Avianti Armand lahir di Jakarta, 12 Juli 1969.[8] Sejak usia muda, Ia mempelajari dunia kesenian dengan menulis karya sastra berupa fiksi dan puisi yang dipublikasikan di berbagai media massa. Selain menulis, Avianti Armand juga berprofesi sebagai arsitek sejak tahun 1992. Desain rumah tinggalnya memenangkan Penghargaan IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) pada 2008.[7]
Desain dan arsitektur
Pada 2010, Ia menggagas bengkel kerja dan pameran arsitektur dan kota bertajuk Ruang Tinggal Dalam Kota yang diselenggarakan di Komunitas Salihara. Tahun itu pula Ia ditunjuk sebagai kurator Pameran Arsitek Muda Indonesia.[butuh rujukan]
Pada 2014, Avianti memimpin tim kurator untuk Paviliun Indonesia dalam perhelatan pameran arsitektur internasional, Venice Architecture Biennale, dengan tema Craftsmanship: Material Consciousness.[9][10]
Pada 2015, Avianti menjadi Ketua Komite Desain di pameran buku internasional Frankfurt dań menjadi salah satu kurator untuk pameran arsitektur Indonesia di Museum Arsitektur Jerman (Deutsches Architekturmuseum), Frankfurt, dengan tema Tropicality: Revisited.[11]
Kepenulisan
Sejak 2008, produktivitas Avianti di dunia tulis-menulis semakin meningkat. Kumpulan cerita pendeknya yang pertama, terbit pada 1999 dengan judul Negeri Para Peri.[12] Salah satu cerita dalam buku tersebut memenangi Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas pada 2009.[13] Kumpulan cerita pendeknya yang lain adalah Kereta Tidur.[14]
Kumpulan puisinya yang lain adalah Buku Tentang Ruang dan Museum Masa Kecil, yang mendapat penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2018.[butuh rujukan] Terakhir, Ia menulis seri cerita anak, dalam dua bahasa, yang bertujuan mengajarkan empati sejak dini. Empat buku telah terbit dałam seri empati tersebut: Daddy Has A Secret, One Hair One Angel, Granny Loves To Dance, dan He Says The Nicest Thing.[butuh rujukan]
Selain buku sastra, Ia juga menulis kolom arsitektur yang dikumpulkan dalam buku Arsitektur yang Lain.[15]
Aktivitas sosial lainnya
Pada 2015, Ia menginisiasi program Toilet Publik di Ruang Publik yang mengajak arsitek-arsitek di Jakarta untuk mendesain secara gratis toilet di ruang publik.[16] Insiatif ini membuat Ia mendapat kesempatan untuk berkontribusi mengoordinasi 11 konsultan arsitek untuk mendesain 123 RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) di seluruh pelosok Jakarta pada tahun 2016.[17]
Avianti Armand adalah Asian Cultural Council Fellow 2016 untuk riset dan survey ekstensif tentang museum dan arsip arsitektural di Amerika Serikat.[butuh rujukan] Tahun 2017, bersama Setiadi Sopandi, Nadia Purwestri, dan Ria Febrian, Ia mendirikan Museum Arsitektur Indonesia, dengan laman virtual arsitekturindonesia.org – sebuah repositori arsip arsitektur tentang arsitektur Indonesia.[18]