Pelinggih dalam bentuk Candi khas Jawa di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta.
Pura Parahyangan Agung Jagatkarta (Bali: ᬧᬸᬭᬧᬭᬳ᭄ᬬᬗᬦ᭄ᬅᬕᬸᬂᬚᬕᬢ᭄ᬓᬃᬢ) berarti "alam dewata suci sempurna"[1] atau sering disebut hanya Pura Jagatkarta adalah puraagama Hindu Bali yang terletak di Bogor, Jawa Barat, Indonesia, Pura ini didirikan pada 1995 dan digunakan sebagai fasilitas ibadah Umat Hindu Bali yang berada di luar Bali. Setelah dibangun, Pura Jagatkarta adalah pura terbesar di Jawa Barat, oleh sebagian budayawan Sunda, Pura ini diklaim sebagai tempat persemayaman dan pemujaan terhadap Prabu Siliwangi dan para hyang (leluhur) dari Pakuan Pajajaran yang pernah berdiri di wilayah Parahyangan, meskipun pada dasarnya fungsi Pura ini adalah sebagai pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dan Dewata di Bali.
Tata letak Pura Jagatkarta juga berdasarkan legenda bahwa titik tersebut adalah tempat di mana Prabu Siliwangi mencapai moksa bersama para prajuritnya, sehingga sebelum dibangun, sebuah Candi dengan patung harimau (Sunda: maung) berwarna putih dan hitam (lambang Prabu Siliwangi) didirikan sebagai penghormatan terhadap Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Hindu terakhir di tanah Parahyangan. Sebagian peninggalan Pajajaran kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.
Akses jalan dari kaki Gunung Salak menuju Pura Jagatkarta telah diperlebar sejak pembangunannya dirintis pada tahun 1995, sehingga kendaraan bisa mencapai Pura dengan mudah. Namun karena banyaknya pengunjung yang datang untuk mengikuti upara ngenteg linggih atau peresmian Pura Jagatkarta, areal parkir terletak jauh dari areal pura.
Pembangunan
Umat Hindu yang sedang berdoa di dalam lingkungan pura
Pembangunan Pura Jagatkarta dirintis pada tahun 1995 dan adalah dari hasil kerja gotong royong umat Hindu Nusantara. Pura Jagatkarta secara resmi belum selesai dibangun, tetapi bangunan pura utama seperti bagian Pura Padmesana, Balai Pasamuan Agung, dan Mandala Utama telah selesai.
Sebelum masuk di areal utama Pura Jagatkarta juga terdapat Pura Melanting dan Pura Pasar Agung yang digunakan khusus untuk bersembahyang, menyempurnakan, serta menyucikan persembahan yang akan dihaturkan di Pura Jagatkarta sebagai wujud rasa syukur. Pengunjung wisatawan umumnya dilarang masuk ke pura utama, kecuali bagi yang hendak melakukan ritual bersembahyang, akses hanya hingga pelataran luar pura.