Di bagian awal (sampai ayat 4a, yang merupakan kelanjutan dari pasal 1) Sang Pencipta disebut dengan nama "Allah" (bahasa Ibrani:אלהיםcode: he is deprecated , ’ĕ·lō·hîm).
Mulai ayat 4b sampai pasal 3, Sang Pencipta disebut dengan nama "TUHAN Allah" (bahasa Ibrani:יהוה אלהיםcode: he is deprecated , Yahweh’ĕ·lō·hîm).
Sejumlah orang menganggap catatan penciptaan di Kejadian pasal 1 dan pasal 2 sebagai dua kisah yang berbeda, bahkan ada yang menganggapnya kontradiksi. YesusKristus tidak menganggap kedua kisah itu kontradiktif, karena di Injil Matius pasal 19 Ia mengutip dari kedua pasal itu sambung menyambung ketika mengacu kepada pernikahan yang pertama di Kitab Kejadian. Nyatanya, orang-orang Yahudi sepanjang beribu-ribu tahun tidak melihatnya sebagai kisah yang bertentangan (dan mengherankan jika mereka "khilaf" untuk melihatnya sampai begitu lama) Rupanya dugaan kontradiksi itu muncul dari berbagai terjemahan dalam bahasa lain, terutama bahasa Inggris, yang memberi kesan adanya dua kisah yang berbeda. Hal ini dapat dipecahkan dengan melakukan penelitian perbedaan nuansa kata-kata dibandingkan dalam bahasa Ibrani.[3]
Pertanyaan kunci untuk hal ini mungkin mengejutkan: "Apakah kedua kisah itu merupakan riwayat penciptaan?" Kejadian 1 jelas merupakan riwayat penciptaan, tetapi Kejadian 2 rupanya dimaksudkan sebagai riwayat dengan fokus yang berbeda. Adanya kata Ibrani "Toledot" pada Kejadian 2:4 dan Kejadian 5:1, misalnya, mengindikasikan bahwa kisah yang kedua ini merupakan "catatan keluarga" yang didasarkan dari sudut pandang manusia pertama (Adam),[4] bukan dimaksudkan sebagai riwayat seluruh penciptaan.[5]
Meskipun Kejadian 2 bukan merupakan riwayat ciptaan tetapi perbandingan dengan Kejadian 1 menunjukkan bahwa kedua bagian ini dapat saja berasal dari satu penyunting, bahkan penulis yang sama, mengingat keduanya memiliki kemiripan struktur yang khas:
Dengan adanya bukti internal ini, seandainya pun dirasa ada perbedaan antara kedua kisah itu, tampaknya hal itu disengaja, dengan tujuan retorik atau polemik, sehingga bukan merupakan kontradiksi.[6]
Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu,berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. (TB) [8]Pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya. Pada hari ketujuh itu Ia berhenti dari segala pekerjaan yang dibuat-Nya. (TB2)
Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (TB)[12]
Lalu TUHAN Allah menumbuhkan dari tanah berbagai pohon yang menarik dan baik untuk dimakan buahnya, juga pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (TB 2)
"Pohon Kehidupan": Dua pohon di taman ini memiliki kepentingan khusus.
1) "Pohon kehidupan" mungkin dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kematian jasmaniah. Pohon ini dikaitkan dengan hidup kekal dalam Kejadian 3:22 (bandingkan Wahyu 2:7). Umat Allah akan menikmati pohon kehidupan di langit baru dan bumi baru (Wahyu 2:7; 22:2).
2) Pohon "pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat" dirancang untuk menguji iman dan ketaatan Adam kepada Allah dan firman-Nya (lihat Kejadian 2:16). Allah menciptakan manusia sebagai makhluk moral dengan kemampuan untuk memilih secara bebas untuk mengasihi dan menaati sang Pencipta, atau untuk tidak menaati dan memberontak kepada kehendak-Nya.[13]
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas," (TB)[14]
Lalu TUHAN Allah memberi perintah kepada manusia, firman-Nya, "Buah dari semua pohondalam taman ini boleh kaumakan dengan bebas," (TB2)
Perintah ini diberikan kepada Adam sebelum Hawa dijadikan (Kejadian 2:21–22)
Sejak awal sejarah umat manusia terikat dengan Allah melalui iman dan ketaatan kepada Firman-Nya sebagai kebenaran mutlak.
1) Hidup melalui iman dan ketaatan diberikan sebagai prinsip pengatur di dalam hubungan Adam dengan Allah di taman Eden. Adam diingatkan bahwa dia akan mati jikalau melanggar kehendak Allah dan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kejadian 2:17). Ancaman kematian ini harus diterima dengan iman berdasarkan firman Allah karena Adam belum melihat kematian manusia.
