"Burung pipit" diterjemahkan dari bahasa Ibrani צפור (tsipor; bahasa Inggris:sparrowcode: en is deprecated ) yang dapat diartikan "burung" secara umum, tetapi pada ayat ini, dan juga pada Mazmur 84:4, disebut bersama-sama dengan burung layang-layang, sehingga secara khusus mengacu kepada burung pipit.
Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.[5]
Petrus menerapkan amsal ini kepada orang yang dahulu ikut YesusKristus, mengetahui jalan kebenaran, dan kemudian berbalik dari Allah dan perintah-perintah-Nya yang kudus untuk hidup di dalam dosa lagi (2 Petrus 2:20–22).[6]
Ayat 12
Jika engkau melihat orang yang menganggap dirinya bijak,
harapan bagi orang bebal lebih banyak daripada bagi orang itu.[7]
Keangkuhan dan merasa diri penting menyebabkan orang menggangap dirinya bijak menurut pendapat sendiri sehingga dengan angkuh memercayai pikirannya sendiri. Namun, hikmat dan kebenaran bukan dibentuk oleh nalar manusia, tetapi oleh menerima apa yang dikatakan dan dinyatakan Allah dalam seluruh Alkitab. Dengan jujur mengakui kemungkinan untuk menipu di dalam hati kita, tidak berarti kita boleh dengan sendirinya beranggapan bahwa standar-standar benar dan salah kita adalah standar Allah (lihat Yeremia 17:9); sebaliknya, Allah memanggil kita dengan rendah hati untuk menaklukkan semua pikiran kita kepada kekuasaan penyataan-Nya dan pelayanan Roh Kudus (Yohanes 16:8–14), memohon Dia untuk menginsafkan dan membetulkan dalam hal-hal di mana kita salah (bandingkan Wahyu 3:17).[6]
Ayat 27
Siapa menggali lobang akan jatuh ke dalamnya,
dan siapa menggelindingkan batu, batu itu akan kembali menimpa dia.[8]