Dahulu, Pulau Tatas, yang merupakan pulau delta, merupakan lokasi dari Fort van Tatas yang merupakan benteng dan barak Belanda, di mana benteng ini dikelilingi kanal dan berada di persimpangan yang dinilai strategis, yaitu wilayah Kesultanan Banjar di Kuin di bagian baratnya dan daerah menuju Martapura dan Hulu Sungai di bagian timurnya. Selain strategis dari segi pertahanan, dari segi ekonomi juga dinilai strategis karena armada dagang Eropa (Belanda, Portugis, Inggris), Tiongkok, Melayu, Bugis, dan Jawa kerap berkabuh di daerah ini untuk melakukan perdagangan lada yang merupakan komoditas perdagangan kesultanan masa itu.[6]
Awalnya, Pulau Tatas tidak dilirik oleh VOC sebagai benteng pertahanan dan lebih memilih Sungai Barito di dekat muara Sungai Kuin karena berdekatan dengan keraton kesultanan. Bahkan pada kedatangan VOC yang kedua pada tahun 1612, armada VOC belum melihat pulau ini. Baru pada Oktober 1756, ketika Sultan Banjar melakukan perjanjian dengan Johan Andreas Para Vinci, pulau ini menjadi benteng pertahanan di mana wilayah ini berada di tangan Inggris, di mana benteng ini dibangun dengan bentuk pentagin yang diperkuat selekoh (bastion) di sisi sungai dan sisi daratan. Lalu, pada tahun 1786-1787, saat Sultan Banjar menyerahkan kedaulatan kepada VOC, VOC mendirikan pusat pemerintahan di pulau ini.[6]
Pembangunan
Keinginan untuk membangun sebuah masjid raya dimulai ketika beberapa tokoh seperti Brigjend H. Hasan Basry, H. Maksid, M. Yusi, dan sejumlah ulama sepakat membangun sebuah masjid raya yang berfungsi sebagai pusat kegiatan Islam dalam arti luas di Banjarmasin. Pada awalnya, lokasi masjid raya yang akan dibangun berlokasi di areal bekas Hotel Banjar. Rencana ini mendapat masukan dari Pangdam X Lambung Mangkurat saat itu, Amir Machmud dan Gubernur Kalsel pada saat itu, Aberani Sulaiman. Namun, pertimbangan lain yang kemudian diterima adalah bahwa lokasi masjid raya yang akan dibangun adalah di Pulau Tatas yang berada di pusat Kota Banjarmasin,dan lahannya masih tergolong luas (sekitar 100 ribu meter persegi), di mana pada saat itu merupakan asrama militer.[3][5][6][7]
Setelah pemilihan lokasi dilakukan dengan bantuan para ahli dari Institut Teknologi Bandung, dilakukan peletakan batu pertama oleh Aberani Sulaiman dan Amir Machmud pada tahun 1964. Namun, pembangunan masjid sempat tertunda karena kondisi perekonomian, politik, dan keamanan saat itu belum sepenuhnya stabil akibat peristiwa Gerakan 30 September. Selain itu, banyak pejabat dan tokoh yang berperan dalam pembangunan masjid mengalami mutasi tugas. Akhirnya, pada 10 November 1974, Gubernur Kalimantan Selatan saat itu, Soebardjo, baru meresmikan pemancangan tiang pertama Masjid Raya Sabilal Muhtadin yang menandakan bahwa pembangunan masjid telah dimulai kembali, di mana dia menunjuk PT Griya Cipta Sarana sebagai perencana dan PT Barata Metelworles sebagai pelaksana pembangunan.[3][5][7][8] Seeblumnya, Kantor Wilayah Departemen Agama telah membentuk tim khusus untuk menentukan arah kiblat pada masjid ini pada tanggal 8 Agustus 1974 yang terdiri dari K.H. M.Hanafie Gobit, K.H. Abdullah Busthani, Drs. Mas’ud Djuhrie serta M. Arsyad Suban.[4]
Penentuan arah kiblat saat pembangunan Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Pada 31 Oktober 1979 atau 10 Zulhijah 1399 Hijriah, dilaksanakan SalatIduladha untuk yang pertama kalinya di masjid ini. Meskipun kondisi masjid pada saat itu belum sepenuhnya selesai dibangun, salat berjamaah tersebut dapat dilaksanakan yang menandakan bahwa masjid ini sudah dapat digunakan pada masyarakat. Setelah itu, dibentuklah panitia pengumpul dana yang diketuai oleh K.H. Hasan Moegni Marwan dengan sekretaris H.M Rafi'i Hamdi. Kurang lebih selama tujuh tahun dibangun, akhirnya masjid ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 9 Februari 1981.[3][5][7][8]
