 7 | Adam, WilhelmGeneralmajor Wilhelm Adam (1877–1949) | 31 Oktober 1930 | 30 September 1933 | 7003106500000000000♠2 tahun, 334 hari | |
| 8 | Beck, LudwigGeneralmajor Ludwig Beck (1880–1944) | 1 Oktober 1933 | 1 Juli 1935 | 7002638000000000000♠1 tahun, 273 hari |
Kepala Staf Angkatan Darat (Oberkommando des Heeres atau OKH)
| № | Potret | Chefs des Oberkommandos des Heeres | Mulai jabatan | Akhir jabatan | Lama menjabat |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Beck, LudwigGeneraloberst Ludwig Beck (1880–1944) | 1 Juli 1935 | 31 Agustus 1938 | 7003115700000000000♠3 tahun, 61 hari | |
| 2 | Halder, FranzGeneraloberst Franz Halder (1884–1972) | 1 September 1938 | 24 September 1942 | 7003148400000000000♠4 tahun, 23 hari | |
| 3 | Zeitzler, KurtGeneraloberst Kurt Zeitzler (1895–1963) | 24 September 1942 | 10 Juni 1944 | 7002625000000000000♠1 tahun, 260 hari | |
| – | Heusinger, AdolfGeneralleutnant Adolf Heusinger (1897–1982) Penjabat [b] | 10 Juni 1944 | 21 Juli 1944 | 7001410000000000000♠41 hari | |
| – | Guderian, HeinzGeneraloberst Heinz Guderian (1888–1954) Penjabat | 21 Juli 1944 | 28 Maret 1945 | 7002250000000000000♠250 hari | |
| 4 | Krebs, HansGeneral der Infanterie Hans Krebs (1898–1945) [c] | 1 April 1945 | 2 Mei 1945 † | 7001310000000000000♠31 hari |
Kepala Staf Angkatan Bersenjata (OKW)
| № | Portret | Chef des Oberkommandos der Wehrmacht | Mulai jabatan | Akhir jabatan | Lama menjabat |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Keitel, WilhelmGeneralfeldmarschall Wilhelm Keitel (1882–1946) [d] | 4 February 1938 | 8 May 1945 | 7003265000000000000♠7 tahun, 93 hari | |
| 2 | Jodl, AlfredGeneraloberst Alfred Jodl (1890–1946) [d] | 13 May 1945 | 23 May 1945 | 7001100000000000000♠10 hari |
Catatan
- ↑ Keponakan dari Moltke yang Tua.
- ↑ Kemudian menjabat sebagai Inspektur Jenderal Bundeswehr (1957–1961) dan Ketua Komite Militer NATO (1961–1964).
- ↑ Bunuh diri di Führerbunker saat Pertempuran Berlin, bersama Jenderal Wilhelm Burgdorf.
- 1 2 Dieksekusi setelah Sidang Nuremberg.
Referensi
- ↑ Christian O.E. Millntot (March 20, 1992). "Understanding the Prussian-German General Staff System" (PDF). U.S. Army War College. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal April 22, 2019. Diakses tanggal April 22, 2019.
- 1 2 3 Dale O. Smith (1963). "Observations on the German General Staff". Military Affairs. 27 (1). Academia: 28, 29–34. doi:10.2307/1983946. JSTOR 1983946. Diakses tanggal April 22, 2019.
- ↑ Chandler 1996, p. 502.
- ↑ Dupuy 1977, p. 20.
- ↑ Boot 2006, p. 122.
- 1 2 Herbert Giersch (2019). History Of The German General Staff 1657–1945. Taylor & Francis. hlm. 88–. ISBN 978-0-429-71792-5.
- ↑ Delbrück 1894
- ↑ Dupuy (1977), p. 38.
- ↑ Millotat 1992, hlm. 31–32.
- ↑ Millotat 1992, hlm. 32.
- ↑ Dupuy pp. 24–25, 28.
- ↑ Millotat 1992, hlm. 37.
- ↑ Wilkinson 1895, p. 160.
- ↑ Wilkinson 1895, pp. 151–152.
- ↑ Wilkinson (1895), p. 162.
- ↑ Vogt 1974, p. 3.
- ↑ Hindenburg 1921, p. 66.
- ↑ Howard 1961, pp. 60–61
- ↑ Stone 2011, p. 29.
- ↑ McElwee, pp. 54, 299–300
- ↑ Dupuy, pp. 88–92
- ↑ McElwee, p. 46
- ↑ The War Book of the German General Staff: Being 'The Usages of War on Land' Issued by the Great General Staff of German Army. Diterjemahkan oleh J. H. Morgan. McBride, Nast & Company. 1915. hlm. 2–. GGKEY:E9XBKUES5B3.
- ↑ Dupuy, pp. 77–88
- ↑ Dupuy, pp. 113–114
- ↑ Dupuy, p. 116
- ↑ Jonas 1961, p. 92
- ↑ Seeckt 1929, p. 163.
- ↑ Herwig 2009
- ↑ Dupuy 1977, pp. 186–187.
- ↑ Captain Larry D. Bruns (2014). German General Staff In World War I. Verdun Press. hlm. 9–. ISBN 978-1-78289-498-8.
