Gagasan pembangunan Masjid Istiqlal pertama kali dicetuskan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan selanjutnya dimbil alih oleh Presiden Seokarno.[12] Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan masjid ini dilakukan oleh Soekarno pada tanggal 24 Agustus1961. Kemudian proyek masjid ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban, anak dari pendetaLutheran yang berasal dari Huria Kristen Batak Protestan.[13] Desain masjid ini mengusungkan tema "Ketuhanan".[14]
Masjid ini memiliki gaya arsitektur formalisme baru dan internasional; dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Bangunan utama itu dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Minaret tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar masjid. Masjid ini mampu menampung lebih dari 200.000 Jemaah.[15]
Gagasan
Gagasan pembangunan Masjid Istiqlal pertama kali dicetuskan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, sebagai masjid nasional di kedudukan ibu kota yang akan didatangi oleh segala bangsa dan menampakkan syiar Islam. Pada tahun 1951, Hatta mengadakan pertemuan di kantor, gedung Dewan Pertimbangan Agung dengan mengundang sejumlah tokoh seperti Sjafruddin Prawiranegara dan Hamka. Hatta menganjurkan pendirian panitia yang bersifat swasta, dan pemerintah akan membantu.[12]
Panitia pembangunan masjid nasional dibentuk pertama kali dengan Ketua Umum Assaat, didampingi Sjafruddin Prawiranegara, Hamka, dan Anwar Tjokroaminoto sebagai wakil ketua. Namun, seiring dengan situasi politik dalam negeri semakin memanas yang diikuti dengan Demokrasi Terpimpin, Assaat dan Sjafruddin terpaksa meninggalkan Jakarta. Sementara itu, H. Anwar Tjokroaminoto ditahan atas tuduhan penggelapan uang panitia, tetapi akhirnya dibebaskan oleh pengadilan karena tidak terbukti bersalah. Anwar Tjokroaminoto tetap duduk dalam kepanitiaan. Sementara itu, Hatta akhirnya mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden pada 1956.[12]
Soekarno, yang menjalankan Demokrasi Terpimpin, mengambil alih gagasan Hatta dan merombak susunan panitia yang sudah dibentuk.[12]
Panitia pembangunan Masjid Istiqlal yang dipimpin oleh Anwar Tjokroaminoto didirikan pada tahun 1953. Pada tahun 1954, panitia mengangkat Soekarno kepala teknis pengawas.[16]:106
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Soekarno pada tanggal 24 Agustus1961;[22][23] pembangunan memakan waktu 17 tahun, dan kemudian diresmikan oleh presiden Soeharto sebagai masjid nasional pada tanggal 22 Februari1978.[22][24] Hingga tahun 2013 masjid ini adalah masjid terbesar di wilayah Asia Tenggara, dengan kapasitas lebih dari 120.000.[25][26]:65
Peristiwa kontemporer
Pada Jumat malam, tanggal 14 April1978 sebuah bomberbahan peledak plastik diledakkan di dekat mimbar Masjid Istiqlal. Tidak ada korban yang dilaporkan.[27] Lebih dari 20 tahun kemudian, pada tanggal 19 April1999 terjadi serangan bom kedua di ruang bawah tanah masjid, memecahkan kaca ruang kantor pengurus masjid.[28]
Antara bulan Mei2019 hingga Juli2020 masjid mengalami renovasi besar-besaran dengan biaya US$35 juta (sekitar 511 miliar rupiah).[29][30] Pekerjaan termasuk: memoles dan membersihkan eksterior marmer dan ornamen geometrisstainless steel;mihrab dan mimbar baru; peningkatan sistem kelistrikan dan pipaledeng; sistem pencahayaan baru menggunakan lampu LED; renovasi ruang VIP; gerbang baru dan perbaikan taman; pembangunan taman baru dan alun-alun; kios baru untuk pedagang, dan juga ruang parkir basemen dua lantai.[5][31]
Pada 2022, masjid ini meraih sertifikasi EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies) dari International Finance Corporation (IFC) yang berada di bawah naungan Bank Dunia. Masjid ini sudah dipastikan sebagai tempat ibadah dengan konsep Green Building yang ada pertama di dunia saat ini.[33]
Masjid Istiqlal tidak hanya berkomitmen pada kerukunan beragama melalui pembangunan Terowongan Silaturahim yang menghubungkannya dengan Geraja Katedral, tetapi juga mendorong keterbukaan dan sikap inklusif. Hal ini terlihat dengan adanya pengajaran bahasa Ibrani modern di masjid tersebut, yang dipelopori oleh Sapri Sale, seorang guru bahasa Ibrani, Arab, dan Aram. Sale dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan pengajaran bahasa Ibrani modern di Indonesia, termasuk di Masjid Istiqlal.
↑John L. Esposito, ed. (2014). "Sunni Islam". The Oxford Dictionary of Islam. Oxford: Oxford University Press.
12Tayeb El-Hibri, Maysam J. al Faruqi (2004). "Sunni Islam". Dalam Philip Mattar (ed.). The Encyclopedia of the Modern Middle East and North Africa (Edisi Second). MacMillan Reference.