Phala adalah istilah bahasa Pali dan Sanskerta yang berarti "buah" dari tindakan seseorang dalam Hinduisme dan Buddhisme. Dalam Buddhisme, jenis-jenis phala berikut ini diidentifikasi:
Ariya-phala juga merujuk pada buah pencapaian dari mengikuti Jalan (Pali: magga).
Sāmañña-phala merujuk pada buah-buah dari kehidupan pertapaan.
Kamma-phala merujuk pada buah-buah dari karma (perbuatan berkehendak)
Dalam Buddhisme
Dalam Buddhisme, istilah phala (bahasa Pali) digunakan untuk merujuk pada pembuahan atau hasil dari tindakan menurut ajaran karma (perbuatan berkehendak) dan hasil karma (vipāka).
Istilah ariya-phala digunakan untuk merujuk secara khusus pada buah pencapaian dari mengikuti Jalan (Pali: magga). Buah pencapaian untuk masing-masing dari empat tingkat Jalan tersebut diidentifikasi sebagai berikut:[1][2]
Sotāpatti-phala, buah pencapaian sotapana (pemasuk arus)
Sakadāgāmi-phala, buah pencapaian sakadagami (yang kembali-sekali)
Anāgāmi-phala, buah pencapaian anagami (yang tidak-kembali)
Arahatta-phala, buah pencapaian dari arahat (yang layak)
Sāmañña-phala
Istilah sāmañña-phala merujuk pada buah-buah dari kehidupan tanpa-rumah (pertapaan). Menurut Sāmaññaphala Sutta (DN 2), buah-buah tersebut adalah:[3]
Buah tingkat dasar (sandiṭṭhikasāmaññaphala):
Perubahan status sosial dan penerimaan penghormatan (paṭhamasandiṭṭhikasāmaññaphala — mencakup abhivādana dan paccuṭṭhāna).
Perlindungan dan sokongan kebutuhan hidup sehari-hari (dutiyasandiṭṭhikasāmaññaphala — mencakup sokongan catupaccaya dan dhammika rakkhāvaraṇagutti).
Buah persiapan batin (paṇītatarasāmaññaphala):
Kebahagiaan tak bercela (anavajjasukha) berkat kemurnian sila (sīla).
Kammaphalacode: pi is deprecated (Pali; Sanskerta: karmaphala) secara harfiah berarti "buah perbuatan". Istilah ini merujuk pada hasil atau akibat yang timbul dari suatu tindakan sengaja (kamma). Dalam Tripitaka Pali, konsep ini sering dijabarkan melalui frasa standar kammānaṁ phalaṁ vipākocode: pi is deprecated (phala dan vipāka dari karma) yang menggambarkan hubungan kausalitas antara perbuatan dan kematangannya.[4] Terdapat perbedaan teknis yang halus antara vipāka (hasil kematangan) dan phala (buah). Sementara vipāka merujuk pada proses pematangan atau efek batiniah, phala sering digunakan sebagai metafora untuk "hasil panen" yang akhirnya dirasakan secara nyata oleh pelaku perbuatan tersebut.[5]
Penggunaan istilah ini dapat ditemukan di beberapa bagian Suttapiṭaka. Dalam Mahācattārīsaka Sutta (MN 117), frasa sukatadukkaṭānaṁ kammānaṁ phalaṁ vipākocode: pi is deprecated ("phala dan vipāka dari kamma baik dan buruk") digunakan untuk mendefinisikan batasan dari pandangan benar tingkat duniawi.[4] Istilah majemuk kammaphala secara langsung juga muncul dalam teks percakapan maupun syair. Dalam Dakkhiṇāvibhaṅgasutta (MN 142), istilah ini dipakai saat menjelaskan besarnya buah karma (uḷāra) dari praktik berdana kepada Sangha.[6] Sementara itu, dalam kitab Therīgāthā (Thig 15.1), Bhikkhuni Isidāsī menggunakan frasa tassetaṁ kammaphalaṁcode: pi is deprecated saat menyebut penderitaan yang ia alami di masa lalu murni sebagai buah karma dari perbuatannya sendiri.[7]
Terjemahan alternatif
Istilah phala diterjemahkan sebagai:
buah (Harvey, 1990, hlm.39;[8] Keown, 2000, loc 810-813)
Dalam agama Hindu, istilah phala diterjemahkan sebagai pembuahan, hasil, efek.[10]
Dalam sastra Hindu, sebuah phalashruti adalah syair kebajikan yang mendeskripsikan manfaat dari mendengarkan teks tertentu dan merincikan keagungannya.[11]
Seiring tercapainya kebenaran (satya), buah dari tindakan secara alami dihasilkan sesuai dengan kehendak Yogi. (satya pratisthayam kriya phala ashrayatvam)