| “ |
“Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu memperoleh konsentrasi (samādhi), memperoleh keterpusatan pikiran (ekaggatā) yang berdasarkan pada keinginan [atau hasrat] (chanda), ini disebut konsentrasi yang dihasilkan dari keinginan. Ia membangkitkan keinginan [atau hasrat] untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan (viriya), mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-rusakannya, meningkatkannya, memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut bentukan-bentukan kehendak berusaha (padhāna-saṅkhāra). Demikianlah [1] keinginan [atau hasrat] ini dan [2] konsentrasi yang dihasilkan dari keinginan ini dan [3] bentukan-bentukan kehendak berusaha ini: ini disebut landasan kekuatan spiritual [atau dasar keberhasilan spiritual] (iddhipāda) yang memiliki konsentrasi yang dihasilkan dari keinginan dan bentukan-bentukan kehendak berusaha.
“Jika, para bhikkhu, seorang bhikkhu memperoleh konsentrasi (samādhi), memperoleh keterpusatan pikiran (ekaggatā) yang berdasarkan pada kegigihan (viriya), ini disebut konsentrasi yang dihasilkan dari kegigihan. Ia membangkitkan keinginan [atau hasrat] untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-rusakannya, meningkatkannya, memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut bentukan-bentukan kehendak berusaha (padhāna-saṅkhāra). Demikianlah [1] kegigihan ini dan [2] konsentrasi yang dihasilkan dari kegigihan ini dan [3] bentukan-bentukan kehendak berusaha ini: ini disebut landasan kekuatan spiritual [atau dasar keberhasilan spiritual] (iddhipāda) yang memiliki konsentrasi yang dihasilkan dari kegigihan dan bentukan-bentukan kehendak berusaha.
“Jika, para bhikkhu, seorang bhikkhu memperoleh konsentrasi (samādhi), memperoleh keterpusatan pikiran (ekaggatā) yang berdasarkan pada pikiran (citta), ini disebut konsentrasi yang dihasilkan dari pikiran. Ia membangkitkan keinginan [atau hasrat] untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan (viriya), mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-rusakannya, meningkatkannya, memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut bentukan-bentukan kehendak berusaha (padhāna-saṅkhāra). Demikianlah [1] pikiran ini dan [2] konsentrasi yang dihasilkan dari pikiran ini dan [3] bentukan-bentukan kehendak berusaha ini: ini disebut landasan kekuatan spiritual [atau dasar keberhasilan spiritual] (iddhipāda) yang memiliki konsentrasi yang dihasilkan dari pikiran dan bentukan-bentukan kehendak berusaha.
“Jika, para bhikkhu, seorang bhikkhu memperoleh konsentrasi (samādhi), memperoleh keterpusatan pikiran (ekaggatā) yang berdasarkan pada penyelidikan (vīmaṁsa), ini disebut konsentrasi yang dihasilkan dari penyelidikan. Ia membangkitkan keinginan [atau hasrat] untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan (viriya), mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-rusakannya, meningkatkannya, memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut bentukan-bentukan kehendak berusaha (padhāna-saṅkhāra). Demikianlah [1] penyelidikan ini dan [2] konsentrasi yang dihasilkan dari penyelidikan ini dan [3] bentukan-bentukan kehendak berusaha ini: ini disebut landasan kekuatan spiritual [atau dasar keberhasilan spiritual] (iddhipāda) yang memiliki konsentrasi yang dihasilkan dari penyelidikan dan bentukan-bentukan kehendak berusaha.” |
” |