Pada tahun 2009, dilakukan renovasi yang dilaksanakan oleh gubernur saat itu, Rudy Ariffin dengan menggunakan anggaran sekitar 37 miliar rupiah. Renovasi dilakukan untuk memperbaiki berbagai sisi masjid termasuk kubah utama di bagian dalam masjid, mengngat beberapa bagian masjid dinilai sudah tidak prima karena usia. Meskipun begitu, proses renovasi ini tidak mengubah bentuk asli masjid, meskipun ada wacana ingin memperluas areal pelataran masjid dan memasang atap payung elektrik seperti Masjid Nabawi pada tahun 2015.[7][10]
Arsitektur
Interior Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Seacar keseluruhan, masjid yang memiliki luas bangunan kurang lebih 5.250 meter persegi ini dapat menampung jamaah sebanyak 15.000 orang, yaitu 7.500 pada bagian dalam dan 7.500 pada bagian halaman bangunan. Bangunan ini dikelilingi empat menara setinggi 21 meter dan satu menara setinggi 45 meter. Bangunan ini menggunakan batu pualam sebagai pelapis lantai bangunan, menara dan turap plaza, juga sebagian dari kolam. Walaupun begitu, bangunan ini juga menggunakan porselen pada lantai tempat pengambilan air wudhu dan keramik pada lantai plazanya.[2][4]
Bangunan ini memiliki kerawang yang tembus pandang pada pintu-pintu dan dindingnya sebagai penyeimbang bangunan yang memiliki kubah yang berbentuk bulat pipih di atas bangunan, tiang-tiang yang kokoh dan dinding yang tebal. Bangunan ini juga didukung dengan 17 buah lampu hias dengan ribuan bola kaca di bagian dalam ruang utama yang tersusun dalam lingkaran bergaris tengah 9 meter.[2][4]
Mihrab dan Mimbar Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Masjid ini memiliki elemen hias kaligrafi yang diukir pada bahan tembaga berwarna gelap bertuliskan ayat-ayat Al-Qur'an, Asmaulhusna, lafaz Allah, dan lafaz Nabi Muhammad dan keempat sahabatnya yang ditulis dalam gaya Naski, Diwani, Riqah, Tsulus, dan Kufik. Selain itu, masjid ini memiliki elemen hias berupa motif khas Kalimantan yang berbentuk tumbuh- tumbuhan.[2][4]
Fasilitas dan aktivitas
Suasana kegiatan salat magrib sebelum kegiatan majelis taklim setiap kamis malam di Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Saat ini, daerah masjid tidak hanya berisi bangunan utama masjid, melainkan juga berbagai macam bangunan yang digunakan untuk berbagai keperluan diantaranya Kantor Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Angkatan Muda Sabilal Muhtadin, Majelis Ulama Indonesia Kalsel, Badan Amil Zakat Nasional Kalsel dan Badan Wakaf Indonesia Kalsel. Selain itu, masjid ini memiliki perpustakaan, Islamic Center, taman, hingga aula yang disewakan untuk berbagai kegiatan umum.
Masjid ini juga memiliki saluran radio dengan nama "Radio Dakwah Sabilal Muhtadin" dengan frekuensi 88,5 FM dan saluran YouTube dengan nama "Syiar Majelis Sabilal Muhtadin" (Syima Sabilal Muhtadin).[1]
Masjid ini juga memiliki Lembaga Pendidikan Islam yang menanungi berbagai satuan pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, dan Perguruan Tinggi (STIKIP Sabilal Muhtadin). Untuk PAUD, SD, dan SMP Islam Sabilal Muhtadin, bangunannya terletak di kompleks masjid, sedangkan SMA dan SMK Islam Sabilal Muhtadin serta STIKIP Sabilal Muhtadin berada Kompleks Malkon Temon di daerah Jalan Sultan Adam Banjarmasin.
Dalam menjalankan aktivitasnya, selain digunakan untuk salat berjamaah, juga sering digunakan dalam kegiatan keagamaan lainnya seperti majelis taklim dan peringatan hari besar Islam, di mana dalam sejarahnya, majelis taklim ini pernah diisi oleh beberapa ulama seperti K.H. Ahmad Bakeri, K.H. Ahmad Zuhdiannoor, dan lain-lain.[7][11]