- ↑ Stone, pp. 350–351
- ↑ Stone, pp. 228–229
- ↑ Stone, pp. 314–315
- ↑ Stone, p. 316
- ↑ Stone, pp. 108–112
- ↑ Wheeler-Bennett, John (1967). The Nemesis of Power: The German Army In Politics, 1918–1945. London: Macmillan. hlm. 470–472. OCLC 72387321.
- ↑ Stone, pp. 301–310
Sumber
- Addington, Larry H. (1971). The Blitzkrieg Era and the German General Staff, 1865–1941. New Brunswick, N.J.: Rutgers University Press. ISBN 0-8135-0704-9.
- Boot, Max (2006). War Made New : Technology, Warfare, and the Course of History, 1500 to Today. New York: Gotham. ISBN 978-1-59240-222-9.
- Bucholz, Arden. Hans Delbrück and the German Military Establishment: War Images in Conflict. Iowa City: University of Iowa Press, 1985.
- Bucholz, Arden. Moltke, Schlieffen and Prussian War Planning. New York: Berg, 1991
- Buk-Swienty, Tom (2015). 1864 : the forgotten war that shaped modern Europe. London: Profile Books. ISBN 9781781252765.
- Delbrück, Hans (1894). Das Leben des Feldmarschalls Grafen Neidhardt von Gneisenau (Edisi 2). Berlin: H. Walther.
- Dupuy, Trevor N. (1977). A Genius for War: The German Army and General Staff, 1897–1945. London: Prentice Hall. largely derivative in nature (Goerlitz and others) but easy reading
- Dyer, Gwynne (1985). War. Toronto: Stoddart. ISBN 0-517-55615-4. (New York: Crown ISBN shown)
- John King Fairbank; Kwang-Ching Liu; Denis Crispin Twitchett, ed. (1978). Late Ch'ing, 1800-1911. Vol. 11, Part 2 of The Cambridge History of China Series (Edisi illustrated). Cambridge University Press. ISBN 9780521220293.
- Foley, Robert (2004). Alfred von Schlieffen's Military Writings. London: Frank Cass. ISBN 0-7146-4999-6.
- Goerlitz, Walter (1985). History of the German General Staff, 1657–1945. Boulder, Colorado: Westview Press. ISBN 0-8133-0195-5.
- Herwig, Holger (2009). The Marne, 1914 : the opening of World War I and the battle that changed the world. New York: Random House.
- Hindenburg, Marshal von (1921). Out of my life. Diterjemahkan oleh F. A. Holt. New York: Harper & Brothers.
- Howard, Michael (1961). The Franco-Prussian War. London: Routledge. ISBN 0-415-02787-X.
- Hughes, Daniel J., ed. Moltke on the Art of War: Selected Writings. Novato, CA: Presidio, 1993.
- Jonas, Klaus W. (1961). The Life of Crown Prince William. Diterjemahkan oleh C. W. Bangert. London: Routledge & Kegan Paul.
- Landa, Manuel de (1991). War in the Age of Intelligent Machines. New York: Zone Books. ISBN 0-942299-76-0.
- Liddell Hart, Basil (1930). History of the First World War. London: Pan. ISBN 0-330-23354-8.
- McElwee, William (1974). The Art of War: Waterloo to Mons. London: Purnell. ISBN 0-253-31075-X.
- Millotat, Oberst i.G. Christian O.E. (1992). Understanding the Prussian-German General Staff System (PDF). Carlisle Barracks, PA: Strategic Studies Institute. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal October 14, 2016.
Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik. - Mombauer, Annika. Helmuth von Moltke and the Origins of the First World War. Cambridge, GB: Cambridge University Press, 2001.
- Overy, Richard (1996). Why the Allies Won: Explaining Victory in World War II. Pimlico. ISBN 978-0-7126-7453-9.
- Seeckt, General-Colonel Hans von (1929). Gedanken eines Soldaten. Berlin: Mittler.
- Stone, David (2011). Twilight of the Gods: The Decline and Fall of the German General Staff in World War II. Conway. ISBN 978-1844861361.
- Stoneman, Mark R. Wilhelm Groener, Officering and the Schlieffen Plan. PhD, Georgetown University, 2006. abstract
- Van Creveld, Martin (1977). Supplying War. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-521-21730-X.
- Vogt, Adolf (1974). Oberst Max Bauer : Generalstabsoffizier in Zwielicht 1869–1929. Osnabrück: Biblio Verlag.
- Wawro, Geoffrey (1997). The Austro-Prussian War: Austria's War with Prussia and Italy in 1866. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 9780521629515.
- Wheeler-Bennett, John (1967). The Nemesis of Power: The German Army In Politics, 1918–1945. London: Macmillan. OCLC 72387321.
- Wilkinson, Spenser (1895). The Brain of an Army : A Popular Account of the German General Staff (Edisi 2nd). Westminster: Archibald Constable.
- Zabecki, David (2008). Chief of Staff: Napoleonic Wars to World War I. New York: Naval Institute Press. ISBN 978-1591149903.
- Zuber, Terence (2011). The Real German War Plan 1904–14. Stroud, Gloucestershire: History Press. ISBN 978-0-7524-5664-5.
Pranala luar
- Franz Edelsheim, Operations Upon the Sea at gutenberg.org
- "Not the Stuff of Legend: The German High Command in World War II" (video) – lecture by Dr. Geoffrey Megargee, author of Inside Hitler's High Command, available at the official YouTube channel U.S. Army Heritage and Education Center
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |
