Korrie Layun Rampan lahir di kota Samarinda pada tanggal 17 Agustus 1953 dari pasangan Paulus Rampan dan Martha Renihay-Edau Rampan, keduanya beretnis Dayak Benuaq.[1] Masa kecil dan remaja Korrie dihabiskan di Kalimantan Timur, ia lulus SD pada tahun 1967. Ia kemudian memperoleh beasiswa dari pemerintah Kalimantan Timur untuk melanjutkan pendidikan menengah pertama dan atas di kota Samarinda dan selesai pada tahun 1970.[1]
Korrie kemudian melanjutkan studinya ke kota Yogyakarta, menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada. Mula-mula ia memilih Jurusan Keuangan dan Perbankan sampai sarjana muda, kemudian beralih ke Fakultas Sosial Politik.[1] Pada 10 Juli 1973, Korrie menikah dengan Hernawati K. L. Dari pernikahannya itu, ia dianugerahi enam orang anak, yaitu (1) Anthoni Ardhy Rampan, (2) Evita Feirin Rampan, (3) Riena Dyaningtyas Rampan, (4) Eliade Rinding Rampan, (5) Dayeng Rinding Renihay Rampan, dan (6) Amalia Rinding Renihay Rampan.[1]
Ia meninggal pada tanggal 19 November 2015 di kota Jakarta, dan dikebumikan di Kutai Barat.[2]
Karier
Korrie memulai minat terhadap dunia sastra semenjak ia duduk di bangku kelas IV SD. Karya yang menarik minatnya kepada dunia sastra adalah Tenggelamnya Kapal van der Wijk karya Hamka. Ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama, Ia senang membaja majalah Sastra, Horison, Cerpen, Budaya Jaya dan Indonesia. Saat SMA, Ia akhit menulis puisi di majalah dinding di sekolahnya. Ia juga pernah mengisi siaran khusus sastra yang bernama Pancaran Sastra di RRI Studio Samarinda.[1]
Pengalaman bekerja Korrie dimulai pada 1978 di Jakarta sebagai wartawan dan editor buku untuk sejumlah penerbit. Kemudian, ia menjadi penyiar di RRI dan TVRI Studio Pusat, Jakarta, mengajar, dan menjabat Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta. Selain itu ia juga pernah menjadi editor Penerbit Cypress (1978-1980) dan editor Penerbit Sinar Harapan (1980-1982).[4] Sejak Maret2001 Korrie menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Sendawar Pos yang terbit di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Korrie juga sempat aktif di bidang politik. Dalam Pemilu 2004 ia sempat duduk sebagai anggota PanwasluKabupaten Kutai Barat, tetapi kemudian mengundurkan diri karena mengikuti pencalonan anggota DPRD. Oleh konstituen, ia dipercayakan mewakili Kabupaten Kutai Barat periode 2004-2009. Sebagai anggota DPRD, Korrie menjabat sebagai Ketua Komisi I. Meskipun telah menjadi angota DPRD, Korrie tetap aktif menulis karena tugasnya sebagai jurnalis dan duta budaya.
Dalam bidang penulisan, ia menulis cerpen, puisi, novel, dan cerita anak. Selain itu, ia juga menerjemahkan sekitar seratus judul buku cerita anak dan puluhan judul cerita pendek dari para cerpenis dunia, seperti Leo Tolstoy, Knut Hamsun, Anton Chekov, O'Henry, dan Luigi Pirandello.
Perjalanan Guru Sejarah (1983) Jakarta: Bahtera Jaya
Matahari Makin Panjang (1986) Jakarta: Bahtera Jaya
Perhiasan Bumi (1986) Jakarta: Bahtera Jaya
Perhiasan Bulan (1988) Ende: Nusa Indah
Perhiasan Matahari (1989) Jakarta: Bala Pustaka
Ratapan (1989) Jakarta: Balai Pustaka
Tak Alang Kepalang (1993) Jakarta: Balai Pustaka
Rawa (2000)
Perjalanan ke Negeri Damai (2003)
Kayu Naga (2007)
Novel anak
Pengembaraan Tonsa di Posa (1981)
Nyanyian Tanah Air (1981)
Lagu Rumpun Bambu (1983)
Cuaca di atas Gunung dan Lembah (1985)
Novel
Upacara (1978)
Lingkaran Kabut (2000)
Perawan (2000)
Wanita di Jantung Jakarta (2000)
Api, Asap, Awan (2002)
Bunga (2002)
Kajian sastra
Puisi Indonesia Kini: Sebuah Perkenalan (1989)
Cerita Pendek Indonesia Mutakhir: Sebuah Pembicaraan (1982)
Kritik Sastra Indonesia Mutakhir (1982)
Perjalanan Sastra Indonesia (1983)
Suara Pancaran Sastra (1984)
Wajah Sastra Indonesia (1984)
Fungsi Sastra, Bahasa, dan Seni Budaya dalam Pembangunan Bangsa (1984)
Kesusastraan Tanpa Kehadiran Sastra (1984)
Puisi Indonesia Hari Ini: Sebuah Kritik (1985)
Sajak-Sajak Rendra dan Angkatan 80 dalam SAstra Indonesia (1985)
Aliran-Aliran Cerita Pendek (1995)
Wanita Penyair Indonesia (1997)
Leksikon Susastra Indonesia (2000)
Sebagai editor
Trisno Sumardjo: Pejuang Kesenian Indonesia (1985)
Iwan Simatupang: Pembaharu Sastra Indonesia (1985)
Nyanyian Ibadah (1985)
Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia
Matahari Sabana
Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia
Penghargaan
Penghargaan yang pernah Korrie terima di antaranya:
Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia pada 2006;
Hadiah Pelopor Sastra Kalimantan Timur dari Pemerintah Kota Balikpapan pada 2009;
Hadiah Citra Darma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI pada 2010;
Penghargaan dari Pemerintah daerah Provinsi Kaltim pada 2012;
Penghargaan dari Komunitas etnis Dayak Benuaq 2012.
Novelnya, Upacara dan Api Awan Asap, meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, 1976 dan 1998. Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Beberapa cerita anak yang ditulisnya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997).[6] Selain itu, sejumlah bukunya dijadikan bacaan utama dan referensi di tingkat SD, SLTP, SMU, dan perguruan tinggi, di antaranya Aliran-Jenis Cerita Pendek.[7]
12Dewan Redaksi Ensiklopedi Sastra Indonesia. (2004). Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu. ISBN 9799012120 hlm. 431
↑Dewan Redaksi Ensiklopedi Sastra Indonesia. (2004). Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu. ISBN 9799012120 hlm. 432-433
↑(Indonesia) Rampan, Korrie Layun (1997). Manusia langit: kumpulan cerita rakyat Kalimantan Timur. Balai Pustaka,. ISBN9796661381. Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)ISBN 978-979-666-138-1