Latar belakang
Dharmadi lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 September 1948. Dia menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, sampai tingkat sarjana muda. Di kenal sebagai penyair yang senang menulis puisi-puisi pendek, tetapi mampu menawarkan imaji yang panjang bagi penikmat puisi-puisinya. Karya-karya puisinya digolongkan bernuansa sufistik. Hal tersebut tak lepas dari kegemarannya yang kerap menuangkan berbagai pengalaman religiusnya sehari-hari ke dalam puisi karyanya.[2]
Selain berkarya, Dharmadi juga aktif di Sanggar Pelangi (1971), Himpunan Penulis Muda Purwokerto (1974), Lingkar Seni dan Budaya (1986) dan Kancah Budaya Merdeka Banyumas (1993). Dalam proses kreatifnya berpuisi kerap memandang bahwa alam itu mempunyai daya. Daya yang ada pada alam itu adalah daya berasal dari Tuhan atau Kuasa Tuhan. Di situlah ia kemudian menggunakan diksi-diksi alam sebagai simbol ritual atau metafora. Kemudian ia mengekspresikan kreativitas dan imajinasinya ketika berbicara mengenai relasinya dengan Sang Khalik dan keterkaitannya dengan alam yang disikapinya dengan penghargaan penuh. Mungkin inilah yang ditangkap oleh pembaca, sehingga puisi-puisinya kemudian digolongkan ke dalam puisi sufistik. Dharmadi lebih banyak menjalani proses kreatifnya ketika menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Purwokerto.[3][4]