tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.[4]
Perempuan yang bijak dan saleh menjadikan rumahnya tempat berteduh, penuh damai dan sukacita, sedangkan perempuan yang bebal mengabaikan rumah dan keluarganya (lihat 1 Timotius 2:15; Titus 2:4–5).[5]
Ayat 2
Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN,
tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia.[6]
Menghina Allah berarti berdosa terhadap Dia dan memandang-Nya rendah.[5]
Ayat 32
Orang fasik dirobohkan karena kejahatannya,
tetapi orang benar mendapat perlindungan karena ketulusannya.[7]
Terjemahan dari versi Inggris NIV: "dalam kematian orang benar mendapat perlindungan". Sekalipun Perjanjian Lama tidak mempunyai doktrin yang dikembangkan penuh tentang apa yang terjadi sesudah kematian, Amsal menyatakan bahwa orang benar memiliki harapan tetap hidup setelah kematian. Apabila orang fasik meninggal, mereka tidak mempunyai harapan, hanya kengerian akan kebinasaan terakhir. Manakala orang benar meninggal, mereka menyerahkan diri kepada Allah sebagai perlindungan dan harapan mereka setelah kematian (bandingkan Amsal 12:28; Mazmur 49:15–16; 73:24). Penyataan selanjutnya mengenai tujuan kekal orang benar dan orang fasik diberikan dalam ajaran YesusKristus dan para rasul.[5]
Referensi
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857
↑(Indonesia) WS Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 2, sastra dan nubuatan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1994.