Karena hikmat lebih berharga daripada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya.[4]
Ayat 13
Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.[5]
Takut akan Allah harus membuat orang menjauhi kejahatan (Amsal 16:6) dan membenci dosa yang tidak diperkenan oleh-Nya dan yang menghancurkan orang tersebut dan anggota keluarganya.[6]
Ayat 22
TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. [7]
Ayat 30-31
Aku (hikmat) ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya; aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.[8]
Ayat 35
Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan TUHAN berkenan akan dia.[9]
Referensi
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857
↑(Indonesia) WS Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 2, sastra dan nubuatan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1994.