Peringanan ganda (peringanan tubuh dan peringanan kesadaran) memiliki karakteristik meredanya beban (garubhāva) dalam tubuh mental dan kesadaran, masing-masing. Fungsinya adalah untuk menghancurkan beban. Peringanan terwujud sebagai ketidakmalasan. Penyebab terdekatnya adalah tubuh mental dan kesadaran. Peringanan harus dianggap sebagai lawan dari kekotoran batin, seperti kemalasan dan kantuk, yang menciptakan beban.
Menurut kitab Dhammasaṅgaṇī (par 42, 43) pasangan cetasika ini terdiri dari ketiadaan kemalasan dan kantuk/kelambanan, mereka memiliki “kewaspadaan dalam berbagai hal”. Makna ini akan lebih jelas ketika kita membaca apa yang dinyatakan Mūla-ṭīkā tentang peringanan citta: “kemampuan batin untuk beralih dengan sangat cepat ke objek yang bermanfaat atau ke perenungan tentang ketidakkekalan, dst.”
Kitab Aṭṭhasālinī (I, Kitab I, Bagian IV, Bab I, 30) menyatakan:[3]
Peringanan-kāya adalah daya apung faktor-faktor mental; peringanan-citta adalah daya apung kesadaran. Keduanya memiliki karakteristik menekan beban yang satu dan yang lain; fungsinya adalah menghancurkan beban pada keduanya; manifestasinya adalah pertentangan terhadap kemalasan pada keduanya, dan memiliki faktor-faktor mental dan kesadaran sebagai penyebab langsung. Keduanya adalah lawan dari kekotoran batin, seperti kemalasan dan kantuk/kelambanan, yang menyebabkan beban dan kekakuan pada faktor-faktor mental dan kesadaran.
Bhikkhu Bodhi (2012), A Comprehensive Manual of Abhidhamma: The Abhidhammattha Sangaha (Vipassana Meditation and the Buddha's Teachings), Independent Publishers Group Kindle Edition