Gunung Merbabu dikenal melalui naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung[2]:389 atau Gunung Pam(a)rihan.[3]:69[4]:82 Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal yang pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15.[5]:416 Menurut etimologi, "merbabu" berasal dari gabungan kata "meru" (gunung) dan "abu" (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.
Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.
Aktivitas vulkanik Gunung Merbabu Tua, bersama dengan Gunung Ungaran Tua dan Gunung Soropati, diperkirakan terjadi pada zaman Pleistosen Tengah-Akhir. Tubuh Gunung Merbabu yang ada saat ini merupakan kerucut vulkanik muda yang terbentuk di kala Pleistosen Akhir-Holosen.[6]
Aliran lava termuda Merbabu berpusat di sistem rekahan berorientasi utara barat laut - selatan tenggara (NNW-SSE) yang memotong puncak Merbabu. Aliran lava Kopeng mengarah Utara dan lava Kajor mengarah Selatan.[6]
Galeri
Pemandangan G. Merbabu dilihat dari gerbang tol Salatiga
Pemandangan sabana ilalang Gunung Merbabu via Suwanting (14 Agustus 2025)
Lukisan cat air sebuah gereja di Salatiga berlatar G. Merbabu dan Merapi, karya J.C. Rappard (antara 1883 - 1889)
Jalur Pendakian
Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung yang sangat populer untuk kegiatan hiking. Di Gunung Merbabu terdapat 5 jalur pendakian resmi yang sering dipakai untuk mendaki, di antaranya:
Jalur pendakian gunung Merbabu via Selo (Boyolali)
Jalur pendakian gunung Merbabu via Suwanting (Magelang)
Jalur pendakian gunung Merbabu via Wekas (Magelang)
Jalur pendakian gunung Merbabu via Cunthel (Semarang)
Jalur pendakian gunung Merbabu via Thekelan (Semarang)
Kelima jalur pendakian tersebut memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Pendaki pemula biasanya memilih mendaki lewat jalur Selo sedangkan pendaki senior yang ingin cepat sampai puncak biasanya memilih jalur Wekas, karena waktu tempuhnya lebih pendek.
↑J. Noorduyn. (1982). "Bujangga Manik’s journeys through Java; topographical data from an old Sundanese source". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia (BKI), 138(4), 413-442.
12Van Bemmelen, R.W. (May 1949). The Geology of Indonesia. Den Haag: V.F.A. Government Printing Office. hlm.562-563.