Efesus 5 (disingkat Ef 5) adalah pasalkelimaSurat Paulus kepada Jemaat di Efesus dalam Perjanjian Baru di AlkitabKristen.[1][2] Secara tradisional, surat ini diyakini ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia berada di penjara di Roma (sekitar tahun 62 M), tetapi belakangan ini, terdapat dugaan bahwa surat ini ditulis antara tahun 80 dan 100 M oleh penulis lain yang menggunakan nama dan gaya penulisan Paulus, tetapi teori ini tidak diterima secara luas.[3][4] Bab ini adalah bagian dari nasihat Paulus (Efesus 4–6), dengan bagian khusus tentang bagaimana orang Kristen seharusnya hidup di dunia (4:17–5:20) dan tanggung jawab mereka sebagai rumah tangga (5:21–6:9).[5] Digubah oleh rasul Paulus.[6]
Teks
Surat aslinya diyakini ditulis dalam bahasa Yunani dan ditujukan kepada jemaat gereja di kota Efesus.
Sejumlah naskah kuno tertua terlestarikan yang memuat salinan pasal ini antara lain:
Papirus 46 (diperkirakan dibuat sekitar tahun 200 M)
Efesus 5:22–33 = Kasih Kristus adalah dasar hidup suami isteri
Ayat 5
Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.[7]
Rasul Paulus, seperti halnya jemaat Efesus, tahu dengan pasti bahwa semua orang (baik anggota gereja maupun tidak) yang cabul, tidak kudus, atau serakah (yaitu, lebih mengasihi materi daripada Allah) dilarang masuk Kerajaan Kristus. Hal ini diajarkan dengan keyakinan kuat oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama (Yeremia 8:7; Yeremia 23:17; Yehezkiel 13:10) dan para rasul dan gereja Perjanjian Baru (lihat 1 Korintus 6:9; Galatia 5:21). Orang yang melakukan dosa-dosa tersebut memberikan bukti yang jelas bahwa mereka tidak diselamatkan, tidak memiliki hidup Allah, dan terpisah dari hidup kekal (lihat Yohanes 8:42; 1Yoh 3:15).[8]
Dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. (TB)[9]
Saling merendahkan diri di dalam Kristus adalah suatu prinsip rohani yang umum. Prinsip ini harus diterapkan pertama-tama dalam keluarga Kristen. Ketundukan, kerendahan hati, kelembutan, kesabaran, dan toleransi harus merupakan ciri khas dari setiap anggota keluarga Kristen.[8]
Ayat 22
Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. (TB)[10]
Istri memperoleh tugas yang diberikan Allah untuk membantu dan tunduk kepada suaminya (Efesus 5:22-24). Kewajibannya kepada suami meliputi kasih (Titus 2:4), hormat (Ef 5:33; 1Pet 3:1–2), bantuan (Kej 2:18), kesucian (Titus 2:5; 1Pet 3:2), sikap tunduk (Efesus 5:22; 1Pet 3:5), pengembangan roh yang lembut dan tenang (1Pet 3:4), dan menjadi seorang ibu (Titus 2:4) dan pengatur rumah tangga yang baik (1Tim 2:15; 5:14; Tit 2:5). Tunduknya seorang istri kepada suaminya dilihat oleh Allah sebagai bagian dari ketaatannya kepada Yesus, "seperti kepada Tuhan" (juga lihat Gal 3:28; 1Tim 2:13; 1Tim 2:15; Tit 2:4).[8]
Ayat 23
Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. (TB)[11]
Allah telah menetapkan keluarga sebagai kesatuan dasar sebuah masyarakat. Setiap keluarga harus memiliki seorang pemimpin. Oleh karena itu, Allah telah menyerahkan kepada suami tanggung jawab menjadi kepala istri dan keluarga (Efesus 5:23–33; 6:4). Kepemimpinannya itu harus dilaksanakan di dalam kasih, kelembutan, dan tenggang rasa terhadap istri dan keluarganya (Efesus 5:25–30; 6:4). Tanggung jawab suami yang diberikan Allah sebagai "kepala istri" meliputi:
Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. (TB)[12]
Ayat 28
Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. (TB)[13]
Seorang "istri" adalah "satu daging" dengan "suami"-nya, sehingga bukan lagi "orang lain" atau "sesama", melainkan sama seperti "diri sendiri", sebagaimana tertulis dalam ayat 31, yang dikutip dari Kejadian 2:24.
Ayat 31
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.[14]
Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.[15]
Rahasia yang dimaksudkan adalah ayat sebelumnya (ayat 31), yang mengandung makna bahwa YesusKristus rela meninggalkan rumah Bapa-Nya dan kemuliaan sorga untuk datang ke dunia menyelamatkan "istri" atau "mempelai perempuan"-Nya yang telah jatuh dalam dosa dan "najis", dengan penebusan dosa melalui kematian-Nya di atas kayu salib, supaya kemudian kedua pihak dapat menjadi satu selama-lamanya.[16]
↑Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN:9789794159219.
↑John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN:9794159050.