Penemuan Candi Koto Rao pada 12 April 2007 dan ekskavasi oleh Tim BP3 Batu Sangkar tahun 2008 mengungkap struktur bangunan dari batu bata dengan ciri khas Hindu-Buddha. Temuan artefak seperti makara dan arca dwarapala mengindikasikan fungsi situs sebagai tempat pemujaan, didukung oleh keterkaitannya dengan Prasasti Kubu Sutan yang menyebut tempat pemujaan Sri Indrakila Parwata Puri. Analisis menunjukkan candi ini mungkin terkait dengan Raja Bijayendrasekhara dan berkembangnya aliran Tantrayana pada masa Adityawarman. Situs ini kini tercatat sebagai cagar budaya dengan nomor inventaris 10/BCB-TB/A/08/2007.[2]
Arsitektur
Candi Koto Rao menampilkan arsitektur Hindu-Buddha abad ke-13 dengan material utama batu tufa dan batu bata. Struktur berukuran 3x3 meter ini memiliki denah persegi dengan elemen khas seperti makara dan arca dwarapala, sebagai penjaga spiritual yang membawa gada dengan upawita berbentuk ular. Meski kini dalam kondisi reruntuhan, situs seluas 500x130 meter ini merefleksikan perpaduan unsur Hindu-Buddha dengan karakter lokal, khususnya dalam konteks perkembangan Tantrayana di Sumatera Barat pada periode abad pertengahan.[3]
Simbolisme Arsitektur Candi Koto Rao
Sebagai representasi miniatur Gunung Mahameru yang dianggap pusat alam semesta dalam mitologi Hindu-Buddha, candi ini dibagi menjadi tiga tingkatan vertikal, yakni bagian dasar (bhurloka) melambangkan dunia manusia, bagian tengah (bhuvarloka) menyimbolkan alam transisi, dan bagian puncak (svarloka) menggambarkan kediaman para dewa.[4]
Elemen dekoratif candi memiliki makna perlindungan dan spiritual. Makara yang terpasang di ambang pintu berperan sebagai penjaga gerbang dunia spiritual, sementara arca dwarapala dengan atribut gada dan upawita ular berfungsi menjaga kesucian kompleks candi. Hiasan kepala kala di atas pintu masuk dimaknai sebagai pelindung dari pengaruh negatif. Motif flora seperti sulur-suluran dan pohon hayat (kalpavriksha) melambangkan kesuburan dan kehidupan abadi.[4]