Kompleks Candi Plaosan terdiri atas Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Pada masa lalu, Kompleks percandian ini dikelilingi oleh parit berbentuk persegi panjang. Sisa struktur tersebut masih bisa dilihat sampai saat ini di bagian timur dan barat candi.
Candi Plaosan merupakan salah satu wisata pendidikan dan religi di Jawa Tengah.[2] Situs Candi Plaosan merupakan komplek pemujaan Buddhis yang dibangun pada abad ke-8 M dengan sebutan Jina Mandira dan terus berlanjut hingga pertengahan abad ke-9. Puncak pembangunannya diprakarsai oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan yang beragama Hindu dan permaisurinya, Sri Kahulunnan (Pramoddawardhani) yang beragama Buddha.
Arsitektur Candi Plaosan menunjukkan ciri khas tersendiri yang terlihat dari dua candi induk “kembar” berlantai dua yang dikelilingi candi perwara dan stupa perwara, dan parit yang mengelilingi keseluruhan komplek. Candi Plaosan juga menunjukkan ciri khas tersendiri dalam hal konsep religi yang tecermin dari keberadaan Pantheon tiga Trikaya Buddha serta relief dewa-dewi wewangian dan cahaya di kedua candi induknya.
Arsitekturnya megah, unik, kaya ornamen yang indah. Arca-arcanya memiliki ciri khas, menjadikan gaya seni arca tersendiri yang menjadi penanda zaman. Kawasan sekitar candi Plaosan memiliki potensi peninggalan purbakala lainnya yang masih terpendam untuk diungkap. Bentang pandang ke arah Gunung Merapi di utara dan deretan pegunungan breksi di Selatan. Golden moment saat sunrise dan sunset membentuk siluet percandian yang indah dan langka, dikelilingi lahan sawah dan tegalan yang cukup luas, didukung nuansa pedesaan yang masih terasa. Lokasinya dekat dengan candi-candi lainnya yang berada kawasan Prambanan yang juga kaya akan peninggalan budaya tak benda lainnya.
Sekitar abad ke-9 Masehi, Jawa Tengah terdapat dua dinasti besar, yaitu Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya. Kedua dinasti tersebut mempunyai latar belakang agama berbeda. Dinasti Syailendra memeluk agama Buddha, sedangkan Dinasti Sanjaya, kecuali Rakai Panangkaran memeluk agama Hindu. Kedua dinasti tersebut bersatu ketika masa pemerintahan Dinasti Syailendra berada di bawah pimpinan Rakai Pikatan. Ia menikah dengan Sri Kahulunnan (Pramoddawardhani) dari Dinasti Sanjaya yang beragama Buddha.[3]
Pernikahan beda agama ini menimbulkan gejolak politik dan agama. Namun, Rakai memberikan kebebasan kepada Pramodhawardhani untuk tetap memeluk keyakinannya.[4] Filosofi candi ini memiliki keunikan yang terletak pada relief di kedua candi induknya, yaitu Candi Induk Utara dan Candi Induk Selatan. Candi Induk Utara memiliki relief yang mayoritas menggambarkan tokoh-tokoh perempuan (diduga mewakili Ratu Pramodhawardhani atau biksuni). Sedangkan, Candi Induk Selatan memiliki relief yang mayoritas menggambarkan tokoh-tokoh laki-laki (diduga mewakili Rakai Pikatan atau biksu). Pembagian simbolis "pria dan perempuan" pada candi kembar ini semakin memperkuat tema pasangan yang setara dan harmonis dalam bangunan suci.[5]
Selain Candi Plaosan, Rakai Pikatan juga membangun candi lain sebagai wujud cintanya kepada sang istri yang dinamakan dengan Candi Siwaghra.[6]
Candi ini banyak dipakai untuk tempat foto pernikahan karena adanya mitos yang mengatakan bahwa pasangan yang berkunjung ke Plaosan akan memiliki hubungan yang langgeng.[4]
Candi Plaosan Lor
Kompleks Candi Plaosan Lor memiliki dua candi utama. Candi yang terletak di sebelah kiri (di sebelah utara) dinamakan Candi Induk Utara dengan relief yang menggambarkan tokoh-tokoh wanita, dan candi yang terletak di sebelah kanan (selatan) dinamakan Candi Induk Selatan dengan relief menggambarkan tokoh-tokoh laki-laki. Di bagian utara kompleks terdapat mandapa terbuka dengan beberapa arca buddhis. Kedua candi induk ini dikelilingi oleh 116 stupa perwara serta 50 buah candi perwara, juga parit buatan.
Pada masing-masing candi induk terdapat 6 patung/arca Dhyani Boddhisatwa. Walaupun candi ini adalah candi Buddha, tetapi gaya arsitekturnya merupakan perpaduan antara agama Buddha dan Hindu.
Candi Plaosan Kidul merupakan candi bercorak Hindu di Klaten, Jawa Tengah
Berbeda dari Candi Plaosan Lor, Candi Plaosan Kidul belum diketahui memiliki candi induk. Pada kompleks ini terdapat beberapa perwara berbentuk candi dan stupa. Sebagian di antara candi perwara telah dipugar.
Festival Candi Kembar
Festival Candi Kembar 5 November 2016
Festival Candi Kembar merupakan acara tahunan yang diadakan di candi ini dengan menampilkan berbagai macam tarian dari seluruh nusantara. Festival ini merupakan satu-satunya festival budaya skala besar yang diadakan di Klaten.[7] Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peluncuran desa wisata yang bekerja sama dengan ISI Surakarta.[butuh rujukan]
Dalam kegiatan ini, Bupati Klaten Sri Hartini mengapresiasi kegiatan Festival Candi Kembar yang berlangsung di Bugisan. Ia berharap kegiatan yang akan berlangsung sekitar satu bulan menjadi salah satu bentuk promosi potensi wisata yang ada di wilayah tersebut.[8]