Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem.[3]
"Pohon besar yang dekat Sikhem" ini ternyata mempunyai sejarah lain. Di kemudian hari, setelah menuliskan perjanjian dengan orang Israel di akhir hidupnya, Yosua bin Nun mendirikannya batu yang besar di bawah pohon besar itu, yang disebut "tempat kudus TUHAN".[4] Pada masa setelah Gideon meninggal, seluruh warga kota Sikhem dan seluruh Bet-Milo menobatkan Abimelekh bin Gideon menjadi raja dekat pohon yang sama, yang diidentifikasikan sebagai "pohon tarbantin di tugu peringatan yang di Sikhem".[5]
Beginilah firman TUHAN: Dengar! Di Rama terdengar ratapan, tangisan yang pahit pedih: Rahel menangisi anak-anaknya, ia tidak mau dihibur karena anak-anaknya, sebab mereka tidak ada lagi.[7]
↑W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 979-415-815-1, 9789794158159
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857