Kehidupan pribadi
Afrizal Malna menyelesaikan pendidikan SMA pada tahun 1976, tetapi baru pada 1981 ia melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, sebagai mahasiswa khusus, hingga pertengahan dikeluarkan pada tahun 1983.[5] Selama kurang lebih sepuluh tahun ia bekerja di perusahaan kontraktor bangunan, ekspedisi muatan kapal laut, dan asuransi jiwa. Sekarang lebih banyak berkiprah di bidang seni sebagai penulis esai sastra, kurator seni rupa, dan penyair.[6] Puisi, cerita pendek, dan esai sastranya dimuat di berbagai media massa antara lain Horison, Kompas, Berita Buana, Republika, Kedaulatan Rakyat, Tempo, Jawa Pos, Surabaya Post, Pikiran Rakyat, Ulumul Qur'an, dan lain-lain.[1] Tema puisi Afrizal Malna yang menonjol adalah pelukisan dunia modern dan kehidupan urban, serta objek material dari lingkungan tersebut. Korespondensi antarobjek itulah yang menciptakan nuansa dan gaya puitiknya.[2] Imaji-imaji dalam kehidupan sehari-hari, secara berdampingan ditampilkan secara gaduh, hiruk-pikuk, hampir-hampir chaotic, kacau balau, semrawut, tecermin dalam judul-judul puisinya, seperti: Antropologi Kaleng-Kaleng Coca Cola, Fanta Merah untuk Dewa-Dewa, Migrasi di Kamar Mandi, Pelajaran Bahasa Inggris Tentang Berat Badan. Afrizal tertarik pada menemukan hubungan antarobjek dalam puisi-puisinya, mencari—dalam kata-katanya sendiri—suatu “visualisasi tata bahasa atas benda-benda”.[7] Intimasi hubungan rahasia antarobjek tersebut memberikan banyak informasi tentang puitika Afrizal.[7][8][9]
Pada tahun 1981, sebuah naskah dramanya mengantarkan Afrizal menerima penghargaan dalam sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldomreop.[5] Karya dramanya berjudul Pertumbuhan di atas Meja Makan, terpilih dalam Antologi Drama Indonesia yang diterbitkan oleh Yayasan Lontar[10] dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul Things Growing on the Table.[11] Naskah drama tersebut merupakan salah satu contoh representatif untuk karya yang muncul pada era postmodernism Indonesia. Karya ini menentang penggunaan narasi keseragaman yang dibentuk oleh Orde Baru. Dalam karya dramanya ini, Afrizal yang juga bertindak sebagai editor, membangun suatu "perpecahan" dengan memecah belah atau membuat potongan-potongan dialog dari berbagai sumber berlainan, misalnya potongan pidato presiden Soekarno dan wakilnya, Mohamad Hatta, digabungkan dengan dialog Caligula karya Albert Camus dan Sandyakala Ning Majapahit karya Sanusi Pane. Dengan demikian, ia menolak hubungan kausalitas dan struktur naratif, ketika tokoh Suami dan Istri dalam drama ini mengucapkan kutipan potongan-potongan kalimat yang tidak berhubungan tersebut, sekaligus memaksa audiens untuk membangun sebuah cerita bagi diri mereka sendiri.[11][12]
Afrizal juga menulis esai pengantar untuk sejumlah buku karya para sastrawan Indonesia, antara lain Eko Tunas, Juniarso Ridwan, Soni Farid Maulana, Dorothea Rosa Herliany, Made Wianta, dan lain-lain.[1] Esai sastra karyanya yang pernah diterbitkan pada antologi bersama antara lain: Perdebatan Sastra Kontekstual (Ariel Heryanto ed., 1986).[13] Sesuatu Indonesia: Esei-Esei dari Pembaca Tak Bersih adalah salah satu buku kumpulan esainya, diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya pada tahun 2000.[13] Esainya dalam Senimania Republika, Harian Republika, 1994, memenangi Republika Award.[5] Ia juga menjadi pemenang esai di Majalah Sastra Horison pada 1997.[13] Sejak 1983 hingga 1993 menulis teks pertunjukan Teater Sae.[13] Afrizal pernah mengunjungi beberapa kota di luar negeri antara lain Swiss dan Hamburg, sebagai pembicara dalam diskusi teater dan sastra di beberapa universitas, dalam rangka pertunjukan Teater Sae (Mei-Juni 1993) yang mementaskan naskahnya.[13][14][15][16]
Tahun 1995, bersama Beeri Berhrard Batschelet dan Joseph Praba, Afrizal mementaskan seni instalasi Hormat dan Sampah di Solo.[13] Pada tahun 1996 berkolaborasi dengan berbagai seniman dari beragam disiplin mengadakan pertunjukan seni instalasi Kesibukan Mengamati Batu-Batu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.[13] Sedangkan tahun 2003, mementaskan karyanya, Telur Matahari, berkolaborasi dengan Harries Pribadi Bah dan Jecko Kurniawan.[13][17][18]