Candi Brahu merupakan salah satu candi yang terletak di dalam kawasan situs arkeologi Trowulan, bekas ibu kota Majapahit. Tepatnya, candi ini berada di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, atau sekitar dua kilometer ke arah utara dari jalan raya Mojokerto—Jombang.
Asal nama
Nama candi ini, yaitu 'brahu', diduga berasal dari kata wanaru atau warahu. Nama ini didapat dari sebutan sebuah bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Alasantan. Prasasti tersebut ditemukan tak jauh dari Candi Brahu.[1]
Bangunan
Candi Brahu dibangun dengan batu bata merah, menghadap ke arah barat dan berukuran panjang sekitar 22,5 m, dengan lebar 18 m, dan berketinggian 20 meter.
Candi Brahu dibangun dengan gaya dan kultur Buddha. Diperkirakan, candi ini didirikan pada abad ke-14 Masehi meskipun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan[siapa?] bahwa candi ini berusia jauh lebih tua daripada candi-candi lain di sekitar Trowulan.
Fungsi sebagai krematorium
Dalam prasasti yang ditulis Mpu Sendok bertanggal 9 September 939 (861 Saka), Candi Brahu disebut merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja[butuh rujukan]. Akan tetapi, dalam penelitian tak ada satu pakar pun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi karena peninggalan peninggalan Bokor / tempat abu sudah dijarah. Hal ini diverifikasi setelah dilakukan pemugaran candi pada tahun 1990 hingga 1995.
Sekitar candi
Diduga di sekitar candi ini banyak terdapat candi-candi kecil. Sisa-sisanya yang sebagian sudah runtuh masih ada, seperti Candi Muteran, Candi Gedung, Candi Tengah, dan Candi Gentong. Saat penggalian dilakukan di sekitar candi banyak ditemukan benda benda kuno, semacam alat-alat upacara keagamaan dari logam, perhiasan dari emas, arca, dan lain-lainnya.[1]
Galeri
Perawatan Candi Brahu dari tumbuh-tumbuhan
Candi Brahu dari samping
Taman di candi Brahu dengan semak berbentuk stupa
Candi Brahu dilihat dari areal persawahan sekitarnya
Areal candi Brahu
Etnomatematika Candi Brahu
Oleh Hammond (2000) dalam jurnal Satya Wiyata Taman Siswa Yogyakarta [2] etnomatematika dapat diartikan adalah suatu studi yang mengaitkan aspek matematika dengan budaya, yang menangani studi komparatif matematika dari budaya manusia yang berbeda. Mengetahui matematika telah membentuk dan dibentuk oleh kelompok manusia dari berbagai nilai dan keyakinan.
Dalam Jurnal Penalaran dan Riset Matematika [3]yang membahas tentang Candi Brahu maka dapat digambarkan dari hasil penelitian Deka Anjariyah et al ,sebagai berikut:
Candi ini memiliki struktur stupa dengan denah lingkaran pada bagian atap candi. Bentuk lingkaran ini mengandung konsep jari-jari, diameter dan keliling sebagaimana sebuah bangun lingkaran.
Badan candi ini berbentuk persegi dengan ukuran 16m 2 berbentuk bangun datar persegi memiliki bilik yang ditandai oleh empat sisi sama panjang dan empat sudut siku-siku. Tampak bahwa telah adanya pemahaman masyarakat tentang simetris dan kesebangunan.
Kaki candi berukuran 40 x 20 x 12 cm menyerupai bentuk balok dengan keenam sisinya berbentuk persegi panjang dan tiga pasang sisi sejajar.
Kaki candi berbentuk segitig dan trapesium sebagai elemen struktural ataupun ornamen candi .
Sehingga diketahui bahwa unsur-unsur geometris seperti lingkaran, tabung, persegi, prisma segi empat, balok, hingga konsep simetri dan refleksi tercermin dalam struktur Candi Brahu. Dengan hasil ini maka tidak hanya memperlihatkan pemahaman masyarakat masa lalu terhadap bentuk dan proporsi, tetapi juga menunjukkan keterkaitan erat antara arsitektur tradisional dan konsep-konsep matematika formal.
Referensi
12I G. Bagus Arnawa, Mengenal Peninggalan Majapahit di Daerah Trowulan