Aziz Manna lahir di Kota Sidoarjo, Jawa Timur pada tanggal 8 Desember 1978. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di program studi Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Ia telah meminati dunia sastra sejak masih duduk di sekolah menengah. Selama menjadi mahasiswa, ia rutin menulis karya sastra, salah satunya puisi. Pada saat itu pula, ia sudah mulai mengirimkan karyl ma-karyanya ke media cetak.[6]
Selain aktif menulis, ia juga aktif dalam berbagai aktivitas kesenian seperti menjadi aktor teater di beberapa kelompok. Aziz pernah menjabat sebagai ketua Teater Gapus Surabaya, aktivis di Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP), tergabung dalam Sanggar Kopi & Rokok Surabaya, serta mengikuti berbagai kegiatan di Komunitas @rekpilem Surabaya. Selain diterbitkan di berbagai surat kabar di Indonesia, puisi Aziz juga pernah disiarkan di radio JermanDeutsche Welle.[6]
Pada tahun 2008, Aziz Manna mulai terjun ke dalam dunia penulisan secara profesional. Ia mulai mengirim tulisan ke berbagai media, hingga menerbitkan buku. Walaupun pada saat itu, dunia penulisan cukup sulit karena cetakan yang terbatas dan belum tersedianya International Standard Book Number (ISBN).[6]
Penghargaan
Aziz Manna merupakan pemenang kategori puisi pada Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2016. Ia memenangkan penghargaan tersebut lewat kumpulan puisinya yang berjudul Playon. Aziz Manna berhasil mengalahkan empat nominasi kumpulan puisi lainnya, di antaranya yaitu Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi, Sergius Mencari Bacchus karya Norman Erikson Pasaribu, Kawitan karya Ni Made Purnama Sari dan Buku Tentang Ruang karya Avianti Armand.[7]
Dengan latar belakang ia sebagai lulusan Ilmu Sejarah, Aziz Manna kerap menyematkan unsur-unsur sejarah dalam karya-karya tulisnya, terutama puisi dengan tujuan sebagai media pembelajaran dan pengetahuan baru bagi para pembaca.[6]
Karya
Menguak Tanah Kering (GAPUS, 2000)
Kumelambungkan Cintaku (GAPUS, 2003)
Antologi Penyair Jawa Timur
Permohonan Hijau (FSS, 2003-2004)
Antologi Penyair Tiga Wilayah, Festival Mei (FSB dan Institut Nalar Jatinangor, 2005)
Izinkan Aku Menciummu (Gapus, 2006)
Wong Kam Pung (FSS, 2010)
Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang (FS3LP dan Diamond Publishing, 2010)