Hai anakku, jikalau engkau menjadi penanggung sesamamu, dan membuat persetujuan dengan orang lain;[4]
Ayat ini memperingatkan terhadap menjadi penanggung seorang sahabat (bandingkan Amsal 11:15; 17:18; 22:26) yang artinya menanggung utang seseorang jikalau dia gagal membayarnya. Hal ini menjadikan keadaan keuangan si penanggung tergantung pada tindakan sahabat itu dan mungkin ia akan mengalami hal-hal yang tidak terkendalikan. Keadaan ini bisa mendatangkan kemiskinan (bandingkan Amsal 22:26–27) dan kehilangan ikatan persahabatan yang sudah lama. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa kita harus menolak untuk membantu sesama yang sungguh-sungguh membutuhkan keperluan hidup yang pokok (Keluaran 22:14; Imamat 25:35; Matius 5:42); tetapi kita harus memberi kepada orang miskin, bukan meminjamkan (bandingkan Matius 14:21; Markus 10:21; lihat Amsal 19:17).[5]
Ayat 6
Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak[6]
Seorang pemalas ialah seorang yang
(1) terus menunda untuk memulai apa yang harus dilakukan (Amsal 6:9–10; bandingkan Amsal 22:13),
(2) tidak menyelesaikan apa yang telah dimulainya (Amsal 12:27), dan
(3) mengikuti jalan yang paling kurang mendatangkan kesulitan (Amsal 20:4). Kemalasan dalam hal rohani bahkan adalah lebih menggoda daripada kemalasan dalam hal jasmaniah. Allah menasihati kita untuk berusaha sungguh-sungguh meneguhkan panggilan dan pilihan kita (2 Petrus 1:10; bandingkan 2 Korintus 8:7; 2 Petrus 1:5).[5]
Ayat 20
Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu.[7]
Kitab Amsal sangat menghargai keluarga.
1) Sebuah keluarga terdiri atas seorang ayah, seorang ibu dengan seorang anak atau beberapa orang anak.
2) Ayah dan ibu harus bersama-sama terlibat dalam pembinaan rohani anak-anak mereka (Amsal 1:8–9; 4:1–5).
3) Anak-anak yang bijaksana akan menaati dan menghormati orang-tua mereka (Amsal 1:8; 2:1; 3:1; 10:1).
4) Kesetiaan dalam pernikahan dan kasih timbal-balik sangat dimuliakan (Amsal 5:15–20).[5]
Referensi
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857
↑(Indonesia) WS Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 2, sastra dan nubuatan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1994.