2) Perintah Allah (Kejadian 2:16–17) diberikan kepada Adam sebagai ujian moral. Perintah itu menempatkan di hadapannya suatu pilihan yang tegas dan sengaja untuk percaya dan taat, atau tidak percaya dan tidak menaati kehendak Penciptanya.
3) Selama Adam memercayai firman Allah dan taat, dia akan terus memiliki hidup kekal dan hubungan yang bahagia dengan Allah. Jikalau dia berdosa karena tidak taat, dia akan menuai bencana moral dan kematian (Kejadian 2:17).[13]
[Tuhan memberi perintah kepada manusia:]"Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (TB)[15]
[Tuhan memberi perintah kepada manusia:]"Tetapi buah dari pohon pengetahuan tetang yang baik dan yang jahat, jangan kaumakan, sebab pada saat engkau memakannya, engkau pasti mati." (TB2)
Ayat 17 bahasa Ibrani
Teks Masoret (abad ke-10 M; dibaca dari kanan ke kiri)
ומעץ הדעת טוב ורע לא תאכל ממנו כי ביום אכלך ממנו מות תמות׃
Transliterasi
ū·mê·‘êts ha·da·‘athṭōḇ wā·rā‘, lō ṯō·ḵalmi·me·nū, kî bə·yōm’ă·ḵā·lə·ḵā mi·me·nūmūṯ tā·mūṯ.
Terjemahan harfiah
Tetapi dari pohon pengetahuan baik dan jahat itu, jangan kaumakan daripadanya, sebab pada hari engkau memakan daripadanya akhirnya (akibatnya) engkau berakhir.
Ayat 17 catatan
"Pastilah engkau mati" (bahasa Ibrani:מות תמותcode: he is deprecated , mūṯtā·mūṯ; di mana "mūṯ" berarti "mati" atau "berakhir, binasa") menunjuk kepada suatu "akhir" ("tamat") dari kehidupan alamiah, yaitu kehidupan yang bahagia dan kudus bersama Allah, dan merujuk kepada lebih dari satu jenis "kematian"; bukan hanya "kematian jasmani" (corporeal death), tetapi juga "kematian rohani atau moral" (spiritual or moral death) di mana manusia kehilangan kesalehan semula dan terpisah selamanya dari Allah. Penyebutan kata "mūṯ" dua kali ini menyebabkan orang Yahudi menafsirkan kematian ini adalah berganda, yaitu dalam dunia ini maupun dunia yang akan datang.[16]
Ayat 18
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."[17]
Sebagai "penolong yang sepadan" (bahasa Ibrani:עזר כנגדוcode: he is deprecated , ‘ê·zer kə·neḡ·dōw.; di mana "ezer" artinya "pertolongan, bantuan, penolong" dan "neged" (akar dari kata "kenegedow") artinya "berhadapan, berlawanan (jenis atau muatannya), bersesuaian, padanan"), wanita diciptakan untuk menjadi rekan yang mengasihi dan menolong laki-laki. Selaku rekan ia harus bersama-sama menanggung tanggung jawab laki-laki dan bekerja sama dengannya dalam memenuhi maksud Allah bagi kehidupan laki-laki dan keluarga mereka (lihat Efesus 5:22; lihat pula Mazmur 33:20; 70:6; 115:9, di mana istilah "penolong" dipakai juga untuk menggambarkan Allah).[13]
Ayat 19
Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.[18]
Kata-kata "Lalu ... membentuk" diterjemahkan dari satu kata saja dalam bahasa Ibrani yaitu "ויצר" (wa·yi·tser), yang secara harfiah berarti: "dan telah dibentuknyalah (oleh)...", di mana:
"wa" adalah kata sambung umum yang dapat diterjemahkan di bagian lain dalam Alkitab sebagai "dan", "tetapi", "lalu". Terjemahan "lalu" yang digunakan dalam versi "Terjemahan Baru" ini pernah dianggap menunjukkan penciptaan kedua, dan ini adalah keliru, karena tidak didukung oleh bagian kata yang berikutnya yaitu "yitser".
"yitser" atau "yatsar" (akar kata "Y-TS-R") bermakna "membentuk" atau "merancang sampai jadi" dalam bentuk yang sudah jadi atau selesai.
Dengan demikian kata-kata ini secara tepat mengindikasikan bahwa Tuhan Allah sudah "merancang sampai jadi" segala makhluk hidup yang lain, sebelum Adam dijadikan, tetapi baru setelah Adam sadar akan sekelilingnya, Tuhan Allah membawa makhluk-makhluk tersebut kepada Adam "untuk melihat, bagaimana ia (Adam) menamainya (makhluk-makhluk tersebut)". Jadi tidak ada kontroversi bahwa Allah harus menciptakan lagi burung-burung (hari ke-5) maupun hewan-hewan lain (hari ke-6 sebelum penciptaan manusia) di hadapan Adam, meskipun tidaklah menutup kemungkinan terjadinya peristiwa ini, jika Allah bermaksud menunjukkan kepada Adam, bagaimana Allah menciptakan semua makhluk tersebut.[19]
"binatang hutan" diterjemahkan dari dua kata bahasa Ibrani:חית השדהcode: he is deprecated , kha-yaṯ ("makhluk hidup"; "binatang (hayati)") ha-shā-ḏeh (di "padang"; "ladang"), jadi dapat diartikan, "hewan di padang" (bahasa Inggris:beast of the fieldcode: en is deprecated ).[20] Istilah ini berbeda dengan istilah "binatang liar" bahasa Ibrani:חיתו־ארץcode: he is deprecated , ḥay-ṯōw-’e-rets, yang berarti "makhluk-makhluk hidup di bumi" secara umum, (bahasa Inggris:beast of the earthcode: en is deprecated ) pada Kejadian 1:24. Jadi, tidak semua binatang dibawa kepada Adam pada hari itu, sehingga Adam baru akan mengenal semua di kemudian hari.
Ayat 23
Bahasa Ibrani: ויאמר האדם זאת הפעם עצם מעצמי ובשר מבשרי לזאת יקרא אשה כי מאיש לקחה־זאת׃
Transliterasi Ibrani: wai·yo·mer ha·'a·dam zot ha·pa·'am e·cem me·'a·ca·mai u·ba·sar mi·be·sa·ri le·zot yi·qa·re i·shah ki me·'ish lu·qo·khah-zot.
Terjemahan Baru: Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."[21]
Kata "manusia itu" diterjemahkan dari kata Ibrani "ha·'a·dam" ("ha" adalah kata sandang, diterjemahkan menjadi "itu"; kata bendanya adalah "adam" = "manusia") yang di sejumlah Alkitab terjemahan bahasa Inggris ditulis sebagai nama orang "Adam". Dalam penamaan "perempuan", manusia itu (=Adam) melaksanakan tugasnya memberi nama segala makhluk hidup (Kejadian 2:19). Namun nama yang diberikannya dalam bahasa Ibrani diturunkan dari penamaan dirinya sendiri: "ishah" (= perempuan) diambil dari "ish" (= laki-laki); sepadan satu dengan yang lain.[11]
Sebab-itu berpisahlah-laki-laki, dari ayahnya dan dari ibunya, dan bersatu dengan-perempuannya, dan menjadi daging tunggal.
Ayat 24 catatan
Dikutip oleh YesusKristus sebagaimana dicatat dalam: Matius 19:5; Markus 10:7–8 Dikutip oleh rasul Paulus sebagaimana dicatat dalam: 1 Korintus 6:16; Efesus 5:31
Sejak semula Allah menetapkan pernikahan dan kesatuan keluarga sebagai lembaga pertama dan paling penting di bumi (lihat Kejadian 1:28). Rencana Allah bagi pernikahan adalah satu orang laki-laki dan satu orang wanita yang "menjadi satu daging" (bahasa Ibrani:לבשר אחדcode: he is deprecated , lə·ḇā·śār’e·khāḏ; yaitu, bersatu secara jasmaniah dan rohaniah). Arahan ini menolak perzinahan, poligami, homoseksualitas, kehidupan tidak bermoral, dan perceraian yang tidak alkitabiah (Markus 10:7–9; Matius 19:9).[13] Dalam Surat Efesus 5:32, Paulus mengungkapkan bahwa pernyataan pada ayat 24 ini merupakan suatu "rahasia besar", karena sesungguhnya merujuk kepada "hubungan Kristus dan jemaat.[23] Rahasia yang dimaksudkan adalah kandungan makna bahwa Yesus Kristus rela meninggalkan rumah Bapa-Nya dan kemuliaan sorga yang indah untuk datang ke dunia menyelamatkan "istri" atau "mempelai perempuan"-Nya (yaitu umat manusia) yang telah jatuh dalam dosa dan "najis", dengan penebusan dosa melalui kematian-Nya di atas kayu salib, supaya kemudian Ia dan umat-Nya dapat menjadi satu selama-lamanya.[24]
↑W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 979-415-815-1, 9789794158159
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857