Berisi daftar keturunan Adam melalui Set sebanyak 10 generasi sampai kepada Nuh dan ke-3 putranya, Sem, Ham dan Yafet, yaitu hingga datangnya air bah. Nama-nama ini merupakan daftar keturunan saleh yang berpihak kepada Allah di tengah zaman yang makin tercemar (lihat Kejadian 6:1–22).
Ibrani 11:1–40 memilih dua tokoh (Habel dan Henokh) untuk disebut secara khusus dari periode ini yang berkenan kepada Allah karena iman mereka (Ibrani 11:4–5). Mereka berdua termasuk golongan sisa, golongan yang setia dalam menolak cara Kain. Pada saat air bah hati hampir setiap orang sudah jahat; hanya delapan orang yang selamat ketika itu (Kejadian 6:5,11,18; 7:1,7; 1 Petrus 3:20).
Senantiasa akan ada, kadang-kadang sedikit saja, orang yang menyembah Allah, tetap setia kepada-Nya, menaati firman-Nya dan menantikan janji-janji-Nya. Mereka ini merupakan golongan minoritas (Matius 7:13–14). Namun, Allah memperhatikan nama mereka sebagaimana dilakukan-Nya pada orang-orang dalam pasal ini. Dewasa ini, apabila orang percaya merasa seorang diri dalam imannya kepada Allah dan tanggapannya kepada firman-Nya, ia harus ingat bahwa ia tidak pernah sendirian. Allah masih memiliki ribuan orang di seluruh dunia yang setia kepada-Nya (bandingkan 1 Raja–raja 19:18).[3]
Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.[7]
Referensi silang: Ibrani 11:5
Tidak dapat disangkal lagi, Henokh unggul dalam kesalehan. Perhatikan apa yang dikatakan Alkitab tentang dia.
1) Henokh "bergaul dengan Allah" (Kejadian 5:22,24) -- yaitu, ia hidup dengan iman kepada Allah, memercayai firman dan janji-janji-Nya (Ibr 11:5-6), sungguh-sungguh berusaha hidup saleh (bandingkan 1Yoh 1:5–7) dan mengikuti cara-cara Allah (bd. Ams 3:3), dan dengan teguh menentang ketidaksalehan angkatannya (Yudas 1:14–15).
2) Henokh merupakan pengkhotbah kebenaran yang mengecam dosa dan gaya hidup tidak benar dari angkatannya. Yud 1:14–15 mengatakan bahwa Henokh mengecam ketidaksalehan dan perilaku amoral dengan mengingatkan orang akan datangnya hukuman Allah atas perbuatan-perbuatan yang tidak benar.
3) Henokh berkenan kepada Allah (Ibrani 11:5). Hidup, amanat, kesalehannya demikian berkenan kepada Allah sehingga Allah menghormati dia dengan mengangkatnya dari bumi ke hadirat-Nya tanpa mengalami kematian. Orang percaya masa kini harus merenungkan hidup Henokh sebagai teladan, karena kita juga hidup di tengah-tengah angkatan yang jahat dan tidak saleh. Sudahkah kita bergaul dengan Allah, hidup sungguh-sungguh kudus, mengecam dosa dan mengingatkan orang untuk melarikan diri dari murka yang akan datang (Kis 3:19–20; 1Tes 1:10)? Apakah kita menantikan kedatangan kembali Kristus untuk membawa kita bersama dengan-Nya untuk selama-lamanya (1Tes 4:16–17)?[3]
Ayat 24
Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.[8]
Referensi silang: Ibrani 11:5
Masuknya Henokh ke sorga tanpa mengalami kematian menyiratkan bahwa orang yang benar sebelum zaman Abraham memiliki harapan hidup bersama Allah pada masa depan (Ibrani 11:5; bandingkan Ayub 19:25–26; 2Raj 2:10–11).[3]
Ayat 32
Setelah Nuh berumur lima ratus tahun, ia memperanakkan Sem, Ham, dan Yafet.[9]
Apabila Sem, Ham, dan Yafet dilahirkan pada tahun yang sama, maka mereka merupakan anak kembar dan kembar tiga pertama yang tercatat. Namun Kejadian 7:6, 10:21, dan 11:10 dianggap membuktikan bahwa Sem lebih muda dua tahun dari Yafet,[10] sementara Ham tidak disebutkan urutannya di antara saudara-saudaranya.
¹: Nama-nama istri ini dikutip dari Kitab Yobel, tidak dicatat dalam Kitab Kejadian.
²: Berdasarkan ayat 22dan 24, kebanyakan tafsiran, termasuk Perjanjian Baru dalam Surat Ibrani, percaya bahwa Henokh tidak mengalami kematian, melainkan "diangkat oleh Allah" langsung ke sorga pada usia 365 tahun.[11]
Referensi
↑W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 979-415-815-1, 9789794158159
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857
123The Full Life Study Bible. Life Publishers International. 1992. Teks Penuntun edisi Bahasa Indonesia. Penerbit Gandum Mas. 1993, 1994.
↑John Skinner, A Critical and Exegetical Commentary on Genesis, T&T Clark, Endinburgh (original edition 1910, this edition 1930), p. 134.