Gulungan Besar Kitab Yesaya (the Great Isaiah Scroll), yang berisikan Kitab Yesaya lengkap, ditemukan dalam gua Qumran dekat Laut Mati dan menurut analisis radioaktif berasal dari abad ke-2 SM, memuat lengkap pasal ini.[4]
Orang benar binasa, dan tidak ada seorangpun yang memperhatikannya; orang-orang saleh tercabut nyawanya, dan tidak ada seorangpun yang mengindahkannya; sungguh, karena merajalelanya kejahatan, tercabutlah nyawa orang benar dan ia masuk ke tempat damai; orang-orang yang hidup dengan lurus hati mendapat perhentian di atas tempat tidurnya. Namun, kamu, mendekatlah kamu ke mari, hai anak-anak dari perempuan-perempuan sihir, hai keturunan orang yang berzinah dan perempuan sundal! (TB)[6]
Orang percaya yang benar dianiaya oleh tangan pemimpin-pemimpin Yehuda yang kejam dan korup sehingga binasa (bandingkan 2 Raja–raja 21:6). Namun, dengan kematian mereka, para syahid ini lolos dari kengerian hukuman Allah yang segera akan menimpa umat-Nya. Sebagian besar penduduk Yehuda meninggalkan Tuhan dan sebaliknya memilih untuk menyembah dewa-dewa dari bangsa-bangsa asing. Ibadah tersebut mencakup kebejatan, pelacuran, sihir, dan pengorbanan manusia. Namun, Allah tidak akan membiarkan seorang pun lolos dari hukuman dosa; orang yang melanggar hukum-Nya akan menuai apa yang mereka taburkan dan kehilangan jauh lebih banyak daripada yang mereka harap akan didapatnya dengan kefasikan mereka.[7]
Kepada orang yang rendah hati dan bertobat, Tuhan datang dengan janji yang indah: Ia yang tinggal "di tempat tinggi dan di tempat kudus" akan diam dengan orang "yang remuk dan rendah hati" (ayat Yesaya 57:15). "Remuk" mengacu kepada siapa saja yang tertindas oleh beban dosa dan ingin menemukan kebebasan dari perbudakannya; "rendah hati" mengacu kepada orang yang hatinya hancur akibat malapetaka dan kesengsaraan kehidupan ini (bandingkan Mazmur 34:19–20). Allah datang untuk tinggal dengan orang-orang semacam itu supaya menghidupkan semangat mereka, memberikan hidup baru dan memberikan penghiburan dengan kehadiran-Nya.[7]
Ayat 20
Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut wang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur. (TB)[8]
Ayat 21
"Tiada damai bagi orang-orang fasik itu," firman Allahku. (TB)[9]
"Tidak ada damai bagi orang-orang fasik": Allah sudah membentuk hati nurani manusia sedemikian sehingga takkan pernah ada damai sungguh bagi orang yang hidup secara fasik—baik damai dalam batin maupun damai secara lahir (Yesaya 57:21). Selama mereka berbuat dosa, hidup mereka akan seperti ombak laut yang penuh sampah dan lumpur (Yesaya 57:20). Allah menentang mereka, sambil menginginkan agar mereka bertobat dan diselamatkan (bandingkan 2 Petrus 3:9).[7] Terjemahan bahasa Inggris "no peace for the wicked" atau "no rest for the wicked" menjadi istilah kiasan populer.[10]
Referensi
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857
↑Dianne Bergant dan Robert J.Karris (ed). 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Jogjakarta: Kanisius.
↑(Indonesia) W.S. LaSor, D.A. Hubbard, F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 2, Sastra dan Nubuat. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1994. ISBN 9789794150431