Candi Griya merupakan salah satu situs arkeologi yang terletak di lereng Gunung Penanggungan, tepatnya di Dusun Telogo, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Situs ini termasuk dalam kompleks peninggalan sejarah yang tersebar di kawasan Gunung Penanggungan, yang menyimpan berbagai artefak penting dari masa pemerintahan Mpu Sindok, Airlangga, hingga era Majapahit.[1]
Candi ini berada dalam satu kawasan dengan beberapa candi lainnya seperti Candi Gajah, Candi Wayang, Candi Dharmawangsa, dan Candi Menara. Letaknya di lereng Gunung Penanggungan dengan ketinggian sekitar 1.084 meter di atas permukaan laut, menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan pada masa lampau.[1]
Candi Griya dapat dicapai melalui jalur pendakian Gunung Penanggungan dari Dusun Telogo, Desa Kunjorowesi, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit hingga satu jam perjalanan kaki, sementara kawasan ini tidak hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi tetapi juga menawarkan panorama alam yang menarik, sehingga menjadi destinasi wisata yang menggabungkan unsur budaya dan keindahan alam.[2]
Candi Griya merupakan bagian dari kelompok candi yang tersebar di kawasan Gunung Penanggungan, dengan ciri khas pembangunan menggunakan material batu dan variasi orientasi serta fungsi keagamaan. Meskipun dokumentasi mengenai detail arsitektur dan relief candi ini masih terbatas, keberadaannya memberikan kontribusi penting dalam memahami kompleksitas sistem ritual dan pemujaan pada masa Hindu-Buddha di Jawa Timur. Saat ini, situs tersebut termasuk dalam daftar cagar budaya yang berada di bawah perlindungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur.[2]
Signifikansi Historis dan Filosofis Candi Griya
Candi Griya yang sempat terkubur selama berabad-abad merepresentasikan nilai historis dan spiritual masyarakat Jawa pada periode Hindu-Buddha. Seperti candi-candi sezaman, situs ini dibangun dengan konsep kosmologis yang menggambarkan hubungan antara dimensi manusia dan ketuhanan. Istilah "Griya" yang berarti tempat tinggal mengisyaratkan fungsi situs sebagai ruang sakral untuk aktivitas keagamaan. Kondisi terkuburnya candi ini mencerminkan proses alamiah siklus kehidupan dan transformasi budaya seiring perjalanan waktu.[3]
Penemuan kembali Candi Griya di antara vegetasi hutan mengingatkan pada pola penemuan berbagai situs purbakala di Jawa, menunjukkan bagaimana faktor alam dan waktu dapat mengaburkan warisan budaya. Keberadaannya yang terpendam sekian lama sekaligus membuktikan ketahanan nilai-nilai budaya meskipun sempat terlupakan. Proses pelestarian situs ini tidak hanya bermakna pemulihan fisik, tetapi juga revitalisasi kesadaran sejarah dan identitas budaya. Sebagai bagian dari kompleks Gunung Penanggungan, Candi Griya diduga berperan dalam aktivitas ritual, dengan periodisasi kejayaan dan kemunduran yang merupakan karakteristik umum perkembangan situs-situs keagamaan kuno di Nusantara.[3]