Dorothea Rosa Herliany[1][2][3] (lahir 20 Oktober 1963) adalah adalah seorang sastrawan dan penyair terkemuka berkebangsaan Indonesia[4]. Ia dikenal luas melalui karya-karyanya yang mendobrak konvensi sastra konvensional, menyuarakan kritik sosial yang tajam, serta mengangkat isu-isu perempuan, tubuh, seksualitas, dan ketidaksetaraan kekuasaan politik dengan gaya bahasa yang lugas, puitis, dan penuh kelembutan terselubung[5].
Biografi dan Latar Belakang
Lahir di Magelang, Jawa Tengah[6][7], ia dibesarkan dalam keluarga penganut Katolik. Latar belakang kultural dan pengalaman hidup di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia turut memperkaya sudut pandangnya terhadap realitas sosial[8]. Ia mulai menulis secara aktif sejak usia 16 tahun[9].
Kiprahnya di kancah sastra Indonesia[10] mulai menarik perhatian luas saat menerbitkan buku kumpulan puisi pertamanya, Nyanyian Gaduh, pada tahun 1987. Kritikus sastra memposisikannya sebagai salah satu tokoh penting dalam "Generasi Kedua" sastrawan Indonesia pascakolonial—generasi yang tidak mengalami masa penjajahan secara langsung, namun bergulat dengan dinamika masa Orde Baru hingga era reformasi[5].
Gaya dan Tema Penulisan
Karya-karya Rosa[11] sering kali membalikkan tatanan nilai patriarki dan norma agama yang mapan di Indonesia. Alih-alih memposisikan perempuan sebagai objek yang pasif atau takluk, sajak-sajaknya menampilkan sosok perempuan sebagai penakluk, pencari, dan agen perlawanan yang aktif.
Meski karya-karyanya lantang menyuarakan emansipasi, Rosa secara konsisten menolak disebut sebagai "penulis feminis" dalam pemaknaan Barat[12]. Ia menegaskan bahwa tujuannya adalah memberikan suara kepada kaum marjinal dan mereka yang terbungkam, serta menyuarakan penciptaan masyarakat yang egaliter dan manusiawi[13].
Selain isu gender, puisi-puisinya kerap merekam gejolak sejarah dan politik Indonesia modern dengan pendekatan simbolis yang tidak bersifat pamflet politik, melainkan perenungan mendalam atas realitas dan memori kolektif. Menurutnya, realitas dalam karya sastra bukanlah fakta mentah, melainkan bentuk imajinatif yang terbuka untuk berbagai interpretasi baru oleh pembaca[14].
Kiprah dan Pengakuan Internasional
Dorothea Rosa Herliany[15] merupakan salah satu penyair Indonesia yang karya-karyanya paling banyak diterjemahkan dan diapresiasi di dunia internasional[16]. Ia telah menerima berbagai penghargaan sastra bergengsi di dalam dan di luar negeri[17] seperti Penghargaan South East Asian (S.E.A.) Writers Award dari Kerajaan Thailand (2025)[18].
Pada tahun 2009, antologi puisinya diterbitkan dalam edisi dwibahasa (Indonesia-Jerman) dengan judul Schenk mir alles, was die Männer nicht besitzen. Pada tahun yang sama, ia menerima beasiswa residensi dari Heinrich Böll Foundation[19].
Namanya semakin mendunia ketika ia terpilih sebagai penerima penghargaan dan program residensi dari Berliner Künstlerprogramm des DAAD[20] di Berlin pada tahun 2013. Keterlibatannya dalam kancah sastra global semakin diperkuat melalui partisipasinya di berbagai festival sastra internasional, termasuk Internationales Literaturfestival Berlin (ILB).
Karya-karya terjemahan dan buku-buku sastranya[21] diterbitkan di berbagai negara untuk menjembatani dialog antar-kultur, antara lain:
Aus der Somme Stirn (Kumpulan puisi dwibahasa Indonesia-Jerman, Berliner Künstlerprogramm des DAAD, 2014[22])
Hochzeit der Messer (Verlagshaus Berlin, 2015)[23]
Kill the Radio (Arc Publications, Inggris)
Karyanya juga beririsan dengan ranah multidisiplin, seperti kolaborasi lintas seni pertunjukan dan musik bersama musisi internasional seperti Jen Shyu (Para Pembakar Ombak / Burning the Waves)[24].
Sebuah Radio Kumatikan, Kill The Radio (kumpulan puisi, bilingual Indonesia-English, 2001).
Para Pembunuh Waktu (kumpulan puisi, 2002).
Life Sentences (selected poem, English, 2004).
Kill The Radio (poetry book, Arc Publication, London, 2007)[28].
Santa Rosa (kumpulan puisi bilingual Indonesia-English, 2005).
schenk mir alles, was die Männer nicht besitzen. doch schenk mir nicht das Himmelreich/beri aku semua yang dibutuhkan lelaki, tapi bukan surga (poesie, Indonesisch und Deutch, multi media dengan CD ROOM) Germany, 2009.
Cuma Tubuh Cuma Tubuh, A Body Only A Body (kumpulan puisi bilingual, Indonesia-English, 2013).
Morphology of Desire (selected poems, English, 2013).
Aus der Somme Stirn, Indonesisch und Deutch (Berliner Kunstlerprogramm des DAAD, Berlin (2014).
Married to the Grass (poetry book, English, limited edition for Frankfurt Book Fair, 2015).
Hochzeit der Messer, Nikah Pisau (poesie, Indonesisch und Deutch, Berlin Verlag, 2015)[29].
Seed, Arrows and Stars (English edition of Isinga, novel, limited edition for Frankfurt Book Fair, 2015.
Der Gerechte König Und Die Mücke und andere Indonesische Volksmärchen und Legenden (Übersetzung von Volkserzählungen ins Deutsche, limitierte Auflage zur Frankfurter Buchmesse, 2015.
Penghargaan
Sastrawan Terbaik dari Persatuan Wartawan Jawa Tengah (1995).
Budayawan Terbaik dari Pemerintah Daerah Magelang (1995).
Satu Dari 19 Wanita Ternama 1997, Majalah Femina (1997).
Pemenang Buku Puisi Terbaik untuk buku Mimpi Gugur Daun Zaitun, dari Dewan Kesenian Jakarta (2000).
Menerima grant residensi dari Asialink dan La Trobe University (3 bulan, 2000).
Menerima grant residensi dari US Department of State, Bureau of Educational and Cultural Affairs, untuk mengikuti program International Visitor Program of United States (2 bulan, 2004).
Anugerah Seni dari Kementrian Pendidikan dan Pariwisata RI (